Senin, April 14, 2025

CATATAN DARI MALAM KE-28 ROMADHON DI MEKKAH


Sholat qiyamul lail di sini itu 10 rokaat untuk taraweh (20.30 - 22.00). Dilanjut tahajud berjamaah 10 rokaat dan 3 rokaat witir (bisa 2+1, bisa langsung 3).

Selain jamaah umroh, warga Mekkah dan warga KSA berbondong-bondong sholat berjamaah walau luber hingga ke jalan raya karena tidak mungkin semua tertampung di Masjidil Haram.

Berjamaah sholat dengan jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia itu sungguh luar biasa.

Enggak ada yang 'berantem' soal jumlah taraweh, apalagi bila dijumlah-jamleh jadi 23 rokaat. Persis seperti yang dilakukan banyak umat Islam di Indonesia.

Dalam riwayat Rosullulloh tidak mewajibkan taraweh berjamaah. Tetapi di Mekkah, taraweh dan tahajud dilakukan berjamaah.

Aneh aja di lingkungan kita di Indonesia ada yang mendebat soal taraweh dan tahajud berjamaah ini. Di Mekkah aja di bulan ramadhan, amal-amalan sunat dilakukan berjamaah kok, di Indonesia malah jadi bahan debat kusir dengan berbagai macam dalih.

Beberapa kali di dalam qunut Imam sholat bersholawat dengan menyebut nama Sayiddina Muhammad. Sedangkan di Indonesia, ada juga kelompok yang bilang 'tidak kaci' bila menyebut nama Sayiddina Muhammad. 

Banyak pula jamaah yang isbal, gulung celana, atau gulung lengan baju agar lebih nyaman. Kalau dari perawakan dan bahasanya mereka orang Arab. Tapi tidak dibid'ah-bidah'kan oleh jamaah lain. Enggak kayak di onoh yang soal celana aja bisa berantem berabad lamanya 😅

Ricky N. Sastramihardja

Semula ditulis di akun pribadi di Facebook 28 Maret 2025

Sabtu, April 12, 2025

PERANG UHUD DAN PERANG BUBAT


Jabal Uhud. Di tempat ini pernah terjadi pertempuran antara kaum Muslimin di Madinah dengan kaum Quraisy Mekkah. Terjadi di tahun ke-3 hijriah, tepatnya 7 Syawal 3 H/23 Maret 625 M. Pada pertempuran ini umat Islam yang dipimpin oleh Nabi SAW mengalami kekalahan.

Di tempat ini juga ada pemakaman 70 orang sahabat yang syahid pada pertempuran ini. 

Kisah Perang Uhud ini terdokumentasi dengan terperinci sampai sekarang setelah 1400 tahun lebih lamanya. Kekuatan ingatan orang Arab membuat kisah ini tetap terverifikasi kebenarannya hingga sekarang. Tidak hanya lisan tetapi sudah terdokumentasi dalam berbagai naskah tulisan.

Kita bandingkan dengan Perang Bubat antara Majapahit dan Kerajaan Sunda di tahun 1357 M atau 668 tahun lalu. Perang Bubat ini disebutkan terbatas hanya di beberapa naskah kuno. Salahsatunya naskah Carita Parahiangan yang diperkirakan ditulis di akhir abad ke-16.

Perang Bubat ini sampai sekarang menuai pro dan kontra. Sebagian menganggapnya benar terjadi, sebagian menganggapnya dusta. Banyak juga yang skeptis, dan tidak ambil pusing dengan alasan demi keutuhan NKRI.

Menariknya, di tengah pro kontra kisah sejarah ini, ada sekelompok masyarakat fasis yang menganggap dia dan leluhurnya adalah orang-orang hebat.  Saking hebatnya, sekelompok fasis yang sering disebut kaum rahayu ini semakin terang-terangan menghina Kaum Muslimin di Indonesia, juga menghina orang Arab.

Pemakaman 70 syuhada Uhud

Heran saja mengaku lebih hebat dari orang Arab, mengakui ajaran agama leluhurnya lebih benar daripada Islam, tetapi buta akan sejarahnya sendiri yang berjarak hanya 668 tahun. Sedangkan tradisi Islam, mengingat setiap detail peristiwa sejarah agamanya lengkap dengan nama, tahun, tempat dan perincian-perincian lainnya yang sulit dibandingkan dengan sejarah Nusantara dalam kurun waktu yang sama.

Ah jangankan Perang Bubat yang terjadi hampir 7 abad silam, sejarah Persib Bandung yang terjadi di dunia yang sudah tertulis, pun ternyata 'gelap'.

Paling lama sejarah Persib itu dimulai 106 tahun lalu (1919, versi PT. PBB) atau 1933 (versi tradisi historikal-lisan), atau 1934 (versi naskah akademis sumber tertulis satu-satunya).

Bagaimana bisa kaum rahayu ini mengaku diri bangsa Nusantara adalah bangsa yang hebat bila ternyata kita hanyalah bangsa amnesia yang mudah lupa dan abai peristiwa sejarah?

Bandung, 12 April 2025/13 Syawal 1446H

Ricky N. Sastramihardja

Jumat, Maret 14, 2025

KEMBALI MENYOAL KELAHIRAN PERSIB: MENOLAK 14 MARET 1933


Apakah benar Persib lahir 14 Maret 1933? Dari penelusuran Anggalarang dan Atep Kurnia, bukan.

Berdasar arsip koran Sipatahoenan, Atep dan Anggalarang menyebut bila Persib dilahirkan 18 Maret 1934 sebagai hasil fusi (penggabungan) PSIB (Persatuan Sepakraga Indonesia Bandoeng) dengan NVB (National Voetbal Bond).

Tanggalan ini juga tercantum dalam opsi yang disampaikan tim peneliti dari Jurusan Sejarah Unpad seperti dalam Naskah Akademik Hari Jadi Persib hasil riset mereka yang dibiayai Persib di tahun 2023.

"Tanggal 18 Maret 1934 bisa dipertimbangkan sebagai harijadi Persib apabila merujuk pada penggunaan PERSIB sebagainama perserikatan dan/atau klub," demikian tercantum dalam Naskah Akademik Hari Lahir Persib yang ditulis oleh Prof. Kunto Sofianto, Ph.d et.al.

Lalu darimana tahun lahir 14 Maret 1933? Anggalarang menyebut bila kemungkinan berasal dari tulisan R. Ibrahim Iskandar di tahun 1973.

"Satu-satunya keterangan yang menyebutkan bahwa Persib lahir di 14 Maret 1933 adalah berdasarkan keterangan R. Ibrahim Iskandar di “Pasang Surut 40 Tahun Persib” yang dirilis tahun 1973 atau 2 tahun sebelum beliau meninggal dunia," ungkap Anggalarang (Tjatatan Ketjil, 2020).

Kunto juga menyebut bila.."Apa yang diberitakan oleh Sipatahoenan edisi 19 Maret 1934 adalah berita atas peristiwa yang "baru saja terjadi" (kelahiran Persib) sehari sebelum diangkat menjadi berita (disebarluaskan) oleh surat kabar tersebut. Dengan demikian, informasi yang menyebutkan kelahiran Persib pada Maret 1933, terbantahkan oleh fakta yang terdapat pada surat kabar Sipatahoenan edisi 19 Maret 1934."

Jadi jelas bila Persib memang tidak lahir 14 Maret 1933. 
Lalu darimana tanggalan 5 Januari 1919 muncul? Tanggalan ini muncul dalam alternatif kedua yang disampaikan para peneliti dari Jurusan Sejarah Unpad dalam naskah akademiknya itu.

"Alternatif kedua ini merujuk pada tahun kelahiran Bandoengsch Inlansch Voetbal Bond pada 5 Januari 1919. Tanggal tersebut muncul dari analisis terhadap berita Kaoem Moeda, 7 Januari 1919 dan Kaoem Moeda, 30 Desember 1918. Pertimbangan tersebut merupakan kali pertama penyebutan suatu bond atau perserikatan sepakbola bumiputera di Bandung dengan nama Bandoengsch Inlansch Voetbal Bond (BIVB). Sebelum tanggal itu, tidak ditemukan adanya bond atau perserikatan sepakbola bumiputera serupa di Bandung."

Jelas tahun lahir 1919 yang kemudian diklaim PT. PBB sebagai tanggal lahir Persib yang shoheh, justru tidak shoheh (valid). Hanya sebagai klaim untuk melegitimasi Persib sebagai klub yang lahir lebih awal dari PSSI. Agar teori bila Persib sebagai pendiri PSSI di 11 April 1930 terpenuhi.

Jelas BIVB 5 Januari 1919 tidak berhubungan dengan Persib sebagai klub. Tetapi hanya sebagai penanda kelahiran klub sepakbola pribumi (inlansch) di Gemeente (Kotamadya) Bandoeng. 

Bila kemudian disangkutpautkan dengan Persib Bandung sangat wajar karena BIVB ini kemudian menginspirasi lahirnya klub-klub sepakbola pribumi di Bandung dari periode 1919 hingga 1934.

BIVB yang inlansch bukanlah BIVB yang berubah jadi Persib. Hubungan mereka hanyalah sebatas dalam runutan linimasa sejarah perkembangan sebuah kota dan masyarakatnya. Bukan perubahan sebuah klub sepakbola. Teu hil walahir.

Lalu kenapa kemudian PT. PBB mengklaim 5 Januari 1919 sebagai hari lahir Persib? Selain alasan retoris mengambil dari akar sejarah sepak bola pribumi, sebagai pendiri PSSI, juga ditengarai untuk kepentingan bisnis atau ekonomi.

PT. PBB sepertinya merasa akan lebih menguntungkan untuk memonetisasi tahun lahir 1919, karena menjadi menjadi klub 'tua' yang sejajar dengan PSM Makassar (1915) yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. 

Kata centenial terasa lebih bernilai jual karena sudah hidup lebih dari 100 tahun lamanya.

Tentu saja kita Bobotoh mendukung apapun yang dilakukan PT. PBB untuk menjaga roda ekonomi klub. Tetapi memanipulasi sejarah demi ekonomi dan gengsi klub, rasanya tidak elok. 

Barieukeun!

Ricky N. Sastramihardja
14 Romadon 1446 H
14 Maret 2025

📷 Visualisasi ringkasan sejarah PERSIB Bandung yang dibuat Hary G. Budiman di X @hgbudiman 5 Januari 1919.

Selasa, Februari 25, 2025

History of Persib: 21 Tahun Mengumpulkan Data Persib!


Liputan khusus Bobotoh.id kali ini adalah bertemu dan mewawancarai sosok di balik akun Twitter @HistoryofPersib. Sosok yang dipanggil 'Abah' di Twitter ini begitu fenomenal karena memiliki data pertandingan Persib sejak tahun 1933 atau 87 tahun lalu.

Dalam rilis data pertandingan Persib dengan update terakhir November 2019 lalu, tercatat bila Persib sudah melakukan 1768 pertandingan. Pertandingan yang dilalui Persib selain  di masa Perserikatan dan Liga Indonesia, termasuk pertandingan resmi LCA dan AFC, turnamen-turnamen lokal, turnamen internasional, persahabatan, latih tanding, termasuk ujicoba internasional.

Pertandingan pertama Persib Bandung yang berhasil ditelusuri dan dicatat History of Persib adalah tanggal 2 Juni 1933. Pertandingan itu adalah pertandingan tandang  Persib Bandung vs SIVB Surabaya yang dilakukan di Surabaya dalam rangka kejuaraan nasional PSSI tahun 1933.

***

Pertanyaan yang menggelitik adalah bagaimana kemudian History of Persib bisa mengumpulkan data yang yang sangat jarang diketahui itu. Ternyata Abah melakukan riset dengan meneliti koran-koran lokal maupun nasional yang terbit sejak tahun 1933 silam.

"Sengaja riset ke Perpustakaan Daerah Jawa Barat yang dulu mah di Bypass (Soekarno-Hatta, Red.), ke Pikiran Rakyat yang di Kopo, Balai Iklan. Ke Jakarta juga ke Perpustakaan Nasional," sebut Abah kepada Bobotoh.id di kediamannya di bilangan Gede Bage Bandung Timur, Ahad (13/1/2020).

Kegiatan mencari dan mengumpulkan data pertandingan Persib ini ternyata dilakukan sudah sejak tahun 1998 atau sekitar 21 tahun yang lalu. Tentu ini menjadi suatu upaya yang luar biasa yang dilakukan Abah.

Terlebih untuk riset yang dilakukannya ini sebagian besar dilakukan dengan dana dari kantong sendiri. "Dulu sebelum beralih bentuk menjadi akun Twitter dan Instagram, History of Persib adalah proyek yang dilakukan untuk website persibhistory.com," kisah Abah sambil sesekali menghirup rokok kreteknya. 

***

"Pada tahun 1998 saya dan beberapa teman-teman yang bergabung di Viking, mulai tertarik untuk mengumpulkan sejarah tentang Persib Bandung. Kami mulai dari kliping yang dimiliki  salah seorang dari kami. Rencananya dari kliping itu akan menjadi bahan website yang akan mereka bangun.

Namun karena suatu dan lain hal, kliping yang berharga itu malah hilang tak tentu rimbanya. Website yang hendak dibangun pun tidak pernah jadi karena developer website yang turut menghilang bersama kliping tersebut.

Tentu Bobotoh milenial perlu tahu bila tahun 1998 lalu koneksi intenet saat itu adalah berkisar 33-56 kbps (KILOBIT bukan MEGABIT)  yang setara dengan koneksi 1G. Belum ada internet broadband 4G,  koneksi masih terbatas di wilayah-wilayah kota-kota besar saja. Ponsel atau hape juga masih terbatas dan baru terbatas pada layanan suara dan sms saja, belum terkoneksi dengan internet.

Setelah kliping itu hilang, Abah tidak putus asa. Ia pun mengunjungi perpustakaan-perpustakaan hingga bagian arsip koran Pikiran Rakyat. Tantangannya tidak hanya selesai di situ.

Menurutnya di koran-koran jaman dulu belum ada pemberitaan atau rubrik khusus tentang Persib Bandung. "Kadang terselip di pemberitaan klub lain, hanya ada sekitar satu paragraf, tapi saya sudah luar biasa senangnya. Bagaikan menemukan harta karun," kenangnya.

Selain itu mengingat rubrikasi dan redaksional di koran masa lalu sangat terbatas, seringkali datanya tidak utuh atau hanya sekilas. "Tidak ada data nama pelatih, tidak ada nama-nama starter, paling ada misalnya siapa yang membobol gawang."

***

Lebih lanjut Abah menyebut bila hobi yang dilakukannya selama 20 tahun lebih ini bagaikan bermain puzzle. "Seperti mengumpulkan potongan-potongan puzzle. Begitu menemukan suatu data yang mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain, tetapi bisa melengkapi kumpulan data lain yang sudah berhasil dikumpulkan, senangnya luar biasa. Bagaikan menemukan harta karun."

Sebagai periset data independen yang tidak berada di bawah naungan lembaga apapun, Abah menyebut sudah berhasil mengumpulkan sekitar 80% data pertandingan dari tahun 1933. Tentu saja ini menjadi upaya yang luar biasa yang dilakukan Abah karena melakukannya hanya demi sebuah hobi.

Silahkan pakai data yang sudah ada, lanjutkan pekerjaan saya, jangan sampai mulai dari nol lagi. Saling sharing saja, silahkan dipakai tanpa kompensasi biaya apapun. Kebayang kan saya mengumpulkan data selama 20 tahun, jangan sampai mengulang dari awal lagi.

Tentu hobi ini juga harus dibayar mahal, apalagi dilakukan dalam durasi berpuluhtahun. "Ekonomi sempat gonjang-ganjing karena ngagugulung Persib. Bebeakanlah dikomplen kantor, dikomplen keluarga. Walau mungkin saat itu nilainya kecil tetapi karena sering dan juga tidak ada pemasukan dari hobi ini ya sempat masalah juga, " tutur Abah yang mengakui mendapat warisan darah Bobotoh dari almarhum kakek dan ibunya.

Selain mengumpulkan data tentang Persib Bandung, Abah juga mengumpulkan data-data pertandingan tim lain yang berada di kompetisi yang sama sebagai ekosistemnya. Untuk Persib ia bahkan memiliki data pertandingan ujicoba atau laga-laga tidak resmi.

Sedangkan untuk metodologinya Abah mengakui tidak terlalu mementingkan bukti-bukti fisik kliping koran atau potongan berita atau informasi yang ia dapat. Walau demikian ia menyebut bisa mempertanggungjawabkan data yang dimilikinya.

***

Apalagi menurutnya, banyak data fisik yang berceceran kemudian hilang saat berpindah kantor maupun tempat tinggal. Apalagi saat website HistoryofPersib.com yang dibangun bersama 6 rekannya pada tahun 2013 kemudian kolaps.

"Banyak data di server yang belum terselamatkan, karena otomatis saat hosting tidak dibayar maka data di web pun dihapus. Domain HistoryofPersib.com pun tidak terselamatkan karena memang tidak kita perpanjang," sesalnya.

Untuk rencana selanjutnya History of Persib tetap akan memperluas konten yang dimilikinya dalam bentuk komik dalam waktu dekat ini. Hal ini juga sejalan untuk menutupi biaya riset dan operasional yang menurutnya harusnya bisa terpenuhi dan menunjang keberlangsungan risetnya itu.

"Dulu kan ada RAF (Rahmatullah Ading Affandie, sastrawan Sunda yang juga eks pengurus Komisi Teknik Persib Bandung 1955-1964) yang membuat novel berbahasa Sunda 'Bentang Lapang' (1961). 

"Nah komik ini akan menjadi cerita fiksi dengan berlatarbelakang sejarah Persib Bandung," sebut Abah.

Abah juga mempersilahkan Bobotoh generasi sekarang yang berminat untuk melanjutkan hasil kerjakerasnya selama ini .

"Silahkan pakai data yang sudah ada, lanjutkan pekerjaan saya, jangan sampai mulai dari nol lagi. Saling sharing saja, silahkan dipakai tanpa kompensasi biaya apapun. Kebayang kan saya mengumpulkan data selama 20 tahun, jangan sampai mengulang dari awal lagi." (Bobotoh.id/RCK. Foto: Ist/Twitter HistoryofPersib).

Ricky N. Sastramihardja

Tulisan ini semula dimuat di bobotoh.id, 13 Januari 2020

Ditayangulang untuk pangeling-eling Abah Anggalarang, admin historyofpersib yang wafat hari Senin, 24 Februari 2025 pukul 15:48 WIB di Bandung.

History of Persib: Dari Dulu Bobotoh Itu Tukang 'Ribut'!


Bobotoh Persib memiliki karakteristik yang khas. Salah satunya adalah 'ribut' atau gaduh, baik di dalam dan di luar lapangan pertandingan. '

Bobotoh juga tidak pernah malu mengakui kekurangan klubnya. Bahkan saat Persib terpaksa harus degradasi di tahun 1978, ada buku khusus yang membahas masalah tersebut.

Matak tong heran mun ayeuna nu jaman internet, bobotoh merajai sosmed. Mun aya nu ngomong "bacot di sosmed doang", jawab weh "sia kamana wae?" geus puguh karakter bobotoh mah kieu tibaheula, ribut! Pedah weh ayeuna mah jaman sosmed

Kisah ini diulas oleh akun @HistoryofPersib, Kamis, 20/12/2018. Akun yang sangat detail membahas sejarah Persib Bandung dari masa ke masa itu memulai thread-nya dengan mengatakan bila Persib tidak pernah kehilangan penonton, seburuk apapun kondisinya.

Ribut, da emang kitu nu ngarana pelajo bola mah. Ngan ribut na bobotoh mah cenderung ka kritis. Butut nya butut. Tuluy nyarita topik Persib mah teu saukur dijero tribun, obrolan2 di warkop, tukang cukur dll pasti rame wae mun nyarita Persib, walau teu pada2 wawuh.
History of Persib juga mengulas, salah satu ciri lain Bobotoh adalah sifat kritisnya yang terbangun dari masa ke masa. Tidak hanya di era setelah media sosial dikenal, juga dari puluhan tahun sebelumnya. Di mana komunikasi antar Bobotoh terjalin natural di warung kopi, tukang cukur, dan banyak tempat lainnya.

"Matak tong heran mun ayeuna nu jaman internet, bobotoh merajai sosmed. Mun aya nu ngomong "bacot di sosmed doang", jawab weh "sia kamana wae?" geus puguh karakter bobotoh mah kieu tibaheula, ribut! Pedah weh ayeuna mah jaman sosmed," ulas @HistoryofPersib.


Dalam thread sebanyak 14 tweet itu juga diuraikan bahwa menulis sejarah itu harus benar dan tidak menyembunyikan fakta sejarah. 

"Mun nulis sejarah, nya ditulis apa adanya.. jujur. Teu disumput2, walaupun nu ditulis aib klub sorangan. Tadina loba nu teu apal match fixing nu ngalibatkeun pemaen Persib di 60'an. Walau di jaman eta rame, tapi barudak ayeuna teu pada apal. Dibuka deui ku bobotoh jadi weh arapal," kisahnya. (Bobotoh.ID/RCK. Foto: AH)

Ricky N. Sastramihardja

📷 Adam S. Husein/Arsip

Tulisan ini semula dimuat di bobotoh.id, 20 Desember 2018.

Ditayangulang untuk pangeling-eling Abah Anggalarang, admin historyofpersib yang wafat hari Senin, 24 Februari 2025 pukul 15:48 WIB di Bandung.



Kamis, Februari 20, 2025

CERITA DARI PERTANDINGAN PERSIB DI PEKAN KE-23 LIGA 1 2024/2025


Pertandingan melawan Persija Jakarta selalu menyimpan banyak cerita. Pertandingan antara Persib Bandung menghadapi Persija Jakarta memang usai dalam 2x45 menit. Tetapi ceritanya akan bertahan setidaknya hingga pertandingan berikutnya.

Seperti halnya pertandingan putaran ke-2 Liga 1 2024-2025 yang digelar di Stadion Patriot Chandrabaga, Kota Bekasi, 16 Februari 2025 kemarin. Pertandingan tersebut berakhir dengan skor imbang 2-2 (2-0) untuk kedua kesebelasan. Tambahan poin satu angka dari laga tandang membuat Persib semakin nyaman berada di puncak klasemen sementara hingga pekan ke-23. 

Sedangkan Persija Jakarta tertahan di posisi ke-4 setelah di pertandingan lain, Persebaya Surabaya menang tipis 1-0 (0-0) dari PSBS Biak. Sedangkan Dewa United yang di lima pekan sebelumnya meraih kemenangan, tumbang oleh Madura United yang berada di zona degradasi dengan 3-1 (2-0).

Sisa 11 pertandingan membuat Persib Bandung harus semakin bekerja keras dan berfikir cerdas bila ingin mempertahankan gelar juara liga. Badai cedera dipastikan harus dikelola dengan baik oleh coach Bojan Hodak. Dipastikan ia dan staf harus memutar otak untuk memilah dan memilih pemain-pemainnya yang akan akan tampil di 11 pertandingan berikutnya.

***

Lalu apa cerita di balik pertandingan panas Persija vs Persib? Tidak lain adalah adanya tindak kekerasan yang dilakukan 'Begalmania' Jakmania terhadap Bobotoh yang dikabarkan tertangkap menyusup ke dalam stadion. Penyusupan yang dilakukan Bobotoh ini sebetulnya tidak mengherankan karena Stadion Patriot yang digunakan Persija untuk menjamu Persib adalah salah satu kantong Bobotoh Persib di luar Bandung.

Bekasi adalah salah satu kota di Bodetabek yang memiliki jumlah Bobotoh yang banyak.Sehingga bila dikatakan sebagai penyusup rasanya kurang tepat. Sebab Bekasi adalah kota mereka, Stadion Patriot adalah stadion mereka. Menyusup di rumah sendiri akibat regulasi larangan suporter mendukung klub di pertandingan tandang. Apalagi pertandingan dengan tingat rivalitas suporter yang panas, di luar nurul dan di luar prediksi BMKG.

Selain tindak kekerasan di dalam stadion, tindak kekerasan juga terjadi di luar stadion. Sebut saja Asep Abdul Rohman (28 tahun) yang dikeroyok oleh pendukung Persija. Padahal saat itu lelaki asal Sukabumi itu sedang mencari nafkah dengan berjualan tahu Sumedang di sekitaran stadion. Selain menderita luka-luka, Asep juga kehilangan harta bendanya yang dirampok oleh pelaku pengeroyokan.

Hal ini menunjukan sikap rasis yang dilakuan para suporter Persija karena menyangkutpautkan dagangan kuliner khas etnis Sunda dengan dukungan terhadap klub sepak bola. Sudah menjadi rahasia umum bila pendukung Persija umumnya rasis terhadap urang Sunda yang memang hampir 100 % menjadi pendukung Persib Bandung.

Di Stasion Jatinegara, Iwan seorang lelaki paruh baya dikeroyok sejumlah supporter Persija karena ia mengenakan jersey Persib di hari pertandingan itu. Dalam video yang tersebar di media sosial, Iwan berlari menghindari kejaran Begalmania namun tak uruang tertangkap dan dikeroyok. Untung saja petugas keamanan di Stasion Jatinegara sigap melindungi pria berkebutuhan khusus tuna rungu dan tuna wicara itu hingga nyawanya terselamatkan.

Sungguh suatu perilaku yang tidak bisa ditolerir melakukan tindak kekerasan pada kaum disabilitas.

Cerita lainnya: Stadion Patriot Chandrabaga mengalami kerusakan di beberapa tempat. Sebagian pagar pembatas tribun yang rubuh, beberapa kursi stadion yang hilang dan rusak, juga sebagian pagar stadion yang roboh akibat berusaha diterobos oleh Begalmania yang tidak memiliki tiket masuk.

***

Kembali ke pertandingan, keberhasilan Persib Bandung menahan imbang Persija Jakarta dengan skor 2-2 menjadi pertandingan dengan tingkat ketegangan tersendiri bagi para Bobotoh. Betapa tidak, tertinggal 2-0 di babak pertama membuat perasaan menjadi tidak karuan. Apalagi dua gol yang tercipta oleh pemain Persija sepertinya terlalu mudah akibat para pemain Persib yang sepertinya kurang konsentrasi alias malaweung.

Namun gol Nick Kuipers di babak ke-2 membuat asa kembali mekar. Ditambah kemudian, David da Silva berhasil menyeimbangkan kedudukan menjadi 2-2. Skor imbang ini bertahan hingga wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. Hasil ini menyesakkan Persija dan pendukungnya karena jelas mereka gagal menang setelah sempat unggul. Sedangkan bagi Persib dan para bobotoh, tidak jadi kalah dan malah menambah 1 angka membuat perasaan 'bungah' luar biasa.

Hasil imbang inilah yang membuat kerusuahan terjadi di stadion setelah pertandingan berakhir. Selain menyalakan flare, petasan, dan melempar botol, para Begalmania melukai pemain Persib, Tyronne del Pino . Tyronne terkena lemparan botol di pelipisnya saat hendak menuju ke lorong usai pertandingan.

Dari banyaknya kasus yang terjadi di dalam dan di luar stadion,  sudah seyogyanya Komdis PSSI memberikan sanksi setimpal bagi Persija. Baik itu sanksi denda, maupun sanksi lainnya. Sedangkan peristiwa di luar stadion berupa kerusuhan, pengeroyokan, pemalakan, hingga pencurian harus mendapat sanksi pidana dari aparat penegak hukum.

Jangan biarkan para pelaku kejahatan itu melenggang tanpa tersentuh hukum, karena dampaknya akan berlipat ganda di masa depan. Tanpa adanya efek jera, akan sulit mengontrol perilaku suporter. Apalagi bila sudah mengarah ke tindak kriminal.

Pertanyaanya adalah, apakah  Komsis PSSI berani untuk menjatuhkan sanksi bagi Persija? Juga apakah bisa aparat kepolisian menangkap pelaku pengeroyokan  dan kejahatan atas nama sepak bola yang sebetulnya adalah tindak pidana?

YTTA. Biasanya sih Persija selalu bisa berkelit dari hal-hal seperti ini. Seolah dilindungi, seolah kebal hukum. Pelanggaran-pelanggaran seperti ini yang akhirnya menambah durasi cerita setelah pertandingan sepak bola.

Ditambah masifnya propaganda yang dilakukan di medsos dan media massa oleh para suporternya untuk mengalihkan isu tindak kriminal yang sudah mereka lakukan. Belum lagi pembenaran-pembenaran atas tindak rasisme dan kekerasan, yang memang sudah terbiasa mereka lakukan.

Ricky N. Sastramihardja.

📷Simamaung

Jumat, Februari 07, 2025

PEUYEUM YANG ISTIMEWA


Peuyeum adalah penganan yang istimewa. Hasil fermentasi singkong itu selain bisa dikonsumsi secara 'stand alone' juga bisa dikonsumsi sebagai olahan, atau bagian dari 'mix and match'.

Salah satu olahan yang menjadi favorit saya adalah kolek peuyeum singkong. Apalagi dikonsumsi saat berbuka puasa, duh enaknya tidak terkira. 

Sampai suatu ketika, pernah saya mengkonsumsi kolek peuyeum ini selama 3 hari berturut-turut untuk berbuka puasa dan saat sahur. Walhasil di hari ke -4 lambung dan pencernaan mengalami gangguan akibat terpapar peuyeum yang tingkat keasaman tinggi akibat fermentasi.

Peuyeum juga menjadi bagian dari 'mix and match' minuman segar seperti es doger, atau es krim, atau es teler. Rasanya yang asam manis membuat penganan yang kita makan menjadi lebih kaya rasa.

Salah satu penganan olahan dari peuyeum yang paling terkenal adalah Colenak. Colenak yang merupakan akronim dari 'dicocol enak' adalah peuyeum yang dibakar, kemudian dipotong-potong, lalu dicocolkan pada saus gula kelapa atau kinca.

Di dalam bahasa Sunda, peuyeum selain menjadi kata benda untuk hasil fermentasi pada singkong atau ketan, juga menjadi kata kerja. Memeram atau melakukan fermentasi pada buah-buahan yang belum masak, disebut sebagai 'meuyeum'.

Misalnya pada pisang, alpukat, atau buah lain yang dipetik saat masih hijau dan belum terlalu matang. Pisang biasanya dipeuyeum dengan cara dipendam di tanah dengan mencampukan sejumlah karbit. Alpukat biasanya dipeuyeum di tempayan tempat beras selama baberapa hari sampai matang dan empuk. 

Peuyeum juga menjadi alegori buat pekerjaan yang terlalu sering diotak-atik atau lambat dikerjakan yang akhirnya menjadi sia-sia. Misalnya pada kalimat "Febri mah sok loba meuyeum bal, jadi we karebut ku batur." Kalimat tersebut menunjukan bila seorang Febri dianggap terlalu sering menggocek bola sendirian, kurang memberi umpan pada rekannya pada saat bermain bola.

Lalu apakah peuyeum haram atau halal karena mengandung alkohol hasil fermentasi? Menurut ijma berbagai ulama, peuyeum tidak haram walau mengandung alohol. Karena peuyeum singkong tidaklah memabukan, tidak termasuk khamr. Tetapi sepertinya akan berbeda dengan peuyeum ketan yang bila diperam secara berlebihan bisa mengandung alkohol yang memabukkan.

Coba saja kita konsumsi peuyeum singkong sebanyak-banyaknya. Sepertinya tidak akan mabuk tetapi yang ada malah gangguan lambung. Begitu juga dengan peuyeum ketan yang diprodusi dalam waktu normalnya. Lain soal bila peuyeum ketan itu kita peram lebih lama dari biasanya hingga mengandung alkohol.

Ada panduan agar peuyeum yang dikonsumsi tidak menjadi haram karena mengandung alkohol. Seperti dikutip Republika dari Halalcorner, tape ketan yang harus diwaspadai, sementara tape singkong atau peuyeum usahakan cari yang digantung (minim alkohol). Hindari juga peuyeum yang berair karena pasti kadar alkoholnya tinggi.

Peuyeum termasuk makanan olahan bioteknologi sederhana. Fermentasi mengubah glukosa menjadi alkohol, mengubah tekstur singkong menjadi lunak dan manis.

Disebutkan oleh Ilham Choirul Anwar di Tirto.id 8 Maret 2023, bila makanan yang dihasilkan melalui proses fermentasi, umumnya mempunyai nilai gizi lebih tinggi dibanding bentuk asalnya ketika dikonsumsi.

Mikroba yang terlibat dalam fermentasi memecah berbagai komponen kompleks menjadi zat-zat lebih sederhana sehingga lebih gampang dicerna. Mikroba ini juga bisa melakukan sintesis beberapa vitamin kompleks seperti riboflavin, vitamin b12, dan provitamin A.

Itulah yang membuat peuyeum istimewa. Memiliki nilai gizi yang baik dibanding masih berupa singkong. Dalam bahasa, peuyeum bisa berupa kata benda, bisa juga menjadi kata kerja.

Ricky N. Sastramihardja

Bacaan Pengaya:

1. Tape Mengandung Alkohol, Apakah Haram Dikonsumsi Muslim? Rahma Sulistya/Qommaria Rostanti, Republika.co.id; Ahad 26 November 2023. Diakses 7 Februari 2025. https://ameera.republika.co.id/berita/s4pvex425/tape-mengandung-alkohol-apakah-halal-dikonsumsi-muslim

2. Reaksi Kimia pada Fermentasi Tape Singkong & Ketan Jadi Etanol. Ilham Choirul Anwar, Tirto.id; 8 Maret 2023. Diakses 7 Februari 2023. https://tirto.id/reaksi-kimia-pada-fermentasi-tape-singkong-ketan-jadi-etanol-gDiy

3. Tape, Halalkah dikonsumsi? Chairunnisa Nadha, halalmui.org; 1 Maret 2022. Diakses 7 Februari 2025.https://halalmui.org/tape-halalkah-dikonsumsi/