6.20.2021

COVID, VAKSIN, DAN HERD IMMUNITY


100 tahun lalu, wabah flu spanyol melanda dunia. Berbagai catatan menunjukkan bila di Indonesia sedikitnya 1,5 juta jiwa melayang terpapar virus H1N1, embah buyutnya virus Covid-19 sekarang.

Gejalanya sama: influenza berat yang berakhir dengan kegagalan sistem pernafasan/pneumonia. Saat itu belum ada vaksin untuk mencegah penularan virus. Lalu bagaimana virus itu menghilang dan kemudian muncul mutasinya 100 tahun kemudian?

Herd immunity atau kekebalan kelompok, itu jawabannya.

100 tahun lalu  herd immunity tercapai setelah virus  menginfeksi sedikitnya 50% populasi dunia. Harganya mahal: dengan death rate 5% kematian akibat flu Spanyol dikabarkan sedikitnya merenggut 50 juta jiwa.

Ingat, sekali lagi 100 tahun lalu belum ada vaksin untuk virus ini. 

100 tahun kemudian, tepat di masa kita sekarang, cucu buyut H1N1 meneruskan pekerjaan mbah buyutnya. Dengan nama SARS Cov yang turunan langsung H5N1, ia mewabah di mana-mana. Setelah setahun lebih, dicatat 3,86 juta jiwa melayang direnggut virus berbahaya ini hingga opini ini ditulis.

Perbedaan 100 tahun lalu dan sekarang adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang lebih baik. Vaksin tersedia setelah beberapa bulan wabah melanda. Setahu saya, pembuatan vaksin itu lebih cepat dari perkiraan sebelumnya yang menyebut butuh setidaknya 2 tahun untuk pembuatan vaksin.

Lalu berapa banyak yang harus divaksin? Bila merujuk pada teori herd immunity, maka hanya 50-70% penduduk dunia yang harus divaksin untuk menciptakan herd immunity. Artinya bila penduduk dunia 7 M jiwa, maka yang harus divaksin paling banyak 4,5 M jiwa.

Bila angka tersebut diterapkan di Indonesia, maka hanya sekitar sedikitnya 135 juta jiwa yang harus divaksin. 

Jadi pemerintah cukup memastikan 50-70% penduduk Indonesia mendapat vaksinasi agar tercipta kekebalan kelompok. Sisanya, enggak perlu.

Jadi buat teman-teman yang menolak vaksin dengan alasan apapun itu, ada peluang untuk menolak vaksin. 

Biarkan yang 70% berihtiar menggunakan vaksin untuk melindungi yang 30%. Oh ya, saya berharap  masuk ke golongan  70% penerima vaksin walau belum mendapat panggilan hingga opini ini ditulis.

Semakin cepat semakin baik, agar pandemi ini segera berakhir. 

Teman-teman bersama 30% lainnya -manula atau mereka dengan comorbid, anak-anak & remaja, serta mereka yang tidak bisa divaksin dengan alasan kesehatan- cukup duduk-duduk saja santai di rumah.

Saya ingin segera ke stadion buat nonton Persib berlaga, seperti halnya rakyat Hongaria menyaksikan timnasnya berlaga di Euro 2020. Di mana vaksinasi sudah mencapai minimal 50% populasi. Saya juga ingin 'turun ke jalan' menentang kedzaliman tanpa harus waswas lagi saat berada di tengah kerumunan.

Bandung, 20062021

No comments: