Minggu, Desember 29, 2024

GUNUNG PALASARI, MENARIK UNTUK DIDAKI BERSAMA KELUARGA

Gunung Palasari dari Perkebunan Kina Bukit Tunggul

Gunung Palasari dengan ketinggian 1852 m dpl. Salah satu nama gunung yang disebut oleh Bujangga Manik dalam naskah Sunda Kuno yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15.

Sadiri aing ta inya,

leu(m)pang aing ngalér barat

Tehering milangan gunung:

itu ta bukit Karesi

itu ta bukit Langlayang

ti baratna Palasari

Bila Palasari yang disebut Bujangga Manik (Ameng Layaran) itu adalah Gunung Palasari yang berada di kawasan Bandung Timur Laut, tentu menjadi sangat menarik. Dari kutipan naskah di atas, Bujangga Manik sepertinya memandang Palasari dari arah timur, di mana ia bisa memandang juga gunung Lalayang (Manglayang?) dan bukit Karesi.

Apalagi Gunung Palasari kini menjadi gunung yang paling mudah diakses para penggemar kegiatan olahraga luar ruang. Terutama bagi mereka yang ingin merasakan sensasi mendaki gunung dengan biaya ringan, tidak terlalu melelahkan, terutama bagi mereka yang baru mulai suka.

Dari Tenda Biru di ketinggian sekitar 1575 m dpl, bisa didaki dengan memakan waktu tempuh kurang dari 60 menit. Dengan jarak hanya sekitar 1,06 km dan penambahan ketinggian (elevation gain) sekitar 350 m. 


Gunung Palasari yang masih merupakan bagian dari kawasan hutan Bandung Utara, juga bisa dicapai dari Dago Pakar. Jarak menuju puncak dari Bumi Herbal Dago berdasar keterangan para pelari trail yang bertemu di puncak, adalah sekitar 10 km yang ditempuh selama 3 jam.

Gunung Palasari juga merupakan hutan tropis yang masih cukup rapat dengan vegetasi yang beragam. Menjadi salah satu hutan 'beneran' yang masih terawat. Walau pasti terdesak oleh kebutuhan manusia akan lahan pertanian, wisata, atau pemukiman.

Selain itu, Gunung Palasari adalah bagian dari Sesar Lembang yang sedianya memanjang sepanjang kurleb 20 km dari Padalarang hingga Gunung Manglayang.


Bagi para pendaki, tetap disarankan membawa perbekalan yang layak dan secukupnya saat menaiki Gunung Palasari. Terutama air karena tidak ada sumber air di jalur pendakian.

Dari Bandung bisa dicapai melalui jalan Cigending Ujung Berung. Sedangkan dari Lembang, bisa ditempuh melalui jalan Maribaya-Cibodas yang menuju ke arah Cigending.

Jalan sudah hampir 100% dibeton dengan ada perkecualian di beberapa tempat ada sedikit ruas yang rusak akibat longsor atau pergerakan tanah.

Mohon diperhatikan bagi yang membawa kendaraan, kondisi mesin dan rem harus dipastikan prima. Terutama bila hendak turun melalui Tanjakan Panjang dari Palintang ke Cigending.

Ricky N. Sastramihardja

Kamis, Desember 26, 2024

CATATAN DARI PASIR GUHA WALET CIHEA


Panas! Hal itu sangat terasa saat menyusuri jalan mencari Guha Walet yang menjadi destinasi ke dua dalam Geo Urban ke-25, Ahad 22 Desember 2024 kemarin.

Berjalan di tengah hari di perbukitan karst Rajamandala yang terletak di Cihea, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat membuat mood merosot drastis. Saat dicek di altimeter, ketinggiannya sekitar 400 m dpl.

Lebih rendah dari Bandung yang berada di ketinggian 700 m dpl. 

Selain cuaca panas, hawa sekitar juga panas. Mungkin karena berada di kawasan kapur yang pada jaman dahulu kala merupakan lautan. Sepaket dengan Karst Citatah di Kabupaten Bandung Barat  yang menjadi tetangganya.



Apalagi Habib Deni mendadak mengubah destinasi, dari tujuan caving ke gua Walet, diubah menjadi mencari puncak bukit yang ternyata tidak ada jalurnya alias harus mencari jalur sendiri. Padahal saya mendadak sudah membeli helm yang menjadi syarat untuk melakukan kegiatan di dalam gua (speologi/caving).

Sempat salah jalan ke sisi lain tebing yang sama sekali tidak ada jalan setapak menuju gua apalagi puncak. Kecuali mau membuat jalur pemanjatan melewati tebing yang berdiri 90°, yang tentu saja memerlukan skill dan peralatan khusus. 



Beruntung bertemu Bah Ahim, warga setempat yang hendak ke kampung sebelah. 'Dibajak' oleh Habib Deni untuk mengantarkan ke puncak.

Lelaki yang berusia lebih dari 65 tahun itu dengan sigap membawa sebagian kecil rombongan. Termasuk di dalamnya ibu Vin, salah seorang peserta GeoUrban yang juga pelari Bandung Explorer. 

Wanita yang usianya sebaya Abah Ahim itu memang batere alkaline. Ngabret terus, enggak ada habis-habisnya. Saat di Gunung Sangar sepekan sebelumnya, beliau sendiri yang mencapai puncak Mega dari Puncak Sangar dan lalu bertemu di pos 3 saat pulang.



Hanya beberapa orang yang mencapai puncak Guha Walet di ketinggian sekitar 737 m dpl (Peta RBI 1999). Saya, Zarin dan Mang Odik memilih dikerubungi nyamuk di rumpun kebun pisang di lereng di ketinggian sekitar 500 m dpl. Sebagian lainnya balik ke kanan kembali ke titik awal pemberangkatan.

Puncak Guha Walet memang tidak tinggi, lebih cocok disebut pasir atau bukit. Tetapi ia bisa mematahkan semangat, nyali dan motivasi untuk mencapai puncaknya. Selain hawa panas, juga pada siang itu tidak ada angin bertiup sama sekali.


Bahkan hingga di puncak, menurut Mang Andi Layau,  "Euweuh angin-angin acan di luhur gé," katanya. Mang Andi, Bu Vin, Mang Deni, Adira, Baros, Mang Deden, Mang Askur dan Abah Ahim lah yang bisa mencapai puncak tinggi di Cihea itu. Mereka berhasil mengalahkan rasa malas dan udara panas yang membuat keringat deras mengucur tak berhenti.

GeoUrban ke-25 Ahad 22 Desember 2024 kemarin sebelum ke Cihea, adalah mengupas seulas soal Karst Citatah. Bertempat di Tebing 125 bersamaaan dengan kegiatan bersama antara APGI (Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia) juga PGWI (Pemandu geo Wisata Indonesia).

Ricky N. Sastramihardja

📷 Deni Sugandi, Ibu Vin
🎥 Andi Lala

Minggu, Desember 15, 2024

BENDA YANG HARUS DIBAWA SAAT TEKTOKAN


Mendaki gunung atau menjelajah kawasan hutan pergi pulang dalam satu hari kini dikenal sebagai tektokan. Entah dari mana istilah itu, tapi kata tektok cukup berima: tek dan tok.

Tapi  kita abaikan saja asal kata tektok. Tapi jelas bukan dari kata Tiktok. Lebih ingin bercerita apa yang harus dibawa saat tektokan. Lengkap dengan alasannya.

Disclaimer: tentu saja ini preferensi pribadi berdasar pengalaman dan kebutuhan. Setiap orang tentu memiliki kebutuhan berbeda.

1. Senter/headlamp. Benda ini sering diabaikan dengan alasan "ah sebentar aja kok, bakal udah nyampe lagi kok sebelum gelap". Padahal yang namanya aktivitas luar ruang, selalu ada resiko terlambat keluar hutan atau turun gunung sebelum gelap. 

2. Pisau lipat multifungsi.

3. Gunting kuku. Seringkali enggak sadar kalau kuku kaki sudah terlampau panjang hingga baru terasa mengganggu saat dipakai jalan kaki.

4. Peluit. Lebih menghemat tenaga daripada berteriak saat ada kejadian atau peristiwa yang berbahaya dan membutuhkan perhatian. Lebih nyaring juga lebih jauh frekuensi jangkauannya.

5. Pisau belati/bowie. 

6. Tali pita/webbing atau tali berjaket/kernmantel atau tali statik. 5 atau 10 meter, selalu berguna dalam banyak kesempatan. Rapia juga boleh. Bawa secukupnya.

7. Jas hujan sekali pakai atau disposable atau goresek. Bawa dua sekaligus. Lebih ringan daripada membawa raincoat, dan menghemat ruang di daypack.

8. Termos kecil untuk kopi/air panas (bila tidak membawa kompor lapangan).

9. Botol air 600 ml.

10. Water bladder 2 l.

11. Sunglasses

12. P3K dengan obat luka, plester/band aid, panadol, polysilene, juga  perban gulung elastis/elastic bandage.

13. Survival water filter straw.

14. Survival blanket.

15. Garam himalaya. Berguna untuk meredakan kram karena tubuh mengeluarkan natrium lebih banyak melalui keringat saat berkegiatan luar ruang berjam-jam.

16. Korek api gas. Di kondisi survival, api lebih dibutuhkan daripada kuota internet.

17. Power bank dan kabel.

18. Makanan ringan, permen, dan makanan berat.

19. Trekking pole.

20. Notes dan Alat tulis.

21. Topi dan bandana.

22. Keresek untuk membawa sampah kembali pulang ke peradaban.

23. Semuanya dikemas di running vest 10 lt. Bila tidak muat, bisa membawa tambahan daypack kecil 10 l atau tas pinggang 10 liter. Bisa juga dikemas di daypack 30 liter biar lebih ringkas. Bila masih muat bisa ditambahkan flysheet, tripod kecil, gimbal untuk ponsel.

24. Jangan lupa untuk mengunduh peta google offline sesuai kawasan yang dituju di ponsel kita. Tambahkan juga aplikasi Peakfinder (berbayar) dan Mapy.cz (ad ware). Aplikasi-aplikasi itu bisa digunakan tanpa sambungan internet.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Mang Umar




GUNUNG SANGAR: SESANGAR NAMANYA DI MUSIM HUJAN


Jangan menilai buku dari sampulnya. Demikian sebuah pepatah lama yang sepertinya disadur utuh dari pepatah dalam bahasa Inggris: don't judge the book by it's cover.

Begitu juga saat mendaki gunung. Jangan pernah menilai tingkat kesulitan dari tinggi rendahnya sebuah gunung. Atau bukit (basa Sunda: Pasir). Akan cukup 'menyesatkan' menilai dan mengkategorikan 'gunung untuk pemula' bagi gunung yang tingginya kurang dari 2000 m dpl.

Seperti halnya menilai Gunung Sangar yang terletak di Bandung Selatan. Gunung yang saat ini populer didaki berbagai kalangan terutama remaja dan muda usia karena aksesnya mudah dan tingginya 'hanya' 1690 mdpl (1655 m dpl di altimeter berbasis GPS, 1660 m dpl di peta aplikasi Mapy CZ yang berbasis pada peta Rupa Bumi Indonesia/RBI).



Pada pendakian kemarin, Sabtu 14 Desember 2024, cuaca buruk di kawasan Arjasari Kabupaten Bandung, tidak menyurutkan ratusan pendaki pemula maupun bangkotan untuk mendaki gunung Sangar yang sering dianggap 'ramah pemula'. 

Diperhatikan, sedikit sekali mereka menggunakan sepatu hiking, umumnya sepatu running atau sneaker casual. Padahal jalur mulai pos 1 hingga puncak licin parah. Bahkan tidak sedikit yang memakai sendal tali atau sendal jepit.

Jalur pendakian Gunung Sangar memang tidak terlalu terjal, cenderung landai. Bagi yang pernah mendaki Gunung Manglayang di timur Bandung (1818 m dpl), tentu akan tahu bedanya.

Tetapi guyuran hujan membuat jalur landai itu menjadi berbahaya. Tepat di depan mata, seorang ibu terlontar nyaris masuk jurang saat terpeleset. Beruntung sebagian tubuhnya tertahan semak di pinggiran jurang, dan kakinya dipegangi seorang pendaki lain yang masih satu rombongan.

Saat diperhatikan: memakai sneaker running/kasual dengan outsole datar tak bergerigi.



Menjelang puncak, seorang gadis remaja terpaksa harus melepas sepatunya yang jebol. Ngeri rasanya berjalan mendaki dan turun gunung tanpa alas kaki. Selain lebih licin, bebatuan yang tajam, akar serta batang pohon bisa melukai kaki.

Di saat turun, di pos 3 dua orang pendaki senior/master bercerita bila ia terhambat ke puncak karena harus mengevakuasi dulu seorang remaja usia SMP yang patah tangan akibat jatuh terpeleset saat turun dari puncak di antara pos 3 dan pos 2 /tanjakan Ebel.

Itulah beberapa kisah yang seharusnya membuat kita berfikir untuk tidak meremehkan gunung yang tidak terlalu tinggi. Apalagi di waktu musim hujan dengan cuaca buruk yang membuat jalur menjadi sangat licin.

Dari pos pendakian, jalur menuju ke puncak hanya sekitar 2,5 km dengan elevation gain/penambahan ketinggian ±500 m tapi membutuhkan waktu sekitar 2 jam 30 menit. Hal ini disebabkan antrian di beberapa ruas yang licin akibat banyak pendaki yang kesulitan melangkah. 

Bisa dibayangkan jalan setapak yang baru diguyur air hujan kemudian diinjak ratusan pasang kaki. Licin dan berbahaya saat menanjak atau menurun. Bahkan untuk mereka yang menggunakan sepatu hiking atau trail running dengan outsole bergerigi.

Jadi, memang jangan mengganggap enteng sebuah gunung hanya karena ketinggiannya. Cuaca bisa mengubah segalanya. Terlebih  tidak menggunakan sepatu khusus yang lebih layak, tidak berdoa dan melakukan pemanasan/stretching sebelum pendakian.

Ricky N. Sastramihardja

Tim: Mang Deni, Mang Yana Martin May, Mang Umar, Kang Nanang APGI

Sabtu, Desember 07, 2024

JAM MEKANIK: MASA LALU YANG MASIH BANYAK DIBURU


Setelah menggunakan jam tangan digital, quartz, dan smart watch akhirnya kembali mencicipi jam analog mekanik otomatis dengan rotor sebagai sumber energinya.

Bagaimanapun juga, jam mekanik memiliki banyak keajaiban tersendiri di mana di era smart watch yang semakin canggih, jam mekanik harganya malah semakin gila-gilaan, semakin banyak jenamanya (termasuk micro brand), dan semakin mengesankan. Padahal teknologinya tertinggal 100 tahun.

Jam tangan mekanik adalah salah satu keajaiban teknologi di mana manusia berusaha mensiasati dan mengenali waktu. Jenama-jenama dari Cina hadir untuk berbagai kalangan dengan harga dan kualitas bervariasi untuk kantong yang tipis (namun loba kahayang).

Bila beruntung bisa mendapatkan jam mekanik otomatis homage jenama Patek Phillipe Nautilus seharga kurang dari Rp. 150.000 di market place online. Beberapa homage Rolex, Breitling, dll dengan kualitas dan build quality yang bagus bisa didapat mulai dari harga Rp. 400.000 saja.

Memandang mesin jam mekanik otomatis bekerja itu menyenangkan dan menenangkan. Menerawang dalam alam pikiran, bagaimana tenaga kinetik diubah menjadi tenaga mekanik oleh rotor dan membuat mekanisme jam tangan bekerja selama 24 jam ke depan tanpa tenaga listrik seperti pada jam quartz atau digital atau smart watch.

Seperti memasuki dimensi lorong waktu tersendiri.

Beberapa jenama jam mekanik terkenal seperti Rolex, Patek Phillipe, Audemar Piguets, Breitling, dll memasang harga gila-gilaan untuk teknologi yang tertinggal 100 tahun dibanding smart watch.

Dengan bajet minimal di kisaran 1 sampai 10 jutaan, beberapa merk Jepang dengan akurasi yang sebetulnya tidak jauh berbeda bisa didapatkan dengan mudah. Di bawah itu ada beberapa jenama Cina dengan kualitas sesuai harga, bisa didapatkan si kantong tipis.

Menariknya, di dunia jam tangan atau horology, jiplak-menjiplak desain mendapat tempat tersendiri dan tidak merusak pasar desain jam yang dijiplaknya. Sebut saja Rolex Submariner yang desainnya banyak dijiplak jenama lain. Baik secara utuh atau per bagian.

Jiplakan yang umumnya menjiplak bentuk casing dan display itu disebut homage. Homage itu umumnya meniru desain-desain jam mewah (luxury) yang legendaris.

Homage itu bukan barang palsu, tetapi jam dengan jenama tersendiri yang desainnya menjiplak atau terinspirasi dari jenama lainnya. Seiko merilis SKX301 sebagai homage untuk Rolex Submariner. Begitu pula Casio yang merilis Duro MDV-106-1AVCF.

Bila untuk akurasi, jam digital atau jam quartz tentu sangat akurat dibanding jam mekanik. Apalagi smart watch yang dilengkapi banyak fitur yang berguna: mulai sensor cuaca hingga pengukur detak jantung sampai koneksi dengan satelit.

Tetapi jam mekanik dengan segala keterbatasan teknologinya, dengan akurasinya yang payah, tetap memanjakan hati, juga menguras dompet penggemarnya.

Jam mekanik otomatis seolah mengingatkan bila manusia adalah mahluk yang sebetulnya sulit untuk bisa tepat waktu. Mahluk yang tidak akan pernah bisa mengalahkan waktu.

📷Jam tangan Chen Xi, homage Patek Phillipe Nautilus 

Senin, Agustus 26, 2024

CATATAN RINGKAS DARI DISKUSI PUBLIK BAROEANG KA NOE NGARORA


Daeng Kanduruan Ardiwinata namanya. Dari susunan namanya kita menangkap ada perpaduan dua budaya yang berbeda: budaya Makassar dan budaya Sunda, karena D.K. Ardiwinata, demikian ia dikenal, adalah keturunan Makassar- Sunda.

D.K Ardiwinata merupakan seorang sastrawan Sunda yang menjadi tonggak penulisan novel atau roman (prosa) berbahasa Sunda. Pada tahun 1914, terbit sebuah buku novel berbahasa Sunda dengan judul "Baruang Ka Nu Ngarora" (Racun Masa Muda) yang enam tahun terbit lebih awal dibanding novel berbahasa Melayu/Indonesia, "Azab dan Sengsara" karya Merari Siregar (1920).

Dalam penelitian awal saya untuk keperluan skripsi sarjana di prodi sastra Sunda Unpad tahun 1997 silam, saya berasumsi (dan menyimpulkan dari awal) bila novel ini sangat mempengaruhi novel-novel berbahasa Sunda yang terbit selanjutnya. Tentu dengan tidak mengesampingkan novel "Gogoda Ka Nu Ngarora" (Godaan Untuk Kaum Muda) karya M.A. Salmun (1966) yang diklaim sebagai 'sekuel' "Baruang Ka Nu Ngarora".

Dengan metode kajian intertekstualitas, saat itu saya berharap menemukan banyak jejak dari novel "Baruang Ka Nu Ngarora" (selanjutnya: BKN) dalam teks novel yang lain. Secara ringkas, intertekstualitas memandang bahwa sebuah teks yang ditulis lebih kemudian mendasarkan diri pada teks-teks lain yang telah ditulis orang sebelumnya. 

Intertekstualitas merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada sebuah teks sastra. Intertekstualitas dalam karya sastra adalah keterkaitan antara dua atau lebih teks sastra. Hubungan ini dapat mencakup kiasan, kutipan, parodi, terjemahan, dan lainnya.

Sebagai naskah pembanding lain, saya memilih beberapa novel dari beberapa periode yang berbeda. Novel "Rusiah Nu Goreng Patut" (Sukria-Yuhana 1930), "Dedeh" (Yus Rusamsi 1966) dan "Asmaramurka jeung Si Bedog Rajapati" (Ahmad Bakri, 1988). Dalam pengamatan saya, ketiga novel ini dicurigai memiliki banyak jejak dari novel BKN, terutama dari sisi tema yang dominan: percintaan dan permasalah dalam rumah tangga.

Dalam novel "Rusiah Nu Goreng Patut" (selanjutnya RNGP) , misalnya, jejak itu terdapat dalam penokohan tokoh utama, terutama tokoh lelaki. Digambarkan dalam BKN, tokoh utama protagonis (Ujang Kusen) adalah lelaki yang gagah, tampan, kaya raya. Sedangkan antagonisnya (Aom Usman) selain tampan dan berwibawa, kaya, juga anak atau keturunan bangsawan. Sangat bertolak belakang dengan tokoh Karnadi di dalam RNGP: jelek, miskin, tak berpendidikan, dan kurang adab. 

Sedangkan untuk semua protagonis perempuan yang digambarkan para pengarang di semua novel sepertinya adakah tipe perempuan ideal yang menjadi idaman semua lelaki: cantik, ramah, berharta, dan muda.

Bila BKN diterbitkan oleh Balai Pustaka atau Commisie voor de Inlandsche School en Volkslectuur, yang kemudian dianggap sebagai agen kolonialisme Belanda, RNGP diterbitkan oleh penerbit swasta Dachlan Bekti. Bahasan cukup mendetail mengenai hal ini ditulis Ajip Rosidi dalam "Manusia Sunda" (Inti Idayu Press, 1984).


Menariknya, setelah 25 tahun kemudian, setelah tidak menggeluti dunia penelitian sastra dengan intensif karena kesibukan yang berbeda dengan masa studi, novel BKN dan 'varian' interteksnya itu seolah tak bisa lepas dari kepala. Penelitian yang tak usai di masa skripsi karena mendadak harus berganti judul menjelang masa 'injury time' studi di tahun 1999, serasa meninggalkan utang pemikiran di kepala yang tak akan pernah bisa lunas.

Bahkan beberapa tahun setelah lulus saya berkesempatan bertemu dan berkawan dengan salah seorang buyut D.K Ardiwinata: Daeng Tata. Daeng Tata, yang sangat nyunda walau namanya bergelar nama Makassar. 

Tak disangka, Lopian, program yang digelar PDPBS (Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda) Unpad mengelar diskusi pertamanya tentang sastra dengan subyek bahasan utama novel BKN pada hari Rabu, 21 Agustus 2024 pekan lalu. Saya tidak bisa melewatkan diskusi ini dan alhamdulilah bisa hadir dan menyampaikan sedikit pandangan mengenai novel istimewa ini. Tentu tidak secara mendetail dan menyeluruh mengingat keterbatasan waktu, juga waktu yang nyaris mengubur semua sisa ingatan tentang penelitian novel ini.

Karena memang menjadi diskusi pertama dari serangkaian diskusi yang direncanakan, diskusi masih tidak terlalu fokus dengan novel yang menjadi subyek utama bahasan. Masih melebar ke mana-mana, termasuk ngaret 30 menit. Namun sepertinya masih dalam batas yang bisa dimaklumi.

Apalagi sebagai diskusi pemantik, saya rasa memang sangat perlu diadakan pertemuan semacam ini terutama melibatkan masyarakat umum yang bukan kalangan akademis maupun dari komunitas sastrawan. Di mana pengalaman pembaca menjadi kritik yang sangat otentik karena penilaian ini bersifat pragmatik, subjektif dan tidak bisa didikte teori apapun.

Novel BKN ini menjadi novel yang tidak boleh dilewatkan oleh para pembaca sastra Sunda. Di dalamnya terekam bagaimana bahasa Sunda yang digunakan pada masa 110 tahun silam. Bagaimana pandangan normatif pengarang, mewakili masyarakat pada jamannya, tentang banyak hal. Bagaimana kemudian novel ini diantisipasi dalam novel-novel selanjutnya dalam bentuk parodi, antitesis, bahkan upaya imitasi.

Dari sisi perkembangan bahasa Sunda, novel ini juga memberi petunjuk bahwa bahasa Sunda dalam 110 tahun ini tidak berubah struktur tata bahasa, kaidah, dan kosa katanya. Bila ada banyak kosa kata yang dirasa 'asing' bukan berarti menggunakan bahsa Sunda lama.

Bahasa Sunda pada BKN, tidaklah seperti 'old english' dalam sejarah perkembangan bahasa Inggris. Bahasa Sunda pada BKN adalah bahasa Sunda yang dirumuskan pos Mataramisasi Tatar Sunda. Bila ingin mengetahui kosa kata Sunda lama, merujuklah pada naskah-naskah sebelum abad ke-16 sebelum Pajajaran membubarkan diri atau di masa peralihan dari Pajajaran ke Mataram.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Enna Ernawati Sutarna


Rabu, Juli 24, 2024

KOMPLEKS CANDI BATUJAYA, TERTUA DI INDONESIA



Kompleks Candi Batujaya di Karawang. Ditemukan pada tahun 1984 oleh tim arkeologi Fak. Sastra UI. Candi-candi ini diperkirakan berasal dari masa kerajaan Tarumanegara yang beragama hindu.

Kompleks candi budha yang didominasi dengan batu bata ini adalah kompleks candi tertua di Indonesia. Menurut kronologi carbon dating, artefak tertua berasal dari abad ke-2. 

Corak candi budha ini menurut beberapa ahli menunjukan ada pengaruh kerajaan budha terbesar masa itu, yakni Kerajaan Sriwijaya.

Keseluruhan kompleks candi Batujaya ini diperkirakan dibangun hingga abad ke-7 dan ditinggalkan karena tersapu banjir bandang dari Sungai Citarum.

Penemuan candi ini juga menunjukkan hal lain, yakni pada masa itu masyarakat Sunda sudah menanam padi dan tidak berpindah-pindah. Pada batu bata yang digunakan sebagai material utama candi, ditemukan bekas sekam yang digunakan untuk membakar batu bata.

Semenjak awal penelitian dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2006 telah ditemukan 31 tapak situs sisa-sisa bangunan. Penamaan tapak-tapak itu mengikuti nama desa tempat suatu tapak berlokasi, seperti Segaran 1, Segaran 2, Telagajaya 1, dan seterusnya. 

Sampai pada penelitian tahun 2000 baru 11 buah candi yang diteliti (ekskavasi). Laporan Balai Penelitian Cagar Budaya (BPCB) Serang pada tahun 2014 menyebutkan ada 40 situs sisa bangunan (candi) yang ada di kawasan Batujaya.

Hingga tahun 2016 diketahui terdapat 62 unur dan 51 di antaranya terkonfirmasi memiliki sisa-sisa bangunan. 

Banyaknya temuan ini menyisakan banyak pertanyaan yang belum terungkap secara pasti mengenai kronologi, sifat keagamaan, bentuk, dan pola percandian.

dari berbagai sumber

📷 Facebook