Rabu, Februari 05, 2025

MELACAK JEJAK NAMA-NAMA TEMPAT DI BANDOENG TEMPO DOELOE


Entah darimana dan kapan saya mendapati beberapa peta kuno Bandung Kota peninggalan jaman baheula. Satu bertanda tahun 1910 terbitan Topographische Inrichting, Batavia dengan judul "Bandoeng En Omstreken" (Bandung dan Sekitarnya) dengan skala 1:10.000. Satu lagi tak bertanda waktu mungkin terpotong saat pindai dan unggah, berjudul "Kaart van De Gemeente Bandoeng" dengan skala 1:10.000. 

Bila diperhatikan lebih teliti, peta ke-2 lebih muda bebeberapa tahun dibanding peta pertama. Indikasinya sudah ada pemetaan wilayah Kiara Condong dan pabrik gas. Sedangkan di peta pertama yang bertanda 1910 wilayah Kiara Condong belum terpetakan, masih berupa sawah. 

Peta tersebut berformat *.tiff, sudah berwarna, dan berukuran hampir 300 mb per lembarnya. Sayangnya teledor tidak menyimpan tautan atau situs web mana yang menyediakan peta ini. Seingat saya, informasinya semula dari akun Fanspage di Facebook yang mengunggah peta Jakarta jaman kolonial dulu. 


Menarik sekali bila memperhatikan peta pertama. Sudah berwarna, ukuran dan formatnya yang besar memudahkan untuk membaca teks-teks kecil di laptop. Apalagi bila laptopnya sudah menggunakan layar sentuh, membuat penjelajahan peta semakin menyenangkan seperti saat menggunkan tablet atau ponsel.

Masih ada wilayah yang bernama Doengoesmaoeng atau Dungus Maung di wilayah yang kita kenal sekarang berada di kawasan Ciateul, Moh. Toha, Pasirluyu, Kembar Buah Batu. Dungus adalah basa Sunda untuk semak belukar dengan tanaman merambat rimbun, setara dengan ruyuk, rungkun. Bisa diimajinasikan bila dulu kawasan ini menjadi tempat harimau atau maung bersenang-senang mencari mangsa.

Di peta juga disebut ada Hospitaal voor Inlandeer atau rumah sakit untuk warga pribumi. Posisinya di atas Tjilentah yang bila dikonversi sekarang mungkin di sekitar jalan Karapitan atau Buah Batu.

Kebon Kalapa pun tidak hanya di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Kebon Kalapa yang terminal angkutan umum dalam kota. Tetapi ada di beberapa tempat. Selain di kawasan antara Astana Anyar dan Jalan Otista dekat Tegallega, juga sekitar Babakan Ciamis sekarang. 

Uniknya di kawasan Otista -Astana Anyar ada kampung atau wilayah yang bernama Kandang Sapi. Sepertinya sudah tidak disebutkan demikian di jaman ini. Berbeda dengan nama Boedjoengsoeoerapan yang hingga sekarang masih ada di sekitar kawasan itu, walau hanya menjadi nama gang Bojong Surupan.


Kita mengenal SD Banjarsari di Jalan Merdeka, pertanyaannya adalah mengapa dinamakan SD Banjarsari? Sedangkan satu SD lain di jalan yang sama, dinamakan SD Merdeka? Ternyata, kawasan di mana SD Banjarsari berdiri, dulunya bernama Kampung Bandjarsari Wetan. Sedangkan di seberang rel yang sekarang ada hotel Panghegar dan sekitarnya, disebut kawasan Bandjarsari Kidoel.

Mengulik peta lama adalah kegiatan menyenangkan. Ada banyak pengetahuan dan sejarah yang bisa diteruskan pada kawan, keluarga, sahabat, dan anak-anak kita soal sejarah kota tinggal kita. 

Tentunya tinggal di Bandung sangat menyenangkan karena sebagai kota warisan kolonial yang dibangun penjajah, mereka meninggalkan banyak dokumen menarik walau tidak semuanya tersedia di internet dan bisa kita akses.

Ricky N. Sastramihardja

Jumat, Januari 31, 2025

MEMBUKTIKAN PERANG BUBAT TIDAK PERNAH ADA



Sore tadi selepas ashar, Jumat 31 Januari 2025,  saya berbincang hangat dengan salah seorang senior Lises Unpad. Beliau angkatan 1982, wartawan, orang Jawa, angkatan pendiri di mana di tahun itu NKK/BKK baru diberlakukan dan kegiatan mahasiswa tersentralisasi di pusat universitas. Kami baru bertemu sekali itu setelah Lises Unpad berdiri 43 tahun lamanya.

Perbincangan ngaler ngidul yang kemudian merambat ke bagaimana cara membumikan Sunda di Tatar Sunda. Saya bercerita bila dalam beberapa waktu belakangan ini, walau tidak rutin, mengasuh acara diskusi di platform X (dulu Twitter) dengan menggunakan fasilitas audio broadcast Space

"Temanya beragam, tetapi lebih ke kisah-kisah populer dalam khazanah masyarakat Sunda karena segmen pendengar dan peserta diskusinya juga sangat awam. Misalnya, membagi segmen sejarah masa silam menjadi sub topik yang ringan. Misalnya bagaimana orang Sunda berperang? Senjata apa yang digunakan dalam perang Bubat? Apakah orang Sunda berperang telanjang dada atau sudah menggunakan baju zirah atau body armor," terang saya.

Karena perbincangan santai itu dilakukan di ruang publik, di halaman perpustakaan Ajip Rosidi, menjadikan perbincangan itu seolah menjadi perbincangan publik. Hingga ada seseorang yang duduknya bersebelahan dengan senior saya, ikut berbincang.

"Sebentar Kang," selanya.

"Perang Bubat itu bohong, hanya buatan penjajah untuk membuat bangsa kita terpecah dengan mengadudombakan bangsa Jawa dengan bangsa Sunda," sergahnya lagi.

Saya tersenyum dan berusaha memberikan argumen bahwa Perang Bubat dimuat dalam naskah Kidung Sundayana, Kidung Sunda, dan Carita Parahiangan. Juga Pararaton. Untuk diketahui, perang Bubat terjadi pada tahun 1357 M antara pasukan Kerajaan Sunda yang dipimpin Prabu Linggabuana dengan pasukan Majapahit beserta koalisinya di Trowulan, Mojokerto Jawa Timur sekarang.

Tetapi beliau tetap saja menyampaikan pendapatnya bahwa Perang Bubat itu tidak dikisahkan dalam kurun waktu sejaman. "Bisa jadi ada tekanan politis penjajah pada saat itu pada para penulis lontar untuk mengisahkan peperangan bohong itu untuk memecah belah bangsa Jawa dan Sunda."

"Logika lainnya, bagaimana mungkin Pasukan Sultan Agung yang tidak kembali lagi ke Mataram, bisa diterima dan kemudian bermukim di Tatar Sunda?, sergahnya lagi. 

Memang kegagalan pasukan Mataram menyerbu Batavia di 1628 dan 1629 M membuat Sultan Agung murka. Ia menghukum mati pasukan dan panglima-panglimanya yang gagal menyelesaikan tugas. Alih-alih pulang ke Mataram, disinyalir beberapa pasukan Sultan Agung merembes di Tatar Sunda. Berdomisili dan menjadi masyarakat lokal seperti misalnya dalam kisah yang ditemukan di Babakan Jawa, Kabupaten Majalengka.

***

Salah satunya yang menjadi kisah sejarah adalah pemberontakan Dipati Ukur yang gagal memenuhi keinginan Sultan Agung Mataram.

Bagi Mataram, Dipati Ukur adalah pemberontak. Tetapi bagi urang Sunda, Dipati Ukur adalah pahlawan yang namanya wangi hingga sekarang. Walau ada pendapat yang menyebut Dipati Ukur bukan orang Sunda melainkan orang Jawa. Kepahlawanan Dipati Ukur bagi urang Sunda, melepaskan nasab kesukuan Dipati Ukur. Selama membela tatar Sunda, apapun etnisnya, akan dihargai oleh urang Sunda.

Sampai kemudian di bagian akhirnya, Si Penyergah, sebut saja begitu, mengakhiri statemen dan tuduhannya. "Bagaimana mungkin Perang Bubat terjadi bila kemudian mahkota Hayam Wuruk ditemukan di Majalaya?"

Statemen mahkota Hayam Wuruk ditemukan di Majalaya, membuat saya memilih mengalihkan diskusi dan membahas topik lain. Karena saya yakin informasi tersebut tidak valid, tidak ada bukti dan pengakuan para ahli, bahkan tidak pernah ada di media manapun. 

Sampai kemudian di saat saya menuliskan catatan ini, saya menemukan postingan dengan tema mahkota Majapahit ada di Majalaya di platform berbagi video, Youtube. Tidak ada gambar, tidak ada pendapat ahli, bahkan siapa penyampai informasi pun tidak jelas. Di dalam dunia akademis, fakta haruslah teruji, terbukti. Bukan klaim.

Begitu juga dengan tuduhan perang Bubat tidak pernah terjadi. Tuduhan terhadap penjajah Belanda yang memalsukan (atau mungkin Portugis) tidak pernah berhasil dielaborasi oleh penuduhnya. Bila menuduh pihak penjajah berkepentingan terhadap pemalsuan sejarah bangsa, tuduhan itu harus disertai bukti dan fakta yang kuat, yang terverifikasi, valid dan teruji secara akademis.

Bila tuduhan itu tanpa bukti dan tidak pernah teruji, ya hanya asumsi. Asumsi itu baru data mentah, bukan fakta. Bagaimana cara penjajah memalsukan sejarah? Apa buktinya penjajah menekan penulis lontar menulis sejarah palsu? 

Pun terjadinya Perang Bubat yang ditulis di naskah kuno di rentang 2-3 abad setelah kejadian masih lebih shahih dibanding dengan asumsi yang dibuat di abad ke-21. Selain rentang waktunya sangat jauh, juga tidak pernah sekalipun para penuduh itu menyertakan bukti.

Asisi Suhariyanto di Asisi Channel misalnya, menjelaskan keraguannya akan perang Bubat akibat naskah yang memuatnya berjarak 2 atau 3 abad setelah kejadian. 

"Terkait sumber-sumber yang menceritakan peristiwa Perang Bubat, Asisi mengatakan bahwa semua sumber itu bukanlah sumber primer melainkan sekunder. Karena peristiwa itu terjadi pada abad ke-13, sementara Kitab Pararaton diperkirakan ditulis pada abad ke-15, sedangkan Carita Parahyangan pada abad ke-16.

"Tapi sumber yang paling kuat adalah Pararaton, lalu Carita Parahyangan. Lainnya itu sudah sangat sekunder dan sangat pengembangan sekali,” kata Asisi dikutip Merdeka.com, 29 September 2024 dari kanal YouTube Asisi Channel. 

***

Sejarah tragedi tentu akan berwajah ganda bagi para pendukung dan penentangnya. Tetapi wajah ganda itu akan menjadi valid bagi ke dua belah pihak bila keduanya mempunyai fakta dan bukti yang bisa terverifikasi. Sumber primer memang lebih valid, tetapi sumber sekunder menjadi layak diperhatikan bila tak ada satupun sumber primer/sejaman.

Sumber tersier yang menjadi cerita lisan di masyarakat, sejauh mana memiliki banyak varian, perbedaan gubahan, hingga kontradiksi antara logika dengan realita pun masih memiliki nilai faktual yang bisa diterapkan walaupun biasanya berupa norma dan etika. 

Misalnya, konflik antara dua bersaudara dalam carita legenda Ciung Wanara, yang dipercaya menyimbolkan awal terjadinya bangsa Sunda dan Jawa.  Ciung Wanara merupakan sastra lisan yang lebih tua dari naskah-naskah tulis berbahasa Sunda mulai dari abad ke-14.

Tetapi soal Perang Bubat masih harus dianggap terjadi, sampai ada bukti dan fakta lain yang disampaikan para ahli. Bukan asumsi keraguan berdasar logika yang dipaksakan di masa kini dengan alasan demi persatuan dan kesatuan.

Para penolak Perang Bubat, baik bangsa Sunda maupun bangsa Jawa, harus menyajikan data, fakta yang komprehensif yang memperkuat tuduhan mereka. Tidak boleh anonim, harus jelas sebagai pertanggungjawaban pada publik.

Bukan dari kanal Youtube yang entah siapa pemiliknya dan darimana mereka mendapatkan sumber referensi sejarahnya. Mahkota Majapahit ada di Majalaya, kalimat yang membuat saya tersenyum simpul saat ini.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Copilot AI

Bacaan pengaya:

1.Disebut Hanya Mitos Ciptaan Belanda, Ini Fakta di Balik Perang Bubat yang Memisahkan Jawa dengan Sunda. Shani Rasyid (reporter) dan Nisa Mutia Sari (editor), Merdeka.com 29 September 2024.  https://www.merdeka.com/jateng/disebut-hanya-mitos-ciptaan-belanda-ini-fakta-di-balik-perang-bubat-yang-memisahkan-jawa-dengan-sunda-205662-mvk.html

2. Perang Bubat: Latar Belakang, Lokasi, dan Dampaknya. Widya Lestari Ningsih, Nibras Nada Nailufar, Kompas.com, 5 Mei 2021 diakses 31 Januari 2025.   https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/05/141749079/perang-bubat-latar-belakang-lokasi-dan-dampaknya.

3. Menggugat Sejarah Perang Bubat, Upaya Menghapus Luka Budaya. As'ad Syamsul Abidin, Aktual.com 14 Juni 2022, diakses 31 Januari 2025. https://aktual.com/menggugat-sejarah-perang-bubat-upaya-menghapus-luka-budaya/

4. CETBANG PAJAJARAN DI PERANG BUBAT. https://6ix2o9ine.blogspot.com/2025/01/cetbang-pajajaran-di-perang-bubat.html


Kamis, Januari 30, 2025

WAJAH INDONESIA DALAM SENYUM DAN PERILAKU BUDAYA


Perjalanan melanjutkan aktivitas bertualang bersama GeoUrban setelah melihat pohon kopi tua berusia ratusan tahun di Curug Cipanoli  nampaknya harus berhenti sementara. Siang itu hujan lebat melanda kawasan Cisalak Subang padahal baru sekitar 15 menit rombongan bermotor GeoUrban 30 mengunjungi curug tersebut pada Sabtu 27 Januari 2025.

Rombongan yang dipimpin el presidente PGW Indonesia, 'Al Habib' Deni Sugandi itu lalu menunggu hujan reda di warung yang juga merangkap pengelola curug. Ditemani menu khas Indonesia -mie instan, kopi, gorengan, dan pastinya kerupuk- perbincangan hangat pun terjadi. Andi Lala, salah seorang peserta yang juga adik kelas saya sewaktu di SMA, mengatakan bila mie instan sudah ia pesan sewaktu saya melaksanakan ibadah sholat dzuhur tadi.

Saya juga menyempatkan berbincang dengan Monsieur Christope Deyer, Direktur Institut Français Indonésie IFI Bandung yang untuk ke-2 kalinya menjadi peserta. 

"Saya sudah mengunjungi banyak negara di Asia, terutama Jepang dan Cina. Mereka semua baik, semua ramah. tetapi tidak sehangat seperti di Indonesia," kisahnya saat mengisahkan kesannya mengikuti GeoUrban untuk kedua kalinya. 

"Di sini terlihat santai, banyak senyum, dan juga bercanda," tambah pria bule yang sering disebut Kang Asep oleh para koleganya di IFI, juga oleh kami

"iya, wajar," timpal saya. 

"Hampir di seluruh Indonesia ya seperti ini, bahkan di luar Jawa, di komunitas masyarakat yang terlihat 'galak' dan 'kasar', suasananya selalu hangat seperti ini."

Saya menimpali perbincangan itu dengan selintas ingatan saat mengunjungi beberapa pulau di luar Jawa di masa lalu. Misalnya saat beberapa minggu di Pandan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara di 2007 silam.

Ada pandangan stereotip di masyarakat Sunda bila orang Batak (demikian urang Sunda menyebut warga Sumatera Utara yang sebetuknya multi etnis) itu galak-galak yang tampak dari intonasi dan nada bicaranya. Tetapi dua minggu di Pandan, mengkoreksi pandangan itu.

Pengendara sepeda motor melintasi jalan padati yang dirintis pengusaha Belanda P.W. Hofland dan Bupati Rd. Rangga Martanegara pada tahun 1847. 

Mereka, orang-orang Batak itu, ramah-ramah, full senyum, dan bicaranya pun santai. Tidak ada intonasi yang berat, tegas, dan keras seperti yang terdengar dari orang Batak totok yang belum lama tinggal di Bandung.

"Itu kan teknik survival aja Bang, namanya juga orang merantau. Mereka lebih defensif," jelas Con sambil terkekeh saat berbincang soal pandangan saya terhadap kebisaan perantauan Batak di tanah Sunda. Con atau Robinson, adalah pengemudi yayasan yang memperkerjakan saya saat itu. Con  lahir besar di Pulau Nias, pulau di laut Selatan pantai Sibolga yang indah dan mempesona.

Perbincangan dengan Christope yang ngaler ngidul, terhenti saat hujan reda. Kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan GeoUrban yang masih panjang. 

Sepanjang perjalanan, perbincangan  itu masih  terngiang. Soal keramahan orang Indonesia dalam kesan Christope yang sudah melanglang buana ke banyak tempat di benua Asia. Saya tiba-tiba teringat dengan perbincangan entah kapan bersama Mang Ayod alias Aom Prima, sahabat saya di ITJ Bandung.

Mata air Cipabeasan di kaki gunung Bukit Tunggul yang mengalir menjadi anak sungai di DAS Cipunegara

"Nya heueuh atuh Mang, urang Sunda mah teu kudu ngumbara. Teu kudu perang jeung batur parebut sumber daya. Nanaonan atuh, sagala geus aya, geus nyampak," ujar menak Sumedang jebolan ISIP Unpad itu.

Tiga perbincangan di tiga waktu berbeda, dengan orang berbeda, tempat berbeda, dan tema yang berbeda itu mengantarkan saya pada suatu perspektif yang lebih menjelaskan apa yang disampaikan Christope soal orang keramahan orang Indonesia yang tercipta karena dukungan geologi dan alamnya.

Sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang banyak, cuaca dan iklim yang hangat, minimnya konflik membuat bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya di Asia. seringkali kita dianggap malas dan terbelakang oleh bangsa lain yang tampaknya lebih tangguh, lebih sering berperang, lebih sering konflik perebutan wilayah dan sumber daya alam.

Padahal kita sebetulnya tidak malas seperti yang diklaim Mochtar Lubis dalam pidato kebudayannya di TIM Jakarta tahun 1977.  Kita dikaruniai banyak kemudahan oleh Alloh SWT melalui alam ciptaan-Nya di alam tropis ini yang membutuhkan sedikit usaha saja untuk menggunakannya.

Berbagai jenis varietas tanaman tumbuh subur di tanah Indonesia berbagai fauna hidup dan berkembang biak di Indonesia.Suatu hal yang harus kita syukuri, walau gejolak politik selalu ada, bangsa Indonesia terbilang minim konflik.

Bentuk syukur atas karunia Alloh SWT itu tercermin dalam wajah dan perilaku orang Indonesia seperti yang digambarkan Christope dalam perbincangan di warung Curug Cipanoli. Keramahan dan kebaikan orang Indonesia, senyum yang selalu menghiasi wajah adalah karunia itu tersendiri.

Kita mungkin tidak superior bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita mensyukuri semua nikmat yang diberkahi di bumi ini. Di bumi yang diberkahi ini kita diajarkan untuk tidak agresif dan rakus karena semua tersedia, semua terpenuhi.

📷 Panorama Subang dari ketinggian 1260 M DPL Bukanagara

Ricky N. Sastramihardja

Minggu, Januari 26, 2025

MENYADAP RUPIAH DARI GETAH

"Nya biasana mah 15 dinten sakali panénna mah," sebut saja Ma Ésih, saat dijumpai di kawasan hutan pinus Gunung Putri, Lembang, Jawa Barat (Jumat, 24 Januari 2025).

Ma Ésih menuturkan, sebelumnya ia menyadap pinus terlebih dahulu mereka menanami lahan yang dikuasai Perhutani itu dengan sayur-mayur. Namun karena kemudian menanami lereng dengan sayuran menyebabkan banjir di kawasan bawah (Lembang, Bandung Kota), maka mereka beralih menjadi penyadap getah pinus.

"Sadaya dipasihan ti Perhutani. Ti mimiti binih, gemuk, dugi ka alat-alat kanggo nyadap geutah ti ngawitan batok, émbér tepi ka alat kanggo ngabacok."

 "Pokona mah asal kersa wé midamelna. Teu kedah setoran, teu aya sewa lahan," paparnya.

Ma Ésih juga menceritakan bila di musim penghujan seperti sekarang, produksi getah yang bisa disadap lebih sedikit dibanding di saat musim kemarau. Batok penampung sadapan -yang sudah diganti dengan mangkok plastik- selain berisi getah Pinus merkusii, juga berisi air.

"Nya margi obat-obatan kanggo ngaluarkeun geutahna kahujanan ongkoh, teu nerap," imbuhnya. 

Memang terlihat dalam satu mangkok tidak terisi penuh getah pinus. Tetapi bercampur juga dengan air hujan.

Getah tersebut kemudian ditampung dalam ember untuk kemudian dialihkan ke jerigen atau sejenisnya sebelum dikiri ke pengepul. Kelak getah tersebut akan diolah menjadi gondorukem, arpus, atau produk olahan lainya seperti terpentin dan pernis.

Siklus menyadap getah pinus per 15 hari itu tentu saja memiliki nilai ekonomi. Bagi Ma Ésih, selama pohon pinus masih di rentang usia produktif antara 10-15 tahun masih bisa disadap. "Nya dugi ka garingna wé daunna, dugi ka coklat. Hartosna tos teu tiasa ngageutah deui tangkalna."

Ricky N. Sastramihardja


Rabu, Januari 22, 2025

PAGAR NAGA - PUISI TOTO ST RADIK


Pagar Naga

pagar bambu 30,16 kilometer itu

menjelma jadi ribuan naga

melepas kainkain segel yang

mudah dirobek angin laut asin


"jalesveva jayamahe!

satu dicabut

dua terbilang!" 


dari pantai utara jakarta

pagar naga menyerang tangerang

melaju ke karangantu 

menerjang ke pulau panjang

menghentak bojonegara dan merak

mengepung kawasan di sukajaya


"akulah naga

penguasa laut jawa!"


tak ada mulut bisa terbuka

semua sedang mengunyah

siapa bersuara

tersedaklah

2025

📷 ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/rwa./

Selasa, Januari 21, 2025

KEMENANGAN HAMAS DI GAZA


Yang berhasil dicapai selama perang 470 hari:

1. Hamas lah yang menentukan syarat gencatan senjata.

2. Memaksa Israel membebaskan ribuan tawanan.

3. Membunuh ribuan Tentara zionis.

4. Menghancurkan 1500 tank merkava.

5. 30 ribu orang di pihak pasukan pendudukan terluka.

6. Menyebabkan 150.000 warga zionis mengungsi 

7. Menghancurkan posisi tentara pendudukan dan mengalahkannya.

8. Mengakibatkan kerugian ekonomi Israel senilai 34 Miliar Dollar.

9. Menghentikan roda perekonomian Israel.

10. Kesepakatan mencakup pembangunan kembali Gaza.

11. Kesepakatan mencakup bebas masuknya bantuan ke Gaza.

12. Mundurnya tentara zionis dari seluruh wilayah yang didudukinya,

13. Menghentikan laju normalisasi Arab-Israel.

14. Membuat pimpinan Israel menjadi Penjahat Perang Internasional.

15. Isyu penghentian bantuan bagi Israel dari AS & Eropa menggema kencang. Termasuk masifnya boikot terhadap produk-produk yang selama ini membantu Israel.

16. Rontok sudah mitos kehebatan kecerdasan, kekuatan militer & kehebatan spionase Israel. Di kawasan yang hanya seluas 360 km2 dengan pasukan penuh; tak sejengkalpun tujuan militer mereka peroleh.

Afwan Riyadi

Sabtu, Januari 18, 2025

AMBER DALAM BUDAYA POPULER

 

Amber atau fosil resin pohon kuno sudah lama dimanfaatkan manusia untuk menjadi perhiasan atau ornamen. Selain itu beberapa budaya, amber digunakan juga untuk pengobatan tradisional. 

Amber terbentuk selama jutaan tahun. Proses ini dimulai ketika resin atau getah pohon mengalir keluar dari pohon yang terluka. Resin ini kemudian mengeras dan terawetkan selama ribuan hingga jutaan tahun. Selama periode waktu yang sangat panjang ini, resin mengalami proses fosilisasi dan berubah menjadi amber.

Dalam proses pembentukan amber ini memungkinkan memerangkap jasad binatang-binatang kecil atau serangga masa lalu. Tumbuhan atau benda-benda kecil dari masa lalu pun sangat dimungkinkan terperangkap  dan kemudian terawetkan bersama amber dalam masa jutaan tahun silam.

Di Indonesia, amber dapat ditemukan di Sumatra dan di Jawa Barat. Di Sumatera, amber ditemukan di deposit batubara di Pegunungan Bukit Barisan, sisi barat Sumatra. Amber yang ditemukan di sini berwarna hitam, ada yang berwana biru neon atau fluorensce, ada juga hijau neon. 

Amber yang ditemukan di Sumatera berasal dari Formasi Sinamar, terbentuk sekitar 30 juta tahun yang lalu dari  fosil hutan kuno pohon Hymenaea Protera (spesies ini sekarang punah). Di bawah sinar UV, amber ini memancarkan warna biru langit yang indah, paling terang di bawah gelombang panjang. 

Sedangkan di Jawa Barat, amber dapat ditemukan di Curug Buhud Kabupaten Sumedang berasal dari Formasi Kaliwangun yang mengandung fosil moluska yang didominasi oleh gastropoda dan bivalvia. Formasi ini terdiri dari beberapa siklus sedimentasi yang mengandung lapisan cangkang moluska.

Setiap siklus sedimentasi umumnya terdiri dari empat jenis lapisan batuan yang mengandung cangkang moluska. Amber yang ditemukan di daerah ini memberikan informasi berharga tentang kehidupan purba dan kondisi lingkungan pada masa itu.

Nyamuk yang terperangkap di dalam amber di spin off Film Jurrasic Park

Karena kemudian amber menjadi bagian dari kebudayaaan manusia, amber juga muncul dalam kebudayaan populer. Sebut saja amber dalam  spin off Jurassic Park, serial TV The X-Files, serta dalam serial TV Supernatural. Di gim vidio, amber atau disebut latikayu dalam bahasa Indonesia, muncul gim komputer Resident Evil 2, Resident Evil 3: Nemesis dan Resident Evil 4: Remake dan  The Witcher.

Di film Jurassic Park, diceritakan amber yang ditemukan yang berwarna kuning mengawetkan seekor nyamuk. Nyamuk yang terfosilkan tersebut kemudian diekstraksi para ahli, dipelajari DNA-nya dan dari kandungan DNA-nya, kemudian dikreasiulang menjadi berbagai macam dinosaurus yang hidup di Jurassic Park.

Asumsi dalam film itu, nyamuk tersebut sejaman dengan jaman dinosaurus yang hidup di periode Jura  antara 200-145 juta tahun yang lalu . Periode Jura ini berada di era Mesozoikum dimana menjadi masa kemunculan dan kejayaan dinosaurus dari berbagai spesies.

John Hammond, tokoh dalam Jurassic Park, berpendapat bila ilmuwan bisa menemukan jejak darah dinosaurus di dalam tubuh nyamuk yang hidup dan mati dalam periode yang sama. Pendapat CEO InGen itu ternyata benar. Para ilmuwan kemudian menemukan cara untuk menghidupkan kembali dinosaurus melalui nyamuk yang terperangkap menjadi fosil di dalam amber atau katilayu.

Tapi tentu saja itu hanya bagian dari cerita dalam film. Karena pada faktanya, belum pernah ada seorang ilmuwan pun yang mampu memulihkan DNA kuno dari amber dari zaman Mesozoikum dari masa 200 juta hingga 66 juta tahun silam.

Dari laman jurassic-pedia disebut bila perkiraan bahwa amber dapat mengawetkan DNA hingga seratus juta tahun dihitung oleh Bada, Wang, dan Hamilton pada tahun 1999 (Philos Trans R Soc Lond B Vol. 354 hal. 77 – 97). Tetapi pada tahun 2013 Dr. David Penney dan rekan-rekannya di University of Manchester tidak dapat memulihkan DNA dari serangga yang ditemukan dalam holosen kopal yang lebih muda daripada katilayu.


Sedangkan di dalam gim komputer Resident Evil 4, amber menjadi subyek utama cerita. Di mana amber mengawetkan parasit kuno yang disebut 'Las Plagas'. Di mana Las Plagas ini dapat digunakan untuk mengendalikan pikiran manusia yang terinfeksi serta membuat manusia dapat memeiliki mutasi mengerikan yang digolongkan sebagai BOW atau Bio-Organic Weapon.

Di gim komputer Resident Evil 2 dan Resident Evil 3: Nemesis, amber muncul sebagai key item yang digunakan untuk memecahkan teka-teki di gim berjenis survival-horror tersebut. 

Sedangkan di gim komputer The Witcher  amber digunakan oleh Geralt of Rivia, tokoh utama gim komputer ini, sebagai bahan untuk crafting berbagai ramuan dan artefak yang bersifat magis. Amber di gim ini diaggap sebagai bahan kimia yang memiliki kekuataan magis.

Sedangkan di serial TV X-Files yang dibintangi David Duchony sebagai Fox Mulder dan Gillian Anderson sebagai Scully, amber muncul untuk mengawetkan alien dan juga manusia yang memiliki kemampuan tertentu.


Ricky N. Sastramihardja

1. Shell Bed Identification of Kaliwangu Formation and its Sedimentary Cycle Significance, Sumedang, West Java. Aswan, S. Rijani, and Y. Rizal, 2013. PDF. Indonesian Journal of Geology, Vol. 8 No. 1 March 2013: 1-11 diunduh dari download.garuda.kemdikbud.go.id., 18 Januari 2025.

2. Amber, Sumatra, Indonesia. Chris Clemens di situs Nature's Raibows.com, 12 April 2020. Diakses 18 Januari 2025. https://www.naturesrainbows.com/post/2020/04/12/amber-sumatra-indonesia

3. Resident Evil 4 Remake. Diakses 18 Januari 2024. https://www.vg247.com/games/resident-evil-4-remake

4. Resident Evil Wiki. Diakses 18 Januari 2024.  https://residentevil.fandom.com/wiki/Resident_Evil_Wiki

5.Katilayu (batu). Wikipedia. Diakses 11 Januari 2025. https://id.wikipedia.org/wiki/Katilayu_(batu) 

6. Amber (film universe). Jurassicwiki.com. Diakses 11 Januari 2025. https://www.jurassicwiki.com/wiki/Amber_(Film_Universe) 

7. Amber (C/N) / (S/F) / (L/M) / (JN) / (CB). jurassic-pedia.com. Diakses 11 Januari 2025. https://www.jurassic-pedia.com/amber/

8. Amber. Diakses 11 Januari 2025. https://jurassicpark.fandom.com/wiki/Amber

9. The X-Files Wiki. Diakses 18 Januari 2024. https://x-files.fandom.com/wiki/Main_Page

10. Amber. The Witcher Fandom.com Diakses 18 Januari 2024. https://witcher.fandom.com/wiki/Amber