Kamis, April 17, 2025

MOBIL PENYOK ADALAH SUATU KENISCAYAAN


Suatu waktu dulu kala, saya pernah mengunjungi Medan untuk alasan pekerjaan. Lalu lintasnya meriah karena lampu merah pun dianggap hanya sebagai hiasan. Dalam satu trip, setidaknya dua kali mobil travel yang saya tumpangi menuju Sibolga dicegat polisi karena melanggar lalu lintas. Itu masih di dalam kota Medan belum sampai luar kota.

Tetapi sesemrawut-semrawutnya Kota Medan saat itu di sekitar tahun 2007 silam, saya tidak melihat banyak mobil yang penyok-penyok atau tergores-gores. Umumnya masih sangat mulus minus bekas pemakaian saja.

Tetapi di Mekkah, Medinah, atau Jeddah yang lalu lintasnya masih lebih tertib dibanding Medan, seringkali terlihat mobil penyok. Baik itu mobil lama bahkan mobil baru. Dari gambaran sekilas itu saya berusaha menebak perilaku pengemudi kendaraan roda empat di Arab Saudi.

Rupanya di sana senggolan atau tabrakan ringan sudah menjadi hal biasa. Entah siapa yang memulai namun yang jelas tidak sampai terjadi perkelahian. Biasanya hanya sampai adu mulut berkepanjangan sampai akhirnya bubar sendiri.

Tahu lah ya kenapa sampai tidak terjadi adu jotos, hukum di Arab Saudi berbeda dengan di Indonesia. Itu saja penjelasan paling ringkas. YTTA.

Perilaku pengendara di Saudi ini menjadi kesan yang melekat saat pertama kali melintasi jalan Jeddah menuju Mekkah. Bis yang kami tumpangi nyaris bersenggolan dengan sebuah mobil SUV yang seenaknya memotong jalur bus. 

Anehnya mereka, pengemudi dan penumpang SUV tersebut yang marah-marah. Bukannya menghindar, mereka mengeluarkan ponselnya dan merekam bis yang melaju di sampingnya. 

Jadi bila sehari setelah itu ada kejadian kecelakaan di jalur yang sama yang menewaskan empat orang jamaah umroh Indonesia, saya bisa meraba penyebabnya dan memperkirakan siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Peristiwa di jalan tol Jeddah - Mekkah sore itu memberi sedikit gambaran bagaimana perilaku para pengemudi di Saudi.

Jadi bila sehari setelah itu ada kejadian kecelakaan di jalur yang sama yang menewaskan empat orang jamaah umroh Indonesia, saya bisa meraba penyebabnya dan memperkirakan siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Peristiwa di jalan tol Jeddah - Mekkah sore itu memberi sedikit gambaran bagaimana perilaku pengemudi di Saudi.

Jadi jangan heran bila melihat banyak mobil bagus yang penyok di beberapa bagian. Bagi orang Arab, senggolan mobil adalah suatu keniscayaan, bahkan mungkin hal yang sudah sangat biasa.

Bandung, 17 April 2025

Ricky N. Sastramihardja


Rabu, April 16, 2025

CATATAN DARI JEDDAH: UMROH ITU UPGRADE CARDIO


Umroh itu ibadah, bukan olahraga. Tetapi untuk melaksanakannya, kita butuh fisik dan stamina yang prima.

Tapi pandangan ini tidak selalu tepat. Selama melakukan thowaf dan sa'i, ternyata realitasnya ada di antara jamaah umroh mereka memiliki keterbatasan fungsi fisik/disablitas atau sedang sakit.

Ada yang di kursi roda karena sedang sakit atau karena jasmaninya memiliki keterbatasan dan kekurangan, ada yang berjalan terpincang karena bentuk kaki yang ditakdirkan sejak lahir berbeda. Begitu juga ada yang ngesot karena bentuk tubuh yang tidak seperti orang lainnya.

Umroh itu undangan Alloh SWT. Bila sudah dipanggil, tak ada alasan untuk mengelak. Lagi bokek dan pengangguran pun bisa berangkat. Mereka yang fisiknya tidak sempurna pun bisa melaksanakan thowaf dan sa'i yang memerlukan daya tahan jasmani.

Bila sudah soal hati yang dirindu Sang Kholik, ketidaksempurnaan tubuh bukan penghalang. Vice versa.

Kembali lagi ke soal cardio, mudah-mudahan (seharusnya) sepulang perjalanan umroh jantung kita lebih sehat. Karena selama di Mekkah dan di Madinah kita selalu dipaksa untuk berjalan kaki dari dan ke mesjid, atau mencari makanan dan jajanan, atau berbelanja.

Mengitari Masjidil Haram yang luasnya lebih 35 ha dengan berjalan kaki tentu butuh effort. Begitu juga mengelilingi Masjidil Nabawi seluas lebih dari 24 ha.

Belum lagi yang doyan belanja-belanja. Mulai belanja serba 1 riyal hingga beli parfum ratusan riyal mengitari banyak kios dan pertokoan alias thowaf shopping.

Untuk thowaf dan sa'i, berdasar pedometer dari hotel hingga ke hotel lagi, tercatat sekitar 15.000 langkah atau bila dikonversi sekitar 10 km.

Jadi umroh tidak selalu soal kekuatan fisik, tetapi juga keteguhan mental. Serta insya Alloh sepulang berumroh, jantung kita lebih sehat dan kuat karena seringnya kita berjalan kaki

Jeddah 7 Syawal 2025/6 April 2025

Ricky N. Sastramihardja 


Semula ditulis di Facebook 6 April 2025

Senin, April 14, 2025

CATATAN DARI MADINAH: SEPATU ATAU SANDAL?


Saya lebih memilih sepatu saat melakukan perjalanan umroh dibanding sandal. Alasannya sederhana saja: lebih nyaman dan aman untuk dipakai berjalan di aspal yang panas dan keras.

Tentu saja di saat umroh telanjang kaki saat thowaf dan memakai sandal saat sa'i. Karena salah satu syarat umroh adalah tIdak mengenakan alas kaki yang menutupi mata kaki. Tapi setelah selesai tahalul, saya memilih menggunakan sepatu untuk berjalan pulang ke hotel.

Jadi bawa sepatu dan sandal sekaligus. Lebih repot tapi nyaman.

Tapi memakai dan melepaskan sepatu cukup memakan waktu. Apalagi sepatu bertali. Harus sedikit bergegas saat melepas-pasang sepatu. Tidak bisa blas-blus seperti sandal atau sepatu jenis loaf in atau selop.

Sepatu akan sangat berguna saat berjalan dengan jarak cukup jauh. Di Mekkah dan Madinah tidak ada angkot apalagi ojeg. Bagi saya berjalan kaki dengan bersepatu di saat terik matahari terasa lebih nyaman.

Apalagi kalau sempat salah jalan atau terpaksa harus berputar. Kaki tidak mudah lelah dan pegal.

Sepatu juga mengurangi resiko kaki tidak kekeringan dan pecah-pecah alias rorombeuheun. Aspal jalanan di Mekkah dan Madinah di siang hari akan sangat menyakitkan dan membahayakan bila dilewati tanpa alas kaki.

Seorang teman jamaah umroh kakinya pecah dan berdarah setelah tanpa sengaja berjalan memutari Masjidil Haram. Ia terpaksa harus berjalan memutar dan lebih jauh sepulang sholat dhuhur karena pengaturan jalan masuk dan jelan keluar oleh otoritas setempat. Ia hanya memakai sendal.

Memakai sepatu juga membuat saya bisa berjalan lebih cepat dibanding saat bersandal.

Perlu diketahui, hampir setiap hari di Mekkah atau Madinah saya berjalan cukup jauh. Pedometer di pergelangan tangan mencatat, sekurangnya berjalan minimal 8000 langkah atau kurleb 6 km per hari. Tentu hal ini tergantung jarak hotel kita dengan masjid.

Berjalan kaki berkilometer tentu lebih nyaman bersepatu daripada sandal. Mengitari masjid Nabawi seluas 24 ha pun lebih bebas pegal, bebas lecet, dan bebas rorombeuheun...

Madinah 6 Syawal 1446H/5 April 2025

Ricky N. Sastramihardja

Semula ditulis di akun pribadi di Facebook 5 April 2025

CATATAN 2 SYAWAL DI MEKKAH: MEKKAH KOTA YANG TAK PERNAH TIDUR


Bila ada pernyataan yang menyebut New York sebagai kota yang tak pernah tidur, mungkin harus berkunjung ke Mekkah.

Selepas romadhon, ternyata settingan Mekkah kembali ke setelan pabrik: semrawut dan padat. Setidaknya di sepanjang Misfalah/Al Hajlah tempat kami menginap yang merupakan salah satu jalan mencapai Masjidil Haram.

Pedagang kaki lima dan pengemis yang tidak terlihat di 10 hari Romadhon, muncul saat 1 Syawal resmi diumumkan. Jalan yang semula digunakan untuk menampung jamaah, kini kembali ke fungsi asal: menjadi akses berbagai macam kendaraan.

Masjidil Harom pun tetap penuh. Setidaknya satu jam sebelum adzan kita harus sudah menuju masjid. Tentu agar dapat tempat sholat di dalam masjid, setidaknya di bagian yang diberi karpet.

Bila di kampung, ke masjid itu menjelang iqomah masih bisa dapat shaf pertama, di Masjidil Haram pasti tidak. Kita harus bersiap sholat di jalan atau di trotoar. Dapat di pelataran/halaman masjid itu sudah sangat beruntung.


Area Kabah pun masih dipenuhi jamaah yang thowaf semenjak setelah sholat ied. Jadi bila ada yang bilang Mekkah/Kabah sepi saat lebaran, mungkin itu cerita di masa lalu. Di 1 dan 2 Syawal 1446 H, tetap full house.

Mencium Hajar Aswad pun pasti tetap penuh perjuangan. Untung saja tidak menjadi rukun umroh/haji.

Denyut kehidupan di Kota Mekkah ini berkaitan dengan data yang dirilis Presidensi Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dirilis oleh Republika dari Saudigazette, Senin (31/3/2025), CEO Otoritas Umum untuk Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Ghazi Al-Shahrani mengatakan, jumlah jamaah umrah mencapai 16.558.241. Sementara, umat Islam yang beribadah di Masjidil Haram berjumlah 92.132.169 orang dan di Masjid Nabawi 30.154.543 orang.

Kehidupan berdenyut selama 24 jam di Mekkah. Mulai antrian masuk masjid, pedagang kaki lima, teriakan askar mengatur jamaah umroh, razia satpol PP Mekkah terhadap PKL & pengemis, restoran dan toko yang tak pernah tutup, serta hilir mudik kendaraan masuk dan keluar Mekkah

Ricky N. Sastramihardja

Semula ditulis di akun pribadi di Facebook 31 Maret 2025

CATATAN 1 SYAWAL DI MEKKAH: MALAM LEBARAN TANPA TAKBIRAN


Berbeda dengan di Indonesia, malam lebaran atau malam takbiran di Mekkah tidak dirayakan dengan takbir berkumandang sepanjang malam hingga pagi.

Takbiran baru berkumandang setelah sholat subuh hingga menjelang sholat idul fitri.

Sedangkan sholat ied terpusat di Masjidil Haram. Bagi yang ingin merayakan di dalam Masjidil Haram, harus sudah berangkat sejak pukul 02.00 dinihari.

Bersama puluhan ribu jamaah lainnya, saya lebih memilih sholat di jalanan Al Hajlah yang menjadi salah satu jalan masuk ke Masjidil Haram.

Tadi malam setelah magrib, bersama teman sekamar saya menyempatkan diri beritikaf sebentar di Masjidil Haram. Masjid yang biasanya dipenuhi jamaah selama 10 hari terakhir romadhon itu suasananya lebih lengang.

Kami diarahkan ke lantai 4 masjid lalu sholat isya berjamaah di sana. Setelah sholat isya, ya selesai. Tidak ada takbiran seperti yang biasa dilakukan di Tanah Air.

Pagi ini, setelah sholat subuh, menjadi kali pertama saya berlebaran jauh dari keluarga, jauh dari tanah air. Suasana yang berbeda yang pertama kali didapat seumur hidup.

Sejak jam 05.00 jalanan sudah penuh dengan jamaah umroh maupun warga Mekkah yang hendak melaksanakan sholat iedul fitri pada jam 06.30 waktu setempat. Begitu juga dengan Masjidil Haram.

Oh iya, 1 syawal di Saudi Arabia dan di Jazirah Arabia tepat jatuh pada tanggal 30 Maret 2025. Hilal terlihat lebih awal dibandingkan di Indonesia.

Taqoballohu minna wa mingkum. Shiyamana wa shiyamakum.

Wilujeng Boboran Siam 1 Syawal 1446H.

Ricky N. Sastramihardja

Semula ditulis di akun pribadi di Facebook 30 Maret 2025

CATATAN JELANG MALAM KE-30 ROMADHON: PORSI JUMBO MAKANAN ARAB


Alhamdulillah tidak ada kendala dengan rasa makanan selama di Mekkah. Terbiasa adaptasi dengan berbagai rasa makanan di tanah air, membuat saya tidak terlalu pilih-pilih soal makanan.

Beberapa rasa yang kurang cocok masih bisa 'dikoreksi' dengan saos sambal yang dibawa dari Indonesia. Sayang saya tidak jadi membawa garam gurih karena khawatir diperiksa bea cukai akibat mirip serbuk 'assoy' alias narkoba.

Tapi tentu masalahnya ada di ukuran makanan yang duh Gusti, meni baradag enjum. Beli nasi putih yang mirip nasi uduk seharga 7 riyal, jumlahnya luar biasa. Bisa untuk 4-5x makan. Dimakan berdua dengan teman sekamar pun enggak habis, akhirnya sisanya terpaksa dibuang setelah 2 hari.

Beli sejenis semur daging, diberi 2 lembar roti yang ukurannya juga over size. Sagede-gede telebug sigana mah...

Pernah sesaat setelah tiba di Mekkah, oleh tim Khidmat travel jamaah diberi sajian ayam Albaik. Buset, itu satu kotak Albaik, kayaknya cukup buat 3 orang.

Ada 3 potong ayam, 1 besar banget segede kepalan tangan Mike Tyson, yang dua lagi seukuran ayam krispi di Indonesia. Sajian itu baru habis setelah 3x makan. Itupun sebagian dibuang karena goreng ayam yang sudah dingin rasanya tidak sip.

Heran dengan porsi makanan yang oversize seperti motor Mio balap 200 cc, ternyata menurut ustad pendamping jamaah, orang Arab pun sering kali tak bisa habiskan makanan.

"Mereka (orang Arab) juga gak bisa habiskan porsi nasi sebanyak itu. Kebanyakan sisanya berakhir di tempat sampah."

Tapi berbeda dengan roti, roti pasti akan selalu dimakan habis karena berkaitan dengan masa lalu. Di mana konon nenek moyang mereka pernah mengalami kesulitan mendapat makanan hingga harus mengais remah-remah roti untuk makan.

Ricky N. Sastramihardja

Semula ditulis di akun pribadi di Facebook 29 Maret 2025

CATATAN DARI MALAM KE-29 ROMADHON: ADA BALA-BALA DI MEKKAH


Pertama kali lihat bala-bala di Mekkah adalah di Cafetaria Al Bahary di samping hotel. Kantin yang mungkin masih franchisenya warteg Bahari ini menyiskan sebiji bala-bala di etalase.

"What's that?," tanya saya pada penjaga kantin.

"Bala-bala," jawabnya.

"What? That bala-bala is from my country", balas saya sambil tertawa.

Bala-bala itu harganya 1 riyal (± Rp. 4500). Ukurannya tunggu kiris, eh tinggi kurus, sudah dingin dan tanpa cengek. Itu masih lebih murah dibanding di Damba, restoran Indonesia di Zamzam Tower. 4 Riyal per biji atau 10 riyal per 3 biji. Gehu alias tahu isi juga dijual di Damba dengan harga yang sama.

Bala-bala ini dijual di beberapa warung makan di Al Hajlah, terutama warung makan Bangladesh seperty Cafetaria Al Bahary, atau di warung makan Pakistan. 

Bahkan di hotel tempat kami menginap, pengelola restoran Indonesia sempat juga menyajikan bala-bala sebagai menu. Rasanya lebih enak daripada bala-bala buatan chef Bangladesh atau Pakistan. Namun tetap tanpa cengek.

Menarik juga saat para penjual makanan ini menyebut nama bala-bala, karena bala-bala mah penamaan khas Sunda. Tidak disebut dengan bakwan, membuat saya curiga bila juru masak yang mengenalkan bala-bala di Tanah Mekkah adalah orang Sunda.😅

Ricky N. Sastramihardja

Semula ditulis di akun pribadi di Facebook 29 Maret 2025