Tampilkan postingan dengan label My Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Adventure. Tampilkan semua postingan

Jumat, Januari 03, 2025

BUKIT TUNGGUL ATAU BEUTI TUNGGUL?


Urang Sunda menggunakan kata 'pasir' untuk merujuk ke bukit atau gunung kecil. Tetapi ada perkecualian pada Gunung Bukit Tunggul, Bandung Utara, Gunung Bukit Jarian, Jatinangor Sumedang, serta Gunung Bukit Cula Ciparay. Ke tiga gunung itu menggunakan kata bukit, bukan pasir yang notabene merupakan kata asli dalam basa Sunda. Di seluruh Tatar Sunda, diperkirakan hanya ada tiga gunung  yang menyandang nama bukit.

Urang Sunda menggunakan kata 'pasir' untuk membedakan bukit dengan gunung. Dalam kamus Sunda LBSS, pasir didefinikan sebagai 1. gunung leutik j. handap. 

Sedangkan Rigg mendefinikan Pasir sebagai: a hill, a ridge, something less than a mountain. This word seems to be derived from Pa, the usual prefix, and Sir, the noise made by wind passing over a hill, or past any obstacle. Pare pasir, upland paddy, such as is grown on Pasirs.

Dalam Peta Rupabumi Digital Indonesia  Lembar 1209-314 Lembang, Gunung Bukit Tunggul memiliki ketinggian 2.206 m dpl. Merupakan kawasan hutan montana dan sub montana yang juga memiliki kekayaan budaya berupa situs Babalongan. 

Punden berundak-undak di Situs Babalongan menjadi saksi bisu zaman megalitik. Selain itu Gunung Bukit Tunggul erat kaitannya dengan 'sasakala' Legenda Sangkuriang. Di mana Bukit Tunggul dalam cerita masyarakat Sunda dianggap sebagai tumpukan tunggul kayu yang dibuang Sangkuriang saat membangun danau raksasa untuk 'mahugi' merayu Dayang Sumbi.

Sedangkan Gunung Bukit Jarian berada di 'halaman' Universitas Padjadjaran Jatinangor. Dalam Peta Rupabumi Digital Indonesia 1:25.000 Lembar 1209-321 Cicalengka. Edisi I-2001 Bakorsutanal, tinggi Gunung Bukit Jarian adalah 1173 m dpl, sedikit lebih rendah dibanding Gunung Geulis yang tingginya mencapai 1281 m dpl. 

Adapun Gunung Bukit Cula Ciparay Kabupaten Bandung berada di 1.073 m dpl. Gunung Bukit Cula ini berhubungan erat dengan perjuangan dan pelarian Dipati Ukur dari kejaran pasukan Sultan Agung Mataram pada tahun 1628.

Gunung Bukit Jarian (1173 m dpl)  dari puncak Gunung Geulis (1281 m dpl).
September 2014.

Gunung Bukit Jarian sepertinya sama dengan Gunung Geulis. Mengutip dari denisugandi.com, gunung Geulis merupakan intrusi batuan beku, berwarna abu-abu gelap menandakan komposisi mineralnya andesitik. Dicirikan dengan tekstur porfiritik, struktur amigdaloidal dan mendaung mineral piroksen serta ampibhole. 

Dalam keterangan peta geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003), merupakan intrusi Andesit Gunung Geulis. Umurnya Oligosen (Suhada dkk., 2007), menerobos Anggota Batulempung Formasi Subang yang menjemari dengan Anggota Batupasir Formasi Subang. Di atasnya diendapkan secara tidak selaras Formasi Kaliwangu berumur Miosen Atas.

***

Kembali ke penggunaan kata bukit alih-alih kata pasir, membuat Jonathan Rigg  heran. Penyusun kamus Sunda- Inggris pada tahun 1862 itu menganggap bila kata bukit merupakan serapan dari bahasa Melayu dan itu mengherankannya karena lokasi dua bukit itu berada jauh di pedalaman bukan di pesisir.

Bukit, This word is properly Malay, and means a hill, not a mountain. It occurs in only two solitary instances in the Sunda districts, as applied to mountains, and these are the Bukit Tunggul and Bukit Jarian , two mountains in Bandong. Bukit Tunggul means „Stump Hill"; it is on the boundary line between the Pamanukan Estate and Sumedang. The tradition of the country says that here was felled the tree which was to form the Prahu which is supposed to still exist in the adjoining Tangkuban Prahu, which see. The Bukit Tunggul is a rather conical hill and bears a rude resemblance to the stump of a fallen tree. It is strange that these solitary instances of Bukit should occur in the interior of the Sunda districts, surrounded by otherwise purely Sunda names. Had it been on the coast , we might have imagined some ancient Malay colony settled near it. As it now is, it looks as if the Sunda people had hunted a name out of a foreign language to designate a mountain which it appeared to them anomalous to call a Gunung, with the word Tunggul = stump of a tree, affixed to it. Tulis Rigg dalam "A Dictionary of The Sunda Language of Java".

Anggota Batavian Society of Arts and Sciende itu menuliskan kebingungannya dalam kamus yang lebih mirip dengan ensiklopedi itu. Karena tidak hanya menjelaskan arti kata tetapi memberi sedikit penjelasan pada kata-kata tersebut.

Kebingungan itu juga menjalar pada khalayak di abad setelahnya. Sebut saja misalnya Almarhum Budi Brahmantyo yang di Kompasiana menulis bila nama Bukit Tunggul itu terasa aneh. Ia menemukan fakta bila pada peta-peta lama buatan Belanda sebelum tahun 1960 ditulis sebagai Gunung Bukittunggul (tanpa spasi).

"Jadi mana yang benar? Apakah Bukittunggul itu gunung atau bukit? Dilihat dari ketinggiannya yang mencapai 2209 m di atas permukaan laut rata-rata, jelaslah Bukittunggul merupakan sebuah gunung. Bandingkan dengan Tangkubanparahu 2084 m dpl. atau bahkan Manglayang 1717 m dpl. Keduanya mendapatkan awalan G di depannya, menunjukkan nama gunung," tulis Budi yang merupakan geologis, aktivis, juga Koordinator Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Budi akhirnya mendapat pencerahan bila ada kemungkinan Belanda salah menuliskan Bukit Tunggul. Bukan bukit tetapi seharusnya 'beuti' atau umbi. Beuti Tunggul. Dari salah seorang sahabatnya Budi mendapat keterangan melalui tulisan lama M. Purbohadidjojo berjudul “Disekitar Nama Gunung Tangkubanperahu,” halaman 23 – 26 dalam  Majalah Bahasa dan Budaja, tahun III No. 5 Djuni 1955.

"Menurut lit. 5 nama itu tadinja Beuti Tunggul (beuti=umbi), tetapi karena kesalahan pemetaan berubah mendjadi Bukit Tunggul. Lit. 5 pada daftar pustaka merujuk pada: PIJL, L.v.d. Wandelgids voor den Tangkoeban Prahoe, Bandoeng Vooruit, Serie no. 5.," tulis Purbohadidjojo dalam catatan kaki tulisannya yang dikutip Budi.

Pertanyaan kemudian adalah benarkah basa Sunda tidak mengenal kata bukit? Benarkah bukit itu serapan dari bahasa Melayu seperti yang diasumsikan Rigg?

***

Ternyata, Ameng layaran alias Bujangga Manik juga menggunakan kata /bukit/ alih-alih /pasir/. Dalam naskah kuno Bujangga Manik yang diperkirakan ditulis di akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15. Kata /bukit/ disebut sebanyak 34 kali misalnya di baris 63 (bukit Ageung), 77 (bukit C(e)remay) 696 (bukit Caru), 675 (bukit Timbun), dan seterusnya.

Menariknya lagi, Bujangga Manik atau Pangeran Jaya Pakuan menyebut bukit itu pada beberapa gunung yang sekarang disebut gunung: Bukit Ceremai, Bukit  Merapi, Bukit Cikuray, Bukit Patuha, Bukit Burangrang.

Sedangkan kata 'pasir' yang sekarang dikenal sebagai bukit, hanya disebutkan dua kali. Yakni di baris 1134 dan 1190 saat menyebut Pasir Batang. Nama Pasir Batang ini juga merupakan nama yang cukup umum di Jawa Barat. Bahkan dalam cerita rakyat Lutung Kasarung, Pasir Batang Anu Girang adalah nama kerajaan yang diperintah oleh Prabu Tapa Agung.

G. Boekit Toenggoel dan G. Bukit Djarian. Oldsmaponline.org

Soal penyebutan bukit alih-alih pasir oleh Bujangga Manik bisa saja karena Bujangga Manik terpengaruh oleh bahasa Melayu. Bujangga Manik tinggal di Pakancilan, di Pakuan yang sekarang dikenal berada di kawasan Bogor,  yang tentunya lebih dekat ke kawasan pesisir (Sunda Kelapa). Di mana memungkinkan Bujangga Manik untuk berinteraksi dengan etnis lain. 

Bujangga Manik sangat mungkin juga bisa berbahasa Melayu, seperti halnya urang Sunda sekarang yang menjadi poliglot. Bahkan bukan tidak mungkin ia juga bisa berbahasa Jawa dan Bali,  mengingat perjalanannya dari Pakuan hingga Bali.

Tetapi bila saat itu ia sudah berinteraksi dengan orang Melayu, menjadi menarik karena dalam naskahnya itu disebut Noorduyn tidak mengandung kata-kata dari bahasa Arab. Padahal di masa itu etnis Melayu dipercaya sudah menganut Islam dan mungkin sudah menyerap banyak kata dari bahasa Arab. Bisa jadi pada saat itu Islam belum masuk ke Tatar Sunda seperti asumsi Noorduyn. 

Walau untuk asumsi Noorduyn ini saya sedikit meragukan mengingat menurut Rokhmin Dahuri seperti dikutip dari historia.id, ada tokoh bernama Haji Purwa yang sudah berislam sejak tahun 1300an di Galuh. Namun pengaruh Hindu yang masih kuat pada masa itu membuat Haji Purwa belum bisa mengislamkan Galuh. Haji Purwa atau Bratalegawa atau Haji Baharuddin Al Jawi kemudian pindah dari Galuh ke Cirebon pada tahun 1337.

Sedangkan naskah Carita Parahiangan yang kemungkinan ditulis setelah Bujangga Manik, menyebut bila keruntuhan Kerajaan Pakuan Pajajaran salah satunya disebabkan karena banyaknya penduduk yang sudah memeluk Islam. Namun menurut Hendra M. Astari, tidak pernah ditemukan jejak peninggalan Islam di kawasan Pakuan Pajajaran walau disebut dalam Carita Parahiangan. 

Bisa jadi bukan Islam yang belum masuk ke Tatar Sunda, tetapi belum masuk ke istana Galuh Pakuan. Mengingat pada masa itu agama Hindu yang dianut Bujangga Manik adalah agama resmi kerajaan. Sedangkan di luar istana, masyarakat dibebaskan memeluk agama apa saja, termasuk Islam.

Tapi tentu saja asumsi-asumsi itu perlu diteliti lebih lanjut, baik oleh para sejarawan, maupun filolog. Sejatinya tulisan ini hanya ingin mengungkap bila sebetulnya urang Sunda juga mengenal kata bukit seperti yang terdapat dalam naskah Bujangga Manik.

 Jadi bisa saja memang nama Bukit Tunggul itu ya Bukit Tunggul, bukan Beuti Tunggul seperti yang dijelaskan oleh Budi Brahmantyo berdasar catatan kaki M. Purbohadidjojo.

Tapi bisa jadi Purbohadidjojo yang betul, yang benar adalah Beuti Tunggul mengingat kecurigaan Rigg juga beralasan dan senada dengan temuan Purbohadidjojo. 

Jadi mau Bukit Tunggul atau Beuti Tunggul? Bukit Jarian atau Pasir Jarian? Bukit Cula atau Pasir Cula?

Ricky N. Sastramihardja

📷 PeakFinder App for Android. 25 Desember 2024.

Referensi:

1. A Dictionary of Sunda Language of Java. Jonathan Rigg, Lange & Co, Batavia, 1862, PDF.

2. Kamus Umum Basa Sunda. LBSS. Geger Sunten Bandung, Citakan ka sapuluh, Oktober 2007.

3. Peta Rupabumi Digital Indonesia 1:25.000 Lembar 1209-321 Cicalengka. Edisi I-2001 Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional/Bakorsutanal.

4. Peta Rupabumi Digital Indonesia 1:25.000 Lembar 1209-314 Lembang. Edisi I-2001 Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional/Bakorsutanal.

5. Muslim Pertama Tatar Sunda. M. Fazil Pamungkas. Historia.id, 27 Juli 2019. Diakses 3 Januari 2025. https://historia.id/agama/articles/muslim-pertama-di-tatar-sunda-DLBBQ/page/1

6. Sejarah Penyebaran Islam di Tatar Sunda: dari Cirebon ke Bogor, hingga Kiprah Pangeran Sake. mui-bogor.org, 1 Oktober 2024. Diakses 3 Januari 2025. https://mui-bogor.org/index.php/berita/sejarah-penyebaran-islam-di-tatar-sunda-dari-cirebon-ke-bogor-hingga-kiprah-pangeran-sake/

7. Bujangga Manik dan Studi Sunda, Hawe Setiawan. Makalah Pdf dari http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/HAWE_SETIAWAN/makalah/Bujangga_Manik.pdf. Diakses 3 Januari 2025.

8. Aspek Kebudayaan Dalam Toponimi pada Naskah Bujangga Manik: Kajian Linguistik Antropologi. Salehudin Salehudin, Gugun Gunardi. Metahumaniora April 2022. Diakses 3 Januari 2025. https://www.researchgate.net/publication/367599580_Aspek_Kebudayaan_Dalam_Toponimi_pada_Naskah_Bujangga_Manik_Kajian_Linguistik_Antropologi

9. Beutitunggul: Teka-Teki Toponim Bukittunggul. Budi Brahmantyo, Kompasiana.com 9 Juni 2015. Diakses 3 Januari 2025.

https://www.kompasiana.com/bbrahmantyo/559e27e4d17e61f7060ef000/beutitunggul-teka-teki-toponim-bukittunggul

10. Bujangga Manik (naskah). Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Bujangga_Manik_(naskah)

11. Gunung Bukit Tunggul Mengungkap Pesona dan Sejarahnya. Shelterjelajah.com, 4 Juni 2024. Diakses  3 Januari 2025.

https://shelterjelajah.com/gunung-bukit-tunggul-mengungkap-pesona-dan-sejarahnya/

12. Tabir Lawang Kori dan Curug Buhud Tanjungmedar. Deni Sugandi, www.denisugandi.com. 30 Desember 2024. Diakses 3 Januari 2025. 

https://blog.denisugandi.com/tabir-lawang-kori-dan-curug-buhud-tanjungmedar/

13. Bukit Jarian. SumedangTandang.com. Diakses 3 Januari 2025. https://sumedangtandang.com/direktori/detail/bukit-jarian.htm#:~:text=Bukit%20Jarian%20merupakan%20sebuah%20bukit%20yang%20berada%20di,rangkaian%20perbukitan%20yang%20berada%20di%20deretan%20Gunung%20Geulis.

14. West Java, uit: Atlas van Nederlandsch Oost-Indië / samengest. door Topographisch Bureau te Batavia van 1897-1904.Topographisch Bureau, Batavia.1898. Diakses 3 Januari 2025. https://www.oldmapsonline.org/en/maps/867a8945-d4f6-48fc-841b-52090111e946?gid=0cfae186-ff91-4160-bd74-946d487e2df5#position=9.4764/-6.7838/107.7208&year=1898

Selasa, Desember 31, 2024

MARKING JALUR TREKKING: IHTIAR KECIL SEMOGA BERDAMPAK BESAR


Trekking ke Danau Urugan Lembah Tengkorak pada Rabu 25 Desember 2024 kemarin menjadi salah satu perjalanan yang menarik. Menarik karena dalam perjalanan sepanjang kurleb 14 km tersebut nyaris tidak mengeluarkan ponsel untuk memotret atau merekam video.

Nyaris, kecuali dua buah foto rumput yang diepret di ujung jalan makadam sebelum masuk ke jalan setapak menuju situ.

Pada perjalanan bersama seorang karib, Andi Lala, saya lebih terfokus untuk memasang tag atau marker sebagai petunjuk jalur. Hal tersebut sudah direncankan entah sejak kapan dan baru bisa terealisasi kemarin.

Itupun menggunakan material tag/marker bekas lomba lari ultra BDG100 2024. Pada perhelatan BDG100 2024 bulan September 2024 lalu, saya memang kembali menjadi panitia dan bertugas sebagai marshall di Cikole.


Marker pita plastik merah putih dan reflektor yang disapu tim sweeper yang seharusnya jadi sampah, saya manfaatkan untuk menandai jalur dari dan ke Situ Urugan yang berada di kawasan Perkebunan Kina Bukit Tunggul. Harapannya adalah sebagai ihtiar untuk menjadi petunjuk jalan bagi para trekker atau pengunjung yang berwisata ke Situ Urugan.

Apalagi dalam beberapa waktu terakhir terdengar kabar ada banyak pengunjung yang tersesat di hutan saat mau dan atau saat kembali dari situ. Salah satu kasus terparah adalah hilangnya seorang pengunjung di bulan November 2024 selama kurleb 8 hari.

Menurut Pak Maman, salah seorang petani yang bertemu di Warung Si Teteh sesaat setelah tiba kembali di pos awal, kawasan hutan Gn. Pangparang - Gn. Sanggara memang cukup menyulitkan. Selain karena masih lebat (Basa Sunda: leuweung gerot), juga karena ada banyak jalur pemburu atau pencari kayu. 

"Kirang-kirangna mah urang dieu gé aya wé nu ngadon mondok di leuweung da kalangsu", kisahnya. 

Tentu saja harapan marker yang dipasang bisa membantu siapapun yang melintas menuju dan dari situ. Selain marker, kami juga menambatkan webbing sepanjang 5 meter yang diharapkan bisa digunakan sebagai pegangan di turunan curam sebelum situ.

Tidak cukup memang, tapi mudah-mudahan membantu. Lain waktu semoga masih bisa ke situ, selain untuk aksi bersih-bersih sampah plastik yang banyak ditinggal di hutan, juga memasang webbing di jalur altenatif yang baru kemarin saya lewati. 

Itupun karena di saat pulang, dari semula hanya berdua dengan Mang Andi, menjadi bersembilan dengan pengunjung lain yang bertemu dan kemudian berkenalan, yang mereka kemudian menunjukan jalur pintasan lain.


Jalan pintas itu memang lebih pendek sekitar 1 km, dan meringkas waktu sekitar beberapa menit. Kelebihannya berjalan di tanah, lebih nyaman dan aman dibanding berjalan di bebatuan tajam yang menjadi khas jalan perkebunan.

Kembali ke perjalanan tanpa fotografi atau video, tentu saja karena ada Mang Andi yang rajin merekam perjalanan melalui kameranya. Bahkan dia juga menyempatkan menerbangkan drone setibanya di situ. Saya menikmati perjalanan tanpa foto itu tanpa rasa bersalah. Justru sangat menikmati.

Berpuluh tahun menjadikan foto dan video sebagai profesi, mendokumentasikan banyak kisah orang lain (baca: klien), membuat saya pada hari itu seolah terbebas dari kewajiban menggunakan kamera. Serasa merdeka.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Screen Capture video Andi Lala


Minggu, Desember 29, 2024

GUNUNG PALASARI, MENARIK UNTUK DIDAKI BERSAMA KELUARGA

Gunung Palasari dari Perkebunan Kina Bukit Tunggul

Gunung Palasari dengan ketinggian 1852 m dpl. Salah satu nama gunung yang disebut oleh Bujangga Manik dalam naskah Sunda Kuno yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15.

Sadiri aing ta inya,

leu(m)pang aing ngalér barat

Tehering milangan gunung:

itu ta bukit Karesi

itu ta bukit Langlayang

ti baratna Palasari

Bila Palasari yang disebut Bujangga Manik (Ameng Layaran) itu adalah Gunung Palasari yang berada di kawasan Bandung Timur Laut, tentu menjadi sangat menarik. Dari kutipan naskah di atas, Bujangga Manik sepertinya memandang Palasari dari arah timur, di mana ia bisa memandang juga gunung Lalayang (Manglayang?) dan bukit Karesi.

Apalagi Gunung Palasari kini menjadi gunung yang paling mudah diakses para penggemar kegiatan olahraga luar ruang. Terutama bagi mereka yang ingin merasakan sensasi mendaki gunung dengan biaya ringan, tidak terlalu melelahkan, terutama bagi mereka yang baru mulai suka.

Dari Tenda Biru di ketinggian sekitar 1575 m dpl, bisa didaki dengan memakan waktu tempuh kurang dari 60 menit. Dengan jarak hanya sekitar 1,06 km dan penambahan ketinggian (elevation gain) sekitar 350 m. 


Gunung Palasari yang masih merupakan bagian dari kawasan hutan Bandung Utara, juga bisa dicapai dari Dago Pakar. Jarak menuju puncak dari Bumi Herbal Dago berdasar keterangan para pelari trail yang bertemu di puncak, adalah sekitar 10 km yang ditempuh selama 3 jam.

Gunung Palasari juga merupakan hutan tropis yang masih cukup rapat dengan vegetasi yang beragam. Menjadi salah satu hutan 'beneran' yang masih terawat. Walau pasti terdesak oleh kebutuhan manusia akan lahan pertanian, wisata, atau pemukiman.

Selain itu, Gunung Palasari adalah bagian dari Sesar Lembang yang sedianya memanjang sepanjang kurleb 20 km dari Padalarang hingga Gunung Manglayang.


Bagi para pendaki, tetap disarankan membawa perbekalan yang layak dan secukupnya saat menaiki Gunung Palasari. Terutama air karena tidak ada sumber air di jalur pendakian.

Dari Bandung bisa dicapai melalui jalan Cigending Ujung Berung. Sedangkan dari Lembang, bisa ditempuh melalui jalan Maribaya-Cibodas yang menuju ke arah Cigending.

Jalan sudah hampir 100% dibeton dengan ada perkecualian di beberapa tempat ada sedikit ruas yang rusak akibat longsor atau pergerakan tanah.

Mohon diperhatikan bagi yang membawa kendaraan, kondisi mesin dan rem harus dipastikan prima. Terutama bila hendak turun melalui Tanjakan Panjang dari Palintang ke Cigending.

Ricky N. Sastramihardja

Kamis, Desember 26, 2024

CATATAN DARI PASIR GUHA WALET CIHEA


Panas! Hal itu sangat terasa saat menyusuri jalan mencari Guha Walet yang menjadi destinasi ke dua dalam Geo Urban ke-25, Ahad 22 Desember 2024 kemarin.

Berjalan di tengah hari di perbukitan karst Rajamandala yang terletak di Cihea, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat membuat mood merosot drastis. Saat dicek di altimeter, ketinggiannya sekitar 400 m dpl.

Lebih rendah dari Bandung yang berada di ketinggian 700 m dpl. 

Selain cuaca panas, hawa sekitar juga panas. Mungkin karena berada di kawasan kapur yang pada jaman dahulu kala merupakan lautan. Sepaket dengan Karst Citatah di Kabupaten Bandung Barat  yang menjadi tetangganya.



Apalagi Habib Deni mendadak mengubah destinasi, dari tujuan caving ke gua Walet, diubah menjadi mencari puncak bukit yang ternyata tidak ada jalurnya alias harus mencari jalur sendiri. Padahal saya mendadak sudah membeli helm yang menjadi syarat untuk melakukan kegiatan di dalam gua (speologi/caving).

Sempat salah jalan ke sisi lain tebing yang sama sekali tidak ada jalan setapak menuju gua apalagi puncak. Kecuali mau membuat jalur pemanjatan melewati tebing yang berdiri 90°, yang tentu saja memerlukan skill dan peralatan khusus. 



Beruntung bertemu Bah Ahim, warga setempat yang hendak ke kampung sebelah. 'Dibajak' oleh Habib Deni untuk mengantarkan ke puncak.

Lelaki yang berusia lebih dari 65 tahun itu dengan sigap membawa sebagian kecil rombongan. Termasuk di dalamnya ibu Vin, salah seorang peserta GeoUrban yang juga pelari Bandung Explorer. 

Wanita yang usianya sebaya Abah Ahim itu memang batere alkaline. Ngabret terus, enggak ada habis-habisnya. Saat di Gunung Sangar sepekan sebelumnya, beliau sendiri yang mencapai puncak Mega dari Puncak Sangar dan lalu bertemu di pos 3 saat pulang.



Hanya beberapa orang yang mencapai puncak Guha Walet di ketinggian sekitar 737 m dpl (Peta RBI 1999). Saya, Zarin dan Mang Odik memilih dikerubungi nyamuk di rumpun kebun pisang di lereng di ketinggian sekitar 500 m dpl. Sebagian lainnya balik ke kanan kembali ke titik awal pemberangkatan.

Puncak Guha Walet memang tidak tinggi, lebih cocok disebut pasir atau bukit. Tetapi ia bisa mematahkan semangat, nyali dan motivasi untuk mencapai puncaknya. Selain hawa panas, juga pada siang itu tidak ada angin bertiup sama sekali.


Bahkan hingga di puncak, menurut Mang Andi Layau,  "Euweuh angin-angin acan di luhur gé," katanya. Mang Andi, Bu Vin, Mang Deni, Adira, Baros, Mang Deden, Mang Askur dan Abah Ahim lah yang bisa mencapai puncak tinggi di Cihea itu. Mereka berhasil mengalahkan rasa malas dan udara panas yang membuat keringat deras mengucur tak berhenti.

GeoUrban ke-25 Ahad 22 Desember 2024 kemarin sebelum ke Cihea, adalah mengupas seulas soal Karst Citatah. Bertempat di Tebing 125 bersamaaan dengan kegiatan bersama antara APGI (Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia) juga PGWI (Pemandu geo Wisata Indonesia).

Ricky N. Sastramihardja

📷 Deni Sugandi, Ibu Vin
🎥 Andi Lala

Minggu, Desember 15, 2024

BENDA YANG HARUS DIBAWA SAAT TEKTOKAN


Mendaki gunung atau menjelajah kawasan hutan pergi pulang dalam satu hari kini dikenal sebagai tektokan. Entah dari mana istilah itu, tapi kata tektok cukup berima: tek dan tok.

Tapi  kita abaikan saja asal kata tektok. Tapi jelas bukan dari kata Tiktok. Lebih ingin bercerita apa yang harus dibawa saat tektokan. Lengkap dengan alasannya.

Disclaimer: tentu saja ini preferensi pribadi berdasar pengalaman dan kebutuhan. Setiap orang tentu memiliki kebutuhan berbeda.

1. Senter/headlamp. Benda ini sering diabaikan dengan alasan "ah sebentar aja kok, bakal udah nyampe lagi kok sebelum gelap". Padahal yang namanya aktivitas luar ruang, selalu ada resiko terlambat keluar hutan atau turun gunung sebelum gelap. 

2. Pisau lipat multifungsi.

3. Gunting kuku. Seringkali enggak sadar kalau kuku kaki sudah terlampau panjang hingga baru terasa mengganggu saat dipakai jalan kaki.

4. Peluit. Lebih menghemat tenaga daripada berteriak saat ada kejadian atau peristiwa yang berbahaya dan membutuhkan perhatian. Lebih nyaring juga lebih jauh frekuensi jangkauannya.

5. Pisau belati/bowie. 

6. Tali pita/webbing atau tali berjaket/kernmantel atau tali statik. 5 atau 10 meter, selalu berguna dalam banyak kesempatan. Rapia juga boleh. Bawa secukupnya.

7. Jas hujan sekali pakai atau disposable atau goresek. Bawa dua sekaligus. Lebih ringan daripada membawa raincoat, dan menghemat ruang di daypack.

8. Termos kecil untuk kopi/air panas (bila tidak membawa kompor lapangan).

9. Botol air 600 ml.

10. Water bladder 2 l.

11. Sunglasses

12. P3K dengan obat luka, plester/band aid, panadol, polysilene, juga  perban gulung elastis/elastic bandage.

13. Survival water filter straw.

14. Survival blanket.

15. Garam himalaya. Berguna untuk meredakan kram karena tubuh mengeluarkan natrium lebih banyak melalui keringat saat berkegiatan luar ruang berjam-jam.

16. Korek api gas. Di kondisi survival, api lebih dibutuhkan daripada kuota internet.

17. Power bank dan kabel.

18. Makanan ringan, permen, dan makanan berat.

19. Trekking pole.

20. Notes dan Alat tulis.

21. Topi dan bandana.

22. Keresek untuk membawa sampah kembali pulang ke peradaban.

23. Semuanya dikemas di running vest 10 lt. Bila tidak muat, bisa membawa tambahan daypack kecil 10 l atau tas pinggang 10 liter. Bisa juga dikemas di daypack 30 liter biar lebih ringkas. Bila masih muat bisa ditambahkan flysheet, tripod kecil, gimbal untuk ponsel.

24. Jangan lupa untuk mengunduh peta google offline sesuai kawasan yang dituju di ponsel kita. Tambahkan juga aplikasi Peakfinder (berbayar) dan Mapy.cz (ad ware). Aplikasi-aplikasi itu bisa digunakan tanpa sambungan internet.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Mang Umar




GUNUNG SANGAR: SESANGAR NAMANYA DI MUSIM HUJAN


Jangan menilai buku dari sampulnya. Demikian sebuah pepatah lama yang sepertinya disadur utuh dari pepatah dalam bahasa Inggris: don't judge the book by it's cover.

Begitu juga saat mendaki gunung. Jangan pernah menilai tingkat kesulitan dari tinggi rendahnya sebuah gunung. Atau bukit (basa Sunda: Pasir). Akan cukup 'menyesatkan' menilai dan mengkategorikan 'gunung untuk pemula' bagi gunung yang tingginya kurang dari 2000 m dpl.

Seperti halnya menilai Gunung Sangar yang terletak di Bandung Selatan. Gunung yang saat ini populer didaki berbagai kalangan terutama remaja dan muda usia karena aksesnya mudah dan tingginya 'hanya' 1690 mdpl (1655 m dpl di altimeter berbasis GPS, 1660 m dpl di peta aplikasi Mapy CZ yang berbasis pada peta Rupa Bumi Indonesia/RBI).



Pada pendakian kemarin, Sabtu 14 Desember 2024, cuaca buruk di kawasan Arjasari Kabupaten Bandung, tidak menyurutkan ratusan pendaki pemula maupun bangkotan untuk mendaki gunung Sangar yang sering dianggap 'ramah pemula'. 

Diperhatikan, sedikit sekali mereka menggunakan sepatu hiking, umumnya sepatu running atau sneaker casual. Padahal jalur mulai pos 1 hingga puncak licin parah. Bahkan tidak sedikit yang memakai sendal tali atau sendal jepit.

Jalur pendakian Gunung Sangar memang tidak terlalu terjal, cenderung landai. Bagi yang pernah mendaki Gunung Manglayang di timur Bandung (1818 m dpl), tentu akan tahu bedanya.

Tetapi guyuran hujan membuat jalur landai itu menjadi berbahaya. Tepat di depan mata, seorang ibu terlontar nyaris masuk jurang saat terpeleset. Beruntung sebagian tubuhnya tertahan semak di pinggiran jurang, dan kakinya dipegangi seorang pendaki lain yang masih satu rombongan.

Saat diperhatikan: memakai sneaker running/kasual dengan outsole datar tak bergerigi.



Menjelang puncak, seorang gadis remaja terpaksa harus melepas sepatunya yang jebol. Ngeri rasanya berjalan mendaki dan turun gunung tanpa alas kaki. Selain lebih licin, bebatuan yang tajam, akar serta batang pohon bisa melukai kaki.

Di saat turun, di pos 3 dua orang pendaki senior/master bercerita bila ia terhambat ke puncak karena harus mengevakuasi dulu seorang remaja usia SMP yang patah tangan akibat jatuh terpeleset saat turun dari puncak di antara pos 3 dan pos 2 /tanjakan Ebel.

Itulah beberapa kisah yang seharusnya membuat kita berfikir untuk tidak meremehkan gunung yang tidak terlalu tinggi. Apalagi di waktu musim hujan dengan cuaca buruk yang membuat jalur menjadi sangat licin.

Dari pos pendakian, jalur menuju ke puncak hanya sekitar 2,5 km dengan elevation gain/penambahan ketinggian ±500 m tapi membutuhkan waktu sekitar 2 jam 30 menit. Hal ini disebabkan antrian di beberapa ruas yang licin akibat banyak pendaki yang kesulitan melangkah. 

Bisa dibayangkan jalan setapak yang baru diguyur air hujan kemudian diinjak ratusan pasang kaki. Licin dan berbahaya saat menanjak atau menurun. Bahkan untuk mereka yang menggunakan sepatu hiking atau trail running dengan outsole bergerigi.

Jadi, memang jangan mengganggap enteng sebuah gunung hanya karena ketinggiannya. Cuaca bisa mengubah segalanya. Terlebih  tidak menggunakan sepatu khusus yang lebih layak, tidak berdoa dan melakukan pemanasan/stretching sebelum pendakian.

Ricky N. Sastramihardja

Tim: Mang Deni, Mang Yana Martin May, Mang Umar, Kang Nanang APGI

Minggu, Februari 05, 2023

GUNUNG PADANG ADALAH PIRAMIDA KUNO DARI PERADABAN YANG HILANG. AH MASA?


Wacana Gunung Padang adalah piramida tersembunyi kembali menarik perhatian netizen Indonesia. Salah satunya dipantik oleh tayangan "Ancient Apocalypse" yang tayang di Netflix, di mana seorang jurnalis bule, Graham Hancock, merilis tayangan-tayangan spekulasi tentang peradaban manusia yang hilang.

Bagi teman-teman yang baru saja menyimak wacana ini, jangan dulu terkagum-kagum, serta berharap banyak asumsi itu benar adanya. Karena wacana itu sebetulnya sudah lama sekali beredar di masyarakat. 

Saya pertama kali mendengar asumsi bila Gunung Padang=piramid, sejak awal 90-an di ruang diskusi terbatas. Kemudian di awal 2000-an, wacana tersebut kembali menggeliat di masyarakat yang baru saja melek internet. Terutama setelah Kaskus dan Facebook menjadi keseharian netizen.

Tidak hanya Gunung Padang di Cianjur yang menjadi 'tersangka'. Gunung Sadahurip, Garut dan Gunung Lalakon, Soreang juga sempat dituduh sebagai persembunyian piramid yang konon sudah ada sejak 25.000 tahun sebelum masehi.

Bayangkan, 25.000 tahun! Padahal peradaban Sumeria yang dianggap peradaban tertua saja, baru mulai 4000 tahun SM. Peradaban Sumeria memenuhi kriteria disebut peradaban karena  secara umum sebuah budaya harus mencapai beberapa keunggulan, terutama urbanisme yang meliputi kota, irigasi, dan tulisan. Dari kriteria itu, peradaban Bangsa Sumeria telah memenuhinya.

Nah balik lagi ke Gunung Padang (juga Sadahurip, dan Lalakon), apalah benar ada peradaban maju 25.000 tahun lalu di Tatar Sunda hingga bisa membangun sebuah piramida yang lebih tua dari Piramida Giza yang diperkirakan berumur 4.500 tahun lalu?

Piramida Giza sendiri konon dibangun oleh lebih dari 20.000 orang. Temuan arkelogis misalnya, menyebut banyak artefak dan ekofak di sekitar Giza sebagai bukti di situ pernah ada sekelompok besar manusia hidup dan tinggal di saat membangun piramida tertua tersebut.

Apakah ada arfefak dan ekofak ditemukan pula di sekitar Gunung Padang? Sejauh ini belum ada satu pun bukti yang berhasil diungkap ke publik untuk memperkuat asumsi dan interpretasi tersebut.

Spekulasi-spekulasi yang berkembang pun kemudian dimanfaatkan sekelompok orang untuk pemurtadan dan melecehkan agama Islam. Apalagi sekelompok orang yang bernaung di sebuah kelompok, sebut saja TS, yang dulu wara-wiri di Kaskus atau Facebook. Intinya, mereka mengagung-agungkan 'leluhur' Nusantara sebagai bangsa yang maju dan hebat dan menganggap kemunduran Nusantara adalah karena masuknya peradaban Islam.

Kelompok ini pula, yang sepengetahuan saya dari berbagai diskusi selama ini, menolak fakta sejarah Islamisasi Sunda yang masif di tahun 1500-an setelah Kerajaan Sunda Galuh/Pajajaran membubarkan diri. Di mana tidak bisa dipungkiri, suka atau tidak suka, kekuasaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung, merupakan salah satu tolok ukur Islamisasi masyarakat Sunda. 

Padahal, semasa Pajajaran berdiri pun kerajaan bercorak Islam sudah hidup berdampingan, yakni Kerajaan Sumedang Larang.

Kembali menyoal asumsi Gunung Padang sebagai piramida, tentu saja tanpa harus menjadi skeptis, kita tunggu hasil penelitiannya dirilis ke publik. Walau memang tampaknya asumsi dan spekulasi yang berkembang pun sudah menjadi bola liar karena ada banyak pihak yang kemudian mengklaim asumsi itu sebagai kebenaran.

Kalau saya sih merasa aneh saja dengan motif 'karuhun' membangun piramida di Tatar Sunda. Ngapain? Rek naon? Di wilayah yang bergunung-gunung kok membangun piramida. Karena bila melihat di Mesir, Piramida terletak di wilayah dataran rendah, dataran yang cenderung rata sehingga kemunculan piramida boleh lah diinterpretasikan sebagai keinginan manusia pada saat itu untuk mendekati tuhan atau dewa-dewa dalam keyakinannya.

Di kita kan sudah banyak gunung? Ngapain bangun piramid? Yang ada dan menjadi fakta adalah 'karuhun' atau nenek moyang Sunda, membangun makam di puncak-puncak gunung alih-alih membangun piramida. Contohnya saja makam di Puncak Gunung Geulis, Jatinangor dan Gunung Manglayang. Lebih ralistis dan ekonomis.

Tetapi memang tidak dapat dipungkiri bila situs Gunung Padang adalah situs megalitikum di mana pada masa lalu dijadikan tempat ibadah karuhun Sunda. Di mana batu-batu yang terletak di sana besar kemungkinan dibawa dan diletakkan di sana untuk keperluan peribadatan, namun batu-batuan itu murni merupakan bebatuan hasil proses alamiah.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Slide dari diskusi di Museum Geologi 3 Februari 2012


Sabtu, Agustus 20, 2022

LEAP OF FAITH



Ketika payung terbuka dengan suara keras memecah keheningan. Saat kaki Ceppy @bekajaya menjejak di tanah dengan selamat, Ame @svaracahya seolah meledak, seolah lepas dari himpitan beban.

Ternyata menjadi spectator bisa lebih tertekan dibanding sang actor. Sebuah pelukan menjadi pelepas ketegangan sekaligus apresiasi paling jujur, paling spontan, serta kebahagiaan tak terhingga.

Teringat tulisan di baju kaos Sonudemos hari itu: Merdeka harus merdesa.


Sejatinya, kemerdekaan adalah leap of faith. Lompatan kepercayaan.  Seperti halnya seorang base jumper yang melompat dari ketinggian tebing dengan bermodalkan kepercayaan diri yang kuat (dan tentunya skill serta peralatan yang layak).

Kemerdekaan adalah leap of faith. Tapi menuju merdesa, adalah jalan panjang yang masih harus dilakukan dan diperjuangkan sepanjang usia. Setelah merdeka kita harus menjadi pelaku, menjadi actor, bukan sekedar spectator. Agar kemerdekaan bisa kita nikmati dengan kemerdesaan.

Merdeka Indonesiaku. Jayalah bangsaku. 

#HUTRI77 #DirgahayuIndonesia #BerkibarlahMerahPutihku

Ricky N. Sastramihardja

Selasa, Desember 02, 2014

Ngadu Muncang


Seorang anak sedang 'nakolan' buah muncang yang diambilnya dari sebatang pohon kemiri di kaki Gunung Geulis, Jatinangor Sumedang. Buah muncang yang sudah terkupas kulit dan dagingnya, kemudian diambil bijinya. Biji muncang tersebut kemudian dipakai dalam permainan 'ngadu muncang'.

Permainan ngadu muncang (kemiri, candlenut, Aleurites moluccana) adalah permainan tradisonal urang Sunda yang hingga dewasa ini masih banyak ditemui di berbagai pelosok Jawa Barat. Dimainkan oleh anak-anak sebagai permainan, dan oleh orang dewasa kerap dijadikan media perjudian.

Kamis, September 11, 2014

Sarang Burung Puyuh di Gn. Geulis

Sambil ngarengkol di dalam tenda menahan dingin kemarau yang menembus hingga sleeping bag, Puncak Gunung Geulis saat itu dinginnya minta ampun. Terdengar di sekeliling, dari dalam semak dan ilalang seperti ini, suara burung puyuh berciak-ciak.

Suprise. Ternyata semak dan ilalang di sekitar tenda dan bivak adalah sarang, mungkin, burung puyuh. Saya tidak melihat penampakan mereka selain suaranya saja yang berciak-ciak dari terbit matahari sampai kami sarapan dan berbenah untuk meninggalkan shelter.

Suatu keajaiban alam yang baru ini saya rasakan. Pengalaman yang mengasyikan yang sulit dinilai dengan uang.


Selasa, September 09, 2014

Nanjak (lagi) ke Gn. Geulis Jatinangor

Lanskap Tj. Sari dan sekitarnya dari Puncak Gn. Geulis, Jatinangor (1281 m dpl). Di kejauhan tampak Gunung Tampomas (Sumedang, 1684 m dpl). Gunung terdekat dengan Gn. Geulis adalah Gn. Bukit Jarian (1173 m dpl).

Gn. Geulis ini cukup assoy juga. Jaman kuliah dulu di tahun 1992-1997, puncak  gunung ini masih lenglang, terbuka. Tak banyak tetumbuhan. Tapi setelah lebih dari 15 tahun, mulai ketinggian sekitar 900 m cukup banyak pepohonan yang tumbuh di lereng hingga ke puncaknya. Terutama didominasi oleh pohon Lamtoro dan pohon bambu. Di puncaknya pun semak belukar dan rerumputan tumbuh tinggi. Tingginya semak belukar dan rerumputan membuat kami kesulitan untuk mendapatkan pemandangan langsung ke arah Bandung, Cicalengka, Tj. Sari dan sekitarnya.


Kamis, Agustus 28, 2014

Pemandangan interaktif dari Danau Kawah Gunung Galunggung

Pemandangan interaktif dari Danau Kawah Gunung Galunggung.

Coba tekan "click to view" untuk merasakan sensasi berada di dalam Danau Kawah Gunung Galunggung. 

Pemandangan interaktif Puncak Manglayang 360°

Pemandangan interaktif Puncak Manglayang 360° . Coba tekan "click to view" untuk 'merasakan' keadaan di puncak Gunung Manglayang (1824 m dpl), Sumedang Jawa Barat.


Senin, Agustus 25, 2014

Berkah Galunggung



Gunung Galunggung meletus pada tahun 1982. Tetapi sampai hari ini limpahan material vulkanik-nya masih bisa dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi bagi warga sekitar. Seolah tak habis padahal sudah lebih dari 25 tahun ditambang dan dimanfaatkan manusia.


Jumat, Agustus 22, 2014

Nanjak (Lagi) Ke Manglayang

Kabita ku juragan Bobby Victorio Novarro, Rabu kemarin saya nanjak ke Manglayang via jalur barat/Palintang. Rencananya sendiri, akhirnya berdua bareng Gugún Kurniawan.

Dalam ekspetasi, jalur menuju puncak utama dari dinding Barat masih seperti tahun 2010. Saat itu saya dan Donnie D'daam Arie mudun dari puncak Manglayang setelah nanjak dari jalur Baru Beureum.

Ternyata empat tahun berselang di bulan yang sama, Agustus, jalan setapak menuju puncak Manglayang dari Barat sudah menghilang. Beruntung kami menemukan jalur rintisan baru, yang sepertinya belum lama dibuat. Mungkin baru sekitar dua - tiga minggu. Itupun setelah sebelumnya jalur itu diabaikan karena saya pikir merupakan jalur pencari kayu/pemburu.

Setelah mengikuti tag berwarna merah yang dipasang di pepohonan dan semak belukar, akhirnya kami mencapai puncak Manglayang pada sekitar 16.55. Itupun dengan susah payah mengingat kemiringan mencapai 45-60° serta energi kami yang sudah terkuras setelah sebelumnya sempat salah mengambil jalur selama dua jam.

Tiba di puncak puncak pun kami tidak bisa ke pelataran utama (yang ada makamnya). Lagi-lagi karena 'bala', sudah tertup semak belukar. Jalan setapak yang kami ikuti setibanya di puncak akhirnya berbelok ke kiri ke arah Baru Beureum. Tadinya saya ingin mengajak Ugun ke pelataran utama walau harus menerabas semak, tapi karena waktu semakin samporet dan menuju gelap niat itu dibatalkan.



Kami pun turun dari puncak sekitar 17.15 agar tidak terjebak gelap di kemiringan  dinding barat Manglayang.

Manglayang memang tidak terlalu tinggi, hanya 1824 M dpl (berdasar Peta Rupabumi Indonesia lembar 1209-312 Ujung Berung), tapi dari jalur manapun, tanjakannya cukup menantang. Di Manglayang, kita akan merasakan bagaimana betapa dekatnya lutut kita dengan mulut saat menanjak. Cocok banget buat trial bagi teman-teman sebelum mencapai puncak gunung lain yang lebih tinggi.

Selamat buat Ugun yang sukses muncak di  Manglayang pertama kalinya. Ulah kapok ya, engke deui mah disapatu. Ulah disendal :D

Senin, Januari 03, 2011

Against All Odds: Menggerayangi Puncak Tertinggi Garut dalam 24 Jam

Berikut ini adalah tulisan sahabat saya, Adhi Pramudya, yang dipublikasikan di Facebook (http://www.facebook.com/note.php?note_id=490407143258). Spesial di awal tahun ini saya mengutip (baca: menyalin utuh) catatan perjalanan yang kami lakukan di penghujung tahun 2010 yang lalu, untuk mengawali blog ini.

Hak cipta dan publikasi foto, memang milik  saya, tetapi seluruh tulisan (kecuali beberapa 'caption' photo) adalah milik karib saya.

Selamat membaca.

==========================

Di akhir 2009 saya mengajak Ricky N. Sastramihardja untuk melakukan pendakian besar di 2010. Saya sebut pendakian besar karena secara pribadi saya tak pernah lagi melakukan pendakian sejak 4 tahun sebelumnya dan sepanjang 3 tahun terakhir saya total berhenti berolahraga. Bagi saya pendakian besar ini akan menjadi tolok ukur sekaligus titik tolak aktualisasi diri. Apakah setelah sekian lama tidak mendaki, tubuh, pikiran, jiwa saya telah berkarat ataukah masih tetap bisa diandalkan untuk waktu-waktu mendatang? 

Untuk itu saya merencanakan target besar pula, target yang tidak boleh terlalu mudah. Saya menunjuk Gunung Tambora di daerah Sumbawa. Kawah dengan radius 7 km terus menggelitik pikiran saya sepanjang tahun 2009. Namun musim kemarau yang tak kunjung datang di negeri ini sepanjang lebih dari 1,5 tahun, waktu persiapan yang minim, dan biaya perjalanan yang tidak sedikit membuat saya mengurungkan rencana ini. 

Memasuki medio 2010 rencana saya ubah dengan tujuan baru, yaitu Pulau Sempu di Malang Selatan. Ajakan teman dan pemandangan laguna yang terperangkap dalam pulau telah memukau imajinasi saya. Namun rencana ini lagi-lagi gagal akibat ketidakjelasan rencana teman tersebut. Padatnya jadwal kerja juga membuat saya harus mengurungkan niat melakukan perjalanan entah sampai kapan.

Akhirnya memasuki Desember 2010, saya bertekad melawan semua rintangan yang ada. Kembali mengajak Ricky, saya menetapkan target baru yang paling mungkin untuk dicapai dari segala aspek. Namun sekali lagi target ini tidak boleh terlalu mudah. Saya harus memilih tujuan yang sama sekali belum pernah saya kunjungi. Pilihan jatuh pada Gunung Cikuray, 2.821 mdpl, sebuah titik tertinggi di wilayah Garut. 

Walaupun tertinggi di wilayah Garut, Gunung Cikuray adalah gunung yang kurang populer di kalangan pendaki. Puncak Cikuray yang misterius, hampir selalu tertutup kabut, dan ketiadaan mitos-mitos lokal membuat Cikuray tidak lebih kondang dari Gunung Guntur yang berpasir dan terlihat masif, apalagi jika dibandingkan dengan Gunung Papandayan yang relatif mudah dicapai dengan kendaraan bermotor dan memiliki pemandangan eksotik di sana sini, dan dipuja sejak zaman penjajahan. 

Niat mendaki Cikuray terus saya pelihara di dalam benak saya sepanjang bulan ini. Dibayang-bayangi pikiran takut gagal lagi akhirnya kami berketetapan hati untuk berangkat dan menemukan momen yang dianggap tepat, yaitu waktu di antara Final Leg 1 dan 2  Piala AFF, antara Indonesia melawan Malaysia. Dengan waktu persiapan logistik dan peralatan yang tidak lebih dari 1 malam di tanggal 26, kami akhirnya berhasil mengajak satu lagi rekan, Donnie Arie, untuk bergabung melakukan perjalanan keesokan harinya.

Kami berangkat menggunakan bus dari terminal Cicaheum, Bandung pada pukul 10.30 menuju terminal Guntur, Garut. Tiba di sana kami makan siang dan melengkapi beberapa logistik  yang masih kurang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke daerah Cilawu dengan angkot. Tiba di Cilawu kami melanjutkan dengan ojek melewati perkebunan teh PTPN VIII Dayeuh Manggung menuju Stasiun Relay, yang terletak tepat diantara batas perkebunan dan hutan Cikuray. Di pintu gerbang perkebunan Ricky diminta untuk menitipkan kartu identitas dan dikutip uang Rp. 10.000,- oleh satpam perkebunan.

Perjalanan menuju Stasiun Relay ini sama sekali jauh dari kata mudah. Jika menempuhnya dengan berjalan kaki, Stasiun Relay akan dicapai setelah 3-5 jam melewati perkebunan teh yang sangat-sangat luas. Dengan ojek pun perjalanan cukup menantang. Dengan waktu tempuh 40-60 menit Anda akan melewati jalan berbatu-batu kasar, kubangan air, naik turun yang tiada henti, dan percabangan jalan yang begitu memusingkan. Namun dengan jarak tempuh sekitar 12 km, ongkos yang ditetapkan terasa sangat sepadan. 

Namun tidak hanya itu tantangan yang kami hadapi. Setengah perjalanan melewati perkebunan teh, Cikuray menyambut kami dengan hujan yang cukup deras. Dengan laju ojek yang mirip roller coaster dan kecepatan angin pegunungan yang tidak ramah, kami tak bisa membayangkan jika kami harus menempuh perkebunan super luas ini dengan berjalan kaki. Angin yang  berputar bahkan bersuara keras seperti deru angin pantai. Inilah ketidakramahan pertama Cikuray yang kami rasakan. Namun lagi-lagi tantangan tidak berhenti sampai di situ. 

Saking derasnya hujan, pengemudi ojek akhirnya memakai jas hujan untuk menutupi badan. Sebagai penumpang kami juga ikut kebagian tertutupi oleh lembaran belakang jas hujan, namun justru di situlah masalahnya. Kami tidak bisa melihat apapun yang ada di depan dan sekitar kami. Saat itu kami hanya menyerahkan keselamatan kami pada Tuhan dan percaya sepenuhnya pada kemampuan pengemudi ojek dalam mengendalikan tunggangannya. Akhirnya sekitar pukul 15.00 kami tiba di Stasiun Relay dengan keadaan basah kuyup. 

Stasiun Relay ini dihuni beberapa stasiun televisi nasional. Dari titik inilah biasanya para pendaki menetapkan waktu permulaan dan akhir perjalanan. Di StasiunRelay ini kami menumpang istirahat, mengepak ulang, dan mengisi air bersih, karena memang Cikuray tidak memiliki sungai atau aliran air yang mudah dimanfaatkan. Inilah ketidakramahan Cikuray yang kedua. Tepat pukul 16.00 kami berangkat menuju punggungan gunung dengan satu doa sebelum perjalanan: semoga kami mendaki dalam keadaan cerah.


Tuhan mengabulkan doa kami, cuaca mendadak cerah. Tantangannya sekarang adalah pembuktian yang sebenarnya: mampukah kaki-kaki kami mendaki seperti tahun-tahun yang lewat? Di pinggiran perkebunan teh menuju hutan Cikuray kami disajikan jalan menanjak dengan kemiringan 30-40 derajat. Melewati sisa semak-semak teh kami mulai berada di punggungan gunung dengan ladang akar wangi di sekitar kami. 

Pemandangan dari sana begitu membahagiakan. Stasiun Relay terlihat cantik dengan menara-menaranya yang menjulang dan dilukis dengan lembah dan pemandangan Gunung Guntur dan Galunggung yang cantik di latar belakangnya. Dari sana menatap ke arah puncak Cikuray, terlihat jelas punggungan yang akan menjadi jalur kami menuju puncak. Melihat ketinggian dan kemiringannya, mau tidak mau kami pun menarik nafas panjang. Sungguh menantang.



Tanjakan pertama: melewati perkebunan teh. pada saat perjalan pulang, akhirnya kita sadar bahwa tanjakan ini adalah berubah menjadi turunan yang sangat berbahaya....

Lepas dari ladang akar wangi kami memasuki semak pakis yang rimbun dan pepohonan yang mulai meninggi. Inilah pintu hutan Cikuray. Jalur yang kami lewati masih tergolong landai dan di beberapa bagian agak meninggi dengan pijakan akar. Karena berangkat dari Stasiun Relay cukup sore maka target kami adalah menempuh jarak maksimal sampai kami berhenti di pergantian terang ke gelap. Tepat pukul 17.30 kami sampai pada lahan yang cukup rata di sisi kiri jalur dan bisa memuat 2 buah tenda. Kami memutuskan untuk bermalam di situ. 

Setelah menaruh beban, saya meminta Donnie dan Ricky untuk membangunflysheet sebagai shelter awal, dan saya memutuskan sementara naik sendirian untuk melakukan pengintaian jalur ke atas karena keadaan masih cukup terang. Beberapa puluh meter berjalan saya menemukan persimpangan jalan yang terbuka. Ada satu plang kecil bertanda panah ke kanan yang dipakukan ke batang pohon, namun agak meragukan. Saya memutuskan untuk mengambil jalur sebelah kiri. 

Semakin saya menempuhnya semakin rapat pula vegetasi yang ada, semakin basah jalurnya, semakin sulit karena banyak batang pohon tumbang, dan tentunya semakin gelap. Akhirnya saya memutuskan untuk berbalik arah ke persimpangan jalan sebelumnya. Saya menyadari bahwa ini adalah jalur yang salah. Waktu sudah sedemikian sempit karena cahaya sudah mulai pudar. Sampai di persimpangan saya lantas mengambil jalur yang benar dan menemukan kenyataan bahwa jalur mulai menanjak serius dari situ menuju puncak. 

Kembali ke camp keadaan sudah gelap dan kami mulai membangun tenda dan mengorganisasi persiapan istirahat dengan efektif. Kami menargetkan untuk tidak tidur terlalu larut, agar tetap bugar keesokan harinya agar mampu menghadapi jalur yang terhitung sulit menuju puncak. Dan dimulailah kegiatan favorit para pendaki gunung: memasak! Saya bertindak sebagai chef dan Donnie sebagai asisten chef. Ricky? Tentu saja sebagai pelanggan yang berharap acara memasak ini menjadi demonstrasi fast food mengingat jeritan perutnya yang sedemikian menuntut.





Menu makan kami malam itu adalah nasi putih dan deep-fried caramelized chicken, dilengkapi pop-corn sebagai makanan ringan serta kopi hangat sebagai penutup. Selesai makan waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Kami masuk ke dalamsleeping bag dan beristirahat. Malam itu saya tidak bisa tidur pulas semenit pun. Entah mengapa. Mungkin pikiran saya sudah lebih dulu berjalan-jalan ke puncak gunung ini, sehingga sering kali terjaga. 

Di luar tenda angin bederu kecang dan menampar-nampar pepohonan sepanjang malam. Sempat turun hujan kecil sekitar pukul 1 atau 2 dini hari, namun Cikuray terbilang cukup ramah malam itu. Kami beristirahat dengan tenang. Beberapa menit sebelum pukul 4 pagi saya memutuskan untuk bangun, melipat sleeping bag, membangunkan Donnie, dan langsung memasak untuk sarapan. Ricky bangun 1 jam kemudian.






Menu sarapan pagi itu adalah nasi putih, pan-fried corned beef, dan sup sayuran lengkap, ditutup dengan teh dan kopi panas. Di gunung ini tidak pernah ada hidangan yang panasnya bertahan lebih dari 3 menit. Suhu yang rendah membuat semua makanan atau minuman cepat mendingin dan harus disantap dengan segera. Selesai sarapan kami membereskan peralatan. Mempertimbangkan jalur yang tak mudah, kami memutuskan untuk meninggalkan sebagian peralatan dan logistik. Kami hanya membawa peralatan dan logistik yang dianggap urgen.

Pukul 07.00 kami meninggalkan camp dan menuju puncak. Di persimpangan jalan terbuka, kami berhenti sejenak untuk menutup jalur yang menyesatkan itu dengan dahan-dahan kayu dan menandainya. Dari sana jalur semakin terjal dan mulai menampakkan kesulitannya dalam keadaan terang. Jalur yang kami lewati masuk ke dalam hutan zona Sub-Montana yang terdiri dari pohon-pohon tinggi dan semak berdaun lebar, serta kabut yang masih terbilang masih tipis. Pijakan kami mayoritas terdiri dari pijakan akar pohon atau semak. Bahkan sering kali kami memerlukan bantuan tangan untuk mempertahankan keseimbangan. 







Namun bukan itu yang menjadi faktor kesulitan, melainkan sepanjang jalur menuju puncak ini mengingatkan saya pada kemasyhuran jalur Linggarjati yang ada di Gunung Ciremai, di mana sepanjang jalan ketika naik, lutut Anda berkali-kali akan menyentuh dagu. Di sepanjang jalan mungkin Anda hanya akan menemui 3 atau 4 pijakan landai di jalur utama, dan itu pun sangat pendek. Di luar itu Anda akan menemui jalur dengan kemiringan 40-50 derajat. Artinya penderitaan Anda tidak akan berakhir dengan singkat. Inilah ketidakramahan Cikuray yang ketiga. 







Jalur menuju puncak dapat dikenali dengan mudah. Pendaki-pendaki sebelumnya meninggalkan string tag berupa tali rafia yang diikatkan pada batang pohon. Namun bukan hanya itu, jalur sangat-sangat mudah dikenali karena pendaki-pendaki sebelumnya juga meninggalkan banyak sampah (!) berupa bungkus makanan, botol plastik, kaleng minuman, dan kantong keresek di sepanjang jalur, juga di beberapa pelataran landai yang digunakan sebagai camp. Edukasi yang kurang menyebabkan pendaki-pendaki ini enggan membawa turun sampah mereka. Sebuah perilaku tipikal yang mencoreng citra pendaki gunung dan sama sekali tak pantas ditiru.




Saya berjalan paling depan dan meninggalkan Donnie dan Ricky yang juga bertujuan untuk melakukan dokumentasi foto. Walaupun yang terdepan, perjalanan tidak saya lalui dengan mudah. Namun saya sangat menikmati pendakian yang sulit ini. Apalagi kalau bukan karena pemandangannya. Lepas dari zona Sub-Montana, Cikuray menyajikan pemandangan hutan khas zona Montana yang begitu memukau. Pohon-pohon tinggi yang basah, lumut tebal yang menempel di sana sini, dan tentunya kabut melayang yang seolah-olah membeku di sekitar kita. 






Akhirnya saya tiba di satu pelataran terbuka yang dikenal sebagai Puncak Bayangan tepat satu jam setelah berangkat. Setelah beristirahat untuk minum, saya segera melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari sana jalur yang dilalui lebih rapat, basah, terjal, dan berkabut daripada sebelumnya. Lebih pendek namun kemiringannya mencapai hampir 50-60 derajat. Setelah beberapa lama, saya mulai menemui jalur berbatu, pohon-pohon tinggi mulai menghilang, dan hutan dipenuhi semak pendek khas zona Sub-Alpin. Dari pemandangan itu saya sudah tahu: puncak sudah dekat!


Tak begitu lama saya menemui pijakan-pijakan batu ukuran sedang dengan vandalisme berupa coretan-coretan cat. Di sekitarnya terhampar semak eidelweiss, cantigi, cemara gunung, dan arbei yang sudah marak dengan bunga. Segera saya mempercepat langkah naik. Dan akhirnya tepat pukul 09.00 saya mencapai puncak!


PUNCAK!

Puncak Cikuray ditandai dengan adanya bekas Pos Relay yang berupa bangunan kotak dari dinding plesteran. Dulunya Pos Relay ini masih dilengkapi dengan pintu baja, jendela, peralatan operasi relay, dan menaranya. Namun semua itu sekarang hilang dan menyisakan bangunan kotak tanpa pintu dan jendela yang penuh dengan coretan cat. Di sana saya bertemu dua orang pendaki yang lebih dulu sampai lewat jalur pendakian Cikajang.


Saat itu puncak Cikuray ditutupi kabut tebal dan angin super kencang. Tak disangka saya sempat menerima panggilan telepon. Ternyata ada sinyal selular yang beberapa kali tertangkap di sana, namun sebentar kemudian drop. Dalam keadaan menggigil dan tangan yang mulai kebas, saya sempat berkirim pesan pendek namun tak lama sinyal dan baterai ponsel saya drop. Dengan murah hati saya sempat disuguhi kopi panas oleh kedua orang kawan baru saya ini. Satu jam setelah saya sampai di puncak, akhirnya Donnie tiba, dan Ricky menyusul 15 menit kemudian.

Kami langsung memasak air dan membuat susu cokelat panas dan mengeluarkan biskuit serta jelly sebagai menu makan siang kami. Berlima kami menikmati hidangan on-the-go sederhana ini. Memang kami belum sampai pada jam makan siang, namun angin yang dingin membuat kami harus mempertahankan suhu badan kami. Setelah itu kami berfoto ria dan saling bertukar nomor kontak dengan rekan kami dari Cikajang ini. 


Kabut tebal dan angin kencang terus saja mengurung kami yang berada di puncak. Sempat tersingkap sebentar, puncak Cikuray menghadirkan pemandangan luar biasa megah. Lembah Cikajang yang hijau dan Gunung Papandayan yang memukau di belakangnya. Sayang, pertunjukan ini hanya berlangsung beberapa detik saja, setelah itu kabut kembali naik. Alhasil, kami tidak berhasil mendapatkan foto pemandangan dari puncak. Tepat pukul 11.00 kami memutuskan untuk kembali turun dan meninggalkan kedua rekan kami tersebut yang masih memasak makanan. 


Seperti biasanya saya turun dengan lebih dahulu. Donnie dan Ricky menyusul. Ricky pun hanya mengambil sedikit saja gambar, karena mayoritas sudah diambil ketika perjalanan mendaki. Namun jangan Anda kira perjalanan akan menjadi mudah walaupun ini menurun. Pijakan yang berjauhan membuat lutut dan telapak kaki Anda bekerja lebih keras untuk menahan bobot tubuh, beban bawaan, dan menahan keseimbangan agar tidak terjatuh. Dengan pijakan yang berjauhan seperti ini, jika Anda terjatuh, maka risikonya akan lebih besar dibandingkan dengan pijakan yang landai.

Ternyata perjalanan turun pun cukup melelahkan. Setengah jam turun dari Puncak Bayangan saya sempat bertemu dua rombongan pendaki yang akan naik, satu dari Padalarang dan yang satunya dari Tangerang. Setelah mengobrol sebentar kami melanjutkan perjalanan kami masing-masing. Saya tiba di camp di mana kami bermalam tepat pukul 13.00. Artinya perjalanan yang saya tempuh, naik dan turun, memakan waktu yang sama (!). Sungguh perjalanan turun yang sama sekali tak mudah. Lagi-lagi perjalanan ini mengingatkan saya akan jalur Linggarjati yang kondang itu.


Setelah mengeluarkan peralatan yang kami sembunyikan, saya menunggu dua rekan saya turun. Cukup lama saya menunggu. Dan tepat seperti dugaan saya, satu jam kemudian mereka datang. Persis sama dengan waktu mereka mendaki. Tak menunggu lama setelah mereka datang, kami mulai mengepak ulang dan melanjutkan turun pada pukul 14.20 menuju Stasiun Relay kembali. Tak disangka, mulai dari saat itulah sesuatu yang aneh terjadi pada diri saya.

Saya mencoba berjalan turun seperti biasa, namun lama kelamaan keseimbangan saya mulai hilang. Seolah-olah kaki saya tidak lagi memiliki otot. Baru pertama kali (!) dalam hidup saya mengalami hal seperti ini dan saya tidak tahu apa sebabnya. Saya betul-betul kepayahan. Saya turun dengan mengandalkan pegangan tangan dan pengaturan keseimbangan. Pengalaman mengatur keseimbangan dalam olahraga panjat tebing benar-benar membantu. Jika tidak, saya pasti sudah ambruk pada saat itu.

Donnie tampak lebih baik dalam hal berjalan turun. Untuk itu saya minta ia berjalan di depan dan menunggu di ladang akar wangi agar pergerakan tim tetap lancar. Ricky? Anda sudah bisa menduganya. Walaupun ia sudah kepayahan sejak awal turun dari puncak dan tertinggal di belakang, tapi saya percaya bahwa ia mampu melewati kesulitannya. Ricky sudah pernah melewati tantangan yang lebih berat daripada ini. Kesulitan untuk saya belum berakhir. Mendekati pintu keluar hutan sudah tidak ada lagi pohon besar yang bisa saya raih, hanya ada semak pakis yang pendek, dan jalan pun semakin licin oleh lumut. 

Namun dengan susah payah saya akhirnya berhasil sampai di ladang akar wangi di mana Donnie telah menunggu. Dari sana Stasiun Relay sudah tampak begitu dekat. Donnie tampak melepaskan barang bawaannya dan berjalan-jalan di sepanjang galur ladang. Tak lama ia bercerita bahwa ia pun mengalami hal yang serupa dengan saya (!), terutama ia rasakan ketika berada di jalan datar. 

Ternyata bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Dari situ saya paham bahwa kaki saya yang tidak pernah lagi digunakan untuk berolahraga intens lah yang menyebabkan saya begini. 3 tahun total berhenti olahraga dan langsung melakukan pendakian yang cukup berat dalam waktu yang singkat membuat otot saya mengalami overburn. Namun Donnie tampak jauh lebih baik karena kakinya sering digunakan untuk berolahraga futsal. Ricky? Saya enggan membayangkan dan cukup mengerti saja dalam hati.

Sedianya kami akan menunggu Ricky di titik itu dan baru melanjutkan perjalanan setelah ia datang. Namun tidak begitu lama saya datang, hujan mulai turun. Tadinya kami berniat bertahan, namun hujan malah turun semakin deras. Khawatir kondisi fisik kami semakin drop, akhirnya saya memutuskan untuk turun menuju Stasiun Relay bersama Donnie. Saya juga khawatir jika kami berada di area terbuka dalam kondisi hujan, maka potensi petir akan mendekati kami. 

Kami bergegas turun melewati ladang akar wangi dan semak-semak teh. Bergegas? Tidak juga. Karena kondisi kaki-kaki kami yang sudah kepayahan, perjalanan menuju Stasiun Relay jadi berkali lipat lebih sulit. Jalan yang licin, aliran air yang deras, ketiadaan pegangan membuat perjalanan turun makin sulit. Dan dengan segala daya upaya akhirnya kami berhasil mencapai Stasiun Relay. Donnie tiba beberapa menit lebih dulu. Saya tiba pada pukul 15.15. Kami berdua tiba dengan kondisi basah kuyup. 


Sambil menunggu datangnya Ricky, saya dan Donnie langsung bekerja sama memasak makanan panas. Saya memutuskan untuk memasak macaroni bolognaisedan kopi. Sembari memasak kami mengganti pakaian dengan pakaian kering. Kami sempat khawatir karena Ricky tak kunjung muncul. Mendekati sore hari tampak sesosok bayangan muncul dan mendekat dari semak-semak teh. Ternyata itu Ricky. Sempat mengambil percabangan jalan terakhir yang salah di kebun teh, akhirnya Ricky berhasil turun dan sampai di Stasiun Relay tepat pukul 16.00. 


Itu berarti tepat 24 jam, kami, trio pendaki nekat, telah tuntas menunaikan niat kami mendaki Gunung Cikuray yang selama ini hanya kami lihat kecantikannya dari jauh. Allahu Akbar! Ricky yang sampai di Stasiun Relay langsung membaringkan diri dengan tubuh kakunya ke lantai namun tetap tertawa-tawa. Kami semua tertawa-tawa. Menertawakan kepayahan kami, menertawakan kesuksesan niat, menertawakan kehangatan kisah perjalanan. Sungguh indah. 

Setelah makan sore itu, berganti pakaian kering, dan mengepak ulang peralatan, kami menghubungi ojek untuk menjemput kami. Terima kasih Tuhan. Anda bisa membayangkan, apa yang harus kami lakukan dan apa yang akan kami alami untuk turun ke Cilawu jika saat itu teknologi selular belum ada di Indonesia. Setelah berpamitan pada penjaga Stasiun Relay, kami turun dengan ojek pada pukul 18.00, melewati perkebunan Dayeuh Manggung yang gelap berkabut dan tiba di Cilawu sekitar pukul 19.00.


Kami cukup lama menunggu datangnya angkot yang akan mengantarkan kami ke terminal Guntur. Sekitar pukul 20.30 kami tiba di terminal. Untuk ukuran Garut itu sudah cukup larut. Akibatnya tidak ada lagi bus yang beroperasi untuk mengantarkan kami kembali ke Bandung. Namun setengah jam kemudian akhirnya kami menemukan mobil omprengan yang menuju Bandung. Memang berdesak-desakan, tarif lebih tinggi bahkan dari bus AC, dan suasananya sumpek karena beberapa orang merokok di dalam mobil yang kecil itu, namun kami bersyukur akhirnya kami tiba di Bandung malam itu juga dengan selamat dan relatif cepat.

Dalam perjalanan pulang dari Cilawu Ricky sempat bercanda dengan mengatakan bahwa ia kapok mendaki gunung, namun kami tahu bahwa itu tidak mungkin, sebab mendaki gunung akan selalu menjadi salah satu kegemaran dan kenakalan yang kami pelihara. Karena kami tahu bahwa jika kami tidak mendaki gunung, itu sama artinya dengan membiarkan tubuh, pikiran, jiwa kami berkarat, dan pasti kami akan menua semakin cepat. Pada saat di camp saya pun membagi adagium yang saya percayai betul kesaktiannya kepada Ricky dan Donnie.

Adagium itu berbunyi, "Anda tidak berhenti bermain karena Anda menjadi tua, namun Anda menjadi tua karena Anda berhenti bermain".

Selamat tahun baru!