Sabtu, Agustus 20, 2022
500 TAHUN PADRAO SURAWISESA
LEAP OF FAITH
Ternyata menjadi spectator bisa lebih tertekan dibanding sang actor. Sebuah pelukan menjadi pelepas ketegangan sekaligus apresiasi paling jujur, paling spontan, serta kebahagiaan tak terhingga.
Teringat tulisan di baju kaos Sonudemos hari itu: Merdeka harus merdesa.
Sejatinya, kemerdekaan adalah leap of faith. Lompatan kepercayaan. Seperti halnya seorang base jumper yang melompat dari ketinggian tebing dengan bermodalkan kepercayaan diri yang kuat (dan tentunya skill serta peralatan yang layak).
Kemerdekaan adalah leap of faith. Tapi menuju merdesa, adalah jalan panjang yang masih harus dilakukan dan diperjuangkan sepanjang usia. Setelah merdeka kita harus menjadi pelaku, menjadi actor, bukan sekedar spectator. Agar kemerdekaan bisa kita nikmati dengan kemerdesaan.
Merdeka Indonesiaku. Jayalah bangsaku.
#HUTRI77 #DirgahayuIndonesia #BerkibarlahMerahPutihku
Ricky N. Sastramihardja
Rabu, Juni 22, 2022
EVALUASI ATAU ADA YANG MATI LAGI!
Pertandingan Persib vs Persija di ISL 2013 (3 Maret 2013) adalah pertandingan dengan service terbaik dari Panpel Persib. Pertandingan yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat itu sungguh nyaman dan aman padahal partai big match.
Screening dilakukan dalam beberapa lapis hingga hanya penonton yang mempunyai tiket bisa duduk di kursi sesuai nomor kursi. Ya, saat itu SJH baru saja dipasangi kursi dengan nomor duduk.
Stadion pun tidak sepenuh biasanya dalam arti tidak semua kursi terisi. Masih ada beberapa kursi kosong di setiap tribun, termasuk di tribun timur. Ini akibat screening berlapis yang dilakukan aparat hingga tiba di ring 1 hanya bobotoh bertiket saja yang bisa masuk area SJH.
Tetapi kenyamanan itu hanya itu saja, hanya sekali itu saja. Lanjut ke pertandingan berikutnya, saat tiba di tribun saya mendapati kursi saya sudah diduduki orang lain.
Ketika saya meminta orang itu untuk pindah, ringan saja dia menjawab. "Da saur bapa anu berseragam oge bebas calik mah di mana wae," tuturnya.
Saat ditanya soal tiket, ia tidak bisa menunjukkannya. Padahal ia datang bersama 4 atau 5 orang keluarganya.
Hingga terakhir saya ke stadion untuk menyaksikan Persib vs Sriwijaya FC di Liga 1 2017 di stadion GBLA, tidak pernah ada lagi tiket dengan nomor kursi. Pemilik tiket harus adu cepat masuk ke tribun berebut dengan bobotoh tak bertiket yang masuk dengan cara menyuap petugas penjaga tiket.
Bila dihubungkan dengan kejadian kemarin dengan membludaknya Bobotoh di GBLA yang menelan korban jiwa, saya yakin kawan-kawan Bobotoh bisa menarik asumsi siapa yang salah, lalai, dan harus bertanggung jawab atas kejadian ini.
Tidak ada asap tanpa api. Tak ada supply bila tidak demand. Tidak akan ada yang menyuap bila tak ada yang bisa disuap. Penyuapan itu akan berhenti bila petugas menolak suap. Juga bila Bobotoh yang suka 'moncor' sadar diri.
Tetapi kesadaran itu tidak akan terwujud bila sistemnya tidak mendukung. Bobotoh yang menyuap akan sulit terjerat hukum berbeda dengan petugas yang mau disuap. Karena jumlahnya banyak dan tidak teridentifikasi. Akan berbeda dengan petugas pelaksana karena penempatan mereka di setiap gerbang pasti ada perintah dari atas dan ada catatan/log booknya. Siapa koordinator regunya, siapa saja yang bertugas, berapa orang aparat sipil, berapa orang aparat kepolisian/TNI.
Dengan kata lain, pelaksanaan sistem berdasar hukum itu adalah top down, dari atas ke bawah. Dari pucuk ke akar rumput, bukan sebaliknya.Akar rumput yang menongak ke atas akan lebih mudah dikondisikan bila pucuk memberi contoh dan teladan. Menerapkan punish and reward dengan adil dan fair. Petugas gerbang bukanlah penjual tiket tapi pemeriksa dan penyobek tiket.
Saya jadi teringat dengan cerita seorang kawan baru yang berasal dari luar kota Bandung di awal bulan Juni ini "Abdi mah Mang, ka Bandung ngahajakeun lalajo Persib najan teu boga tiket. Soalna nyaho cara ngakalanana, 100.000 teh bisa ku 10 urang asup."
Dengan kejadian meninggalnya dua bobotoh bertiket akibat berdesakan di stadion yang over capacity maka seyogyanya Panpel Persib segera melakukan evaluasi menyeluruh. Tidak hanya Panpel dari PT. PBB saja tetapi juga dari aparat-aparat negara yang diperbantukan dan memang berwenang untuk mengatur masalah keamanan dan kenyamanan.
Bila tidak dilakukan perbaikan sistem terutama mentalitas riswah, permasalahan ini akan kembali terulang. Bukan tidak mungkin akan lebih buruk lagi. Sedangkan berdasar UU Keolahragaan tahun 2022 pasal 54 ayat 4-5, Panpel berkewajiban menjaga keamanan dan kenyamanan para penonton olahraga (baca: suporter) yang memiliki tiket.
Masalah utama bukan pada Bobotoh tak bertiket, karena sejak jaman di Siliwangi pun Bobotoh yang tak bertiket sudah ada. Tidak semua berniat menjebol pintu, sebagian besar malah ingin bertemu rekan-rekannya, bersilaturahmi di luar stadion di saat pertandingan berlangsung.
Ricky N. Sastramihardja II
📷 Ricky, Twitter @oydnnx
Selasa, Juni 07, 2022
MARHABAN YA BAL-BALAN!
Walau sampai saat ini masih belum rilis harga dan kuota tiket, tapi pertandingan perdana 'tarkam' Piala Presiden 2022 antara PERSIB Bandung vs Bali United mengundang antusias Bobotoh.
Maklum, dua tahun tidak nyetadion menjadi kebutuhan tersediri bagi publik sepak bola Bandung. Tidak hanya bobotoh domestik yang berdomisili di Bandung Raya, pertandingan ini juga diincar bobotoh dari luar kota Bandung.
Berkaca dari pertandingan Timnas vs Banglasdesh, sepertinya tiket juga masih akan dijatah. Apalagi status aglomerasi Bandung Raya masih PPKM Level 1.
Semoga panpel pertandingan dan PT. PBB bisa mengelola distribusi tiket dengan baik. Jangan sampai jatuh ke tangan calo yang akan membuat rudet.
Karena pertandingan digelar di GBLA, tentu saja harus disosialisasikan juga ke warga sekitar. Jangan sampai ada akamsi yang minta jatah tiket hingga ribuan dengan dalih untuk warga padahal untuk dijual lagi.
Ini event olah raga profesional, penonton harus membeli tiket untuk membantu ekonomi klub dan pemain. Jangan jadi bobotoh yang doyan moncor. Penjaga gerbang tiket juga jangan mangpang-mungpung.
Terserah teknisnya bagaimana, mau tiket konvensional atau elektronik, hal itu tidak penting. Karena yang penting adalah manajemen di lapangan yang harus beres dan meminimalisir kebocoran agar bobotoh yang membeli tiket bisa menikmati haknya dengan layak.
Marhaban Ya Bal-balan!
Ricky N. Sastramihardja
Senin, Februari 14, 2022
DERBY MATCH, MAKNA KATA YANG MELUAS AKIBAT RIVALITAS
Semula pertandingan derbi pada sepak bola hanya berlaku untuk pertandingan tim sekota atau satu wilayah yang sama. Namun kadang mengalami perluasan makna, menjadi pertandingan antara dua tim dengan rivaltas yang kental.
Perluasan makna ini sepertinya akibat 'salah kaprah' media massa dalam memberi judul dalam berita/isi. Walhasil, tak dapat ditolak, istilah derbi kemudian meluas kemana-mana, bahkan pada klub yang tak memiliki akar sejarah rivalitas yang panjang.
Di Indonesia yang memungut istilah derbi dari bahasa Inggris, derby, ketidaktepatan penggunaan istilah ini sering digunakan. Entah karena kata derbi ini memiliki makna konotasi yang lebih luas, yang lebih menguras emosi para pendukung tim sepak bola. Atau mungkin karena ingin terlihat keren karena keinggris-inggrisan.
Misalnya saja ada yang menyebut derby Jatim untuk Persebaya vs Arema, atau Derby Indonesia untuk Persib vs Persija. Padahal bila dikembalikan ke arti kata sesuai kamus/leksikal, tentu saja istilah tersebut tidak tepat.
Bagaimana tidak, klub-klub itu tidak berada di kota yang sama. Juga tidak berada di satu wilayah yang sama, ada kota lain di antara kota-kota yang 'berselisih'. Sepanjang Surabaya - Malang, ada Sidoarjo dan Purwodadi. Dari Jakarta ke Bandung, ada Bogor dan Cianjur atau Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.
Lebih unik lagi menyebut derby Indonesia untuk pertandingan Persib vs Persija. Ini sudah sangat jauh dari kata semula, karena bila memakai istilah derbi Indonesia, maka semua pertandngan di Indonesia adalah derbi.
Satu-satunya alasan yang (dipaksa) masuk akal adalah karena adanya rivalitas panjang antara ke dua klub. Hingga akhirnya kata derbi mengalami perluasan makna, terutama dipakai oleh media-media.
Uniknya, misalnya, istilah derbi Indonesia ini tidak berlaku pada pertandingan Persib vs PSMS Medan. Padahal rivalitas kedua klub ini di masa perserikatan sangat kuat dibanding Persib vs Persija. Juga tidak berlaku pada pertandigan Persebaya vs PSIS. Derbi di Indonesia seolah hanya menjadi milik Persebaya vs Arema dengan istilah derby Jatim, serta Persib vs Persija dengan istilah derby Indonesia.
Bahkan pertandingan Persib vs PSKC Cimahi atau Persib vs Persikab Kabupaten Bandung juga jarang disebut derbi. Selain karena di keduanya jarang bertemu akibat berbeda kasta, juga karena memang tidak ada rivalitas antara kedua klub. Bobotoh pendukung Persib biasanya ya suporter PSKC juga atau suporter Persikab (Lulugu).
Mungkin, bila dikembalikan ke arti kata derbi secara leksikal, maka pertandingan antara Persija vs Persikabo 1973 seharusnya lebih layak disebut derbi, arena kedua klub tersebut ada di wilayah aglomerasi yang sama/bertetangga. Atau misalnya PSIM Yogyakarta vs Persis Solo, karena keduanya berada di wilayah yang sama/bertetangga, juga karena rivalitasnya yang kuat.
Bila merujuk ke makna leksikal, maka derbi di Liga 1 mendatang dipastikan akan terjadi antara Persita Tangerang vs Rans Cilegon FC yang sama-sama berada di wilayah Banten. Atau bila Rans FC jadi bermarkas di Jakarta Utara, maka Persija vs Rans FC yang layak disebut derbi, seperti halnya Persija vs Persitara Jakarta Utara. Itulah derbi yang sebenar-benarnya derbi.
Ricky N. Sastramihardja
📷 Derby PSKC Cimahi vs Persib Bandung di babak 128 besar Piala Indonesia 2019 di Stadion Wiradadaha, Tasikmalaya. Persib menang tipis 1-2.
Sabtu, Februari 12, 2022
JEJAK TERSEMBUNYI PASSOS DI PENAMPILAN CEMERLANG TEJA
Teja Paku Alam namanya. Semula kehadirannya disangsikan, maklum pemain kelahiran Painan, Sumatera Barat 28 tahun silam ini direkrut di awal 2020 dari tim yang terdegradasi ke Liga 2, Semen Padang.
Namun Teja sepertinya bisa membalikkan anggapan miring itu. Dari 19x penampilannya bersama Persib di Liga 1 2021, Teja membuktikan bila ia menjadi rekrutan pemain terbaik Persib Bandung di era rezim Robert Alberts.
Gawang Persib kebobolan 15x dalam 23 pertandingan dan memasukan 30 gol ke gawang lawan. Minimnya kebobolan Persib ini, selain kontribusi pemain belakang, dipastikan karena penampilan cemerlang Teja.
Berulang kali ia melakukan penyelamatan-penyelamatan penting, bahkan untuk bola-bola yang sulit. Akibatnya Ciro Alves, juru gedor Persikabo 1973, menangis di ujung pertandingan pekan ke-21. Semua tendangan mautnya yang indah, gagal bersarang ke gawang Teja.
Bahkan dari pertandingan pekan ke-24 tadi malam melawan PSS Sleman, Teja layak mendapatkan gelar Man of The Match (MoTM) setelah berulangkali melakukan penyelamatan dari serangan-serangan pemain Sleman. Walau kebobolan satu gol oleh eks rekan satu tim-nya, Wander Luiz, Teja berhasil menjaga kemenangan Persib hingga ujung pertandingan.
Ia juga berhasil menepis tendangan jarak jauh Ramdhani Lestaluhu, yang bila membuahkan hasil, akan mengubah hasil akhir karena terjadi di menit-menit akhir.
Teja menjadi kiper pertama yang meraih gelar pemain bulan Januari 2022 versi TSG/Technical Study Group. Biasanya TSG menganugerahkan gelar individual award pada penyerang atau gelandang. Namun kali ini berbeda, individual award diberikan kepada Teja yang bisa menahan sedikitnya 8 tendangan berbahaya pemain-pemain Persikabo 1973 di pekan ke-21.
Salah satu orang sukses dibalik penampilan cemerlang Teja adalah Gatot Prasetyo. Gatot ini adalah eks kiper Persib yang membawa Persib juara di Liga Indonesia I tahun 1994-1995 silam. Selain itu ada nama tersebunyi di balik jabatan ofisial Video Technical Analyst: Luizinho Passos
Luizinho Passos ini pelatih kiper Borneo FC yang kemudian direkrut Persib Bandung di bulan September 2021 karena Gatot mengundurkan diri karena alasan pekerjaan (Gatot adalah seorang ASN).
Tangan dingin Passos bisa dilihat jejaknya di penampilan M. Ridho (Kiper Borneo FC/Madura United/Timnas Indonesia) dan Nadeo Argawinata (Kiper Bali United/Timnas Indonesia). Di laman Liga Indonesia Baru, disebutkan Passos adalah ofisial tim dengan tugas Video technical Analysis. Bukan pelatih kiper yang masih dipegang oleh Gatot.
Sedangkan di laman resmi Persib Bandung, Passos adalah pelatih kiper. Sedangkan nama Gatot tidak tercantum.
Berkat asuhan Passos, Teja menemukan potensi tersembunyinya. Tentu bukan tanpa kebobolan. Tercatat dari 19 penampilan ia baru kebobolan 9 gol.
Hingga pekan ke-20 berdasar catatan Skor.id 23 Januari 2022, Teja menjadi kiper dengan jumlah rata-rata penyelamatan tertinggi, yakni mencapai 3,69 per laga.
Bukan tidak mungkin, bila Teja konsisten hingga akhir musim ini, ia akan mendapat gelar penjaga gawang terbaik. Tentu hal ini bisa terwujud bila pemain-pemain Persib lainnya juga bermain sepenuh hati dan mengutamakan koletivitas tim. Karena sejatinya penampilan cemerlang Teja adalah berkat kerja sama seluruh pemain, terutama pemain-pemain belakang yang bertugas menjaga pertahanan.
Ricky N. Sastramihardja
📷 PERSIB Bandung




