Tampilkan postingan dengan label Persib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persib. Tampilkan semua postingan

Jumat, Maret 14, 2025

KEMBALI MENYOAL KELAHIRAN PERSIB: MENOLAK 14 MARET 1933


Apakah benar Persib lahir 14 Maret 1933? Dari penelusuran Anggalarang dan Atep Kurnia, bukan.

Berdasar arsip koran Sipatahoenan, Atep dan Anggalarang menyebut bila Persib dilahirkan 18 Maret 1934 sebagai hasil fusi (penggabungan) PSIB (Persatuan Sepakraga Indonesia Bandoeng) dengan NVB (National Voetbal Bond).

Tanggalan ini juga tercantum dalam opsi yang disampaikan tim peneliti dari Jurusan Sejarah Unpad seperti dalam Naskah Akademik Hari Jadi Persib hasil riset mereka yang dibiayai Persib di tahun 2023.

"Tanggal 18 Maret 1934 bisa dipertimbangkan sebagai harijadi Persib apabila merujuk pada penggunaan PERSIB sebagainama perserikatan dan/atau klub," demikian tercantum dalam Naskah Akademik Hari Lahir Persib yang ditulis oleh Prof. Kunto Sofianto, Ph.d et.al.

Lalu darimana tahun lahir 14 Maret 1933? Anggalarang menyebut bila kemungkinan berasal dari tulisan R. Ibrahim Iskandar di tahun 1973.

"Satu-satunya keterangan yang menyebutkan bahwa Persib lahir di 14 Maret 1933 adalah berdasarkan keterangan R. Ibrahim Iskandar di “Pasang Surut 40 Tahun Persib” yang dirilis tahun 1973 atau 2 tahun sebelum beliau meninggal dunia," ungkap Anggalarang (Tjatatan Ketjil, 2020).

Kunto juga menyebut bila.."Apa yang diberitakan oleh Sipatahoenan edisi 19 Maret 1934 adalah berita atas peristiwa yang "baru saja terjadi" (kelahiran Persib) sehari sebelum diangkat menjadi berita (disebarluaskan) oleh surat kabar tersebut. Dengan demikian, informasi yang menyebutkan kelahiran Persib pada Maret 1933, terbantahkan oleh fakta yang terdapat pada surat kabar Sipatahoenan edisi 19 Maret 1934."

Jadi jelas bila Persib memang tidak lahir 14 Maret 1933. 
Lalu darimana tanggalan 5 Januari 1919 muncul? Tanggalan ini muncul dalam alternatif kedua yang disampaikan para peneliti dari Jurusan Sejarah Unpad dalam naskah akademiknya itu.

"Alternatif kedua ini merujuk pada tahun kelahiran Bandoengsch Inlansch Voetbal Bond pada 5 Januari 1919. Tanggal tersebut muncul dari analisis terhadap berita Kaoem Moeda, 7 Januari 1919 dan Kaoem Moeda, 30 Desember 1918. Pertimbangan tersebut merupakan kali pertama penyebutan suatu bond atau perserikatan sepakbola bumiputera di Bandung dengan nama Bandoengsch Inlansch Voetbal Bond (BIVB). Sebelum tanggal itu, tidak ditemukan adanya bond atau perserikatan sepakbola bumiputera serupa di Bandung."

Jelas tahun lahir 1919 yang kemudian diklaim PT. PBB sebagai tanggal lahir Persib yang shoheh, justru tidak shoheh (valid). Hanya sebagai klaim untuk melegitimasi Persib sebagai klub yang lahir lebih awal dari PSSI. Agar teori bila Persib sebagai pendiri PSSI di 11 April 1930 terpenuhi.

Jelas BIVB 5 Januari 1919 tidak berhubungan dengan Persib sebagai klub. Tetapi hanya sebagai penanda kelahiran klub sepakbola pribumi (inlansch) di Gemeente (Kotamadya) Bandoeng. 

Bila kemudian disangkutpautkan dengan Persib Bandung sangat wajar karena BIVB ini kemudian menginspirasi lahirnya klub-klub sepakbola pribumi di Bandung dari periode 1919 hingga 1934.

BIVB yang inlansch bukanlah BIVB yang berubah jadi Persib. Hubungan mereka hanyalah sebatas dalam runutan linimasa sejarah perkembangan sebuah kota dan masyarakatnya. Bukan perubahan sebuah klub sepakbola. Teu hil walahir.

Lalu kenapa kemudian PT. PBB mengklaim 5 Januari 1919 sebagai hari lahir Persib? Selain alasan retoris mengambil dari akar sejarah sepak bola pribumi, sebagai pendiri PSSI, juga ditengarai untuk kepentingan bisnis atau ekonomi.

PT. PBB sepertinya merasa akan lebih menguntungkan untuk memonetisasi tahun lahir 1919, karena menjadi menjadi klub 'tua' yang sejajar dengan PSM Makassar (1915) yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. 

Kata centenial terasa lebih bernilai jual karena sudah hidup lebih dari 100 tahun lamanya.

Tentu saja kita Bobotoh mendukung apapun yang dilakukan PT. PBB untuk menjaga roda ekonomi klub. Tetapi memanipulasi sejarah demi ekonomi dan gengsi klub, rasanya tidak elok. 

Barieukeun!

Ricky N. Sastramihardja
14 Romadon 1446 H
14 Maret 2025

📷 Visualisasi ringkasan sejarah PERSIB Bandung yang dibuat Hary G. Budiman di X @hgbudiman 5 Januari 1919.

Kamis, Februari 20, 2025

CERITA DARI PERTANDINGAN PERSIB DI PEKAN KE-23 LIGA 1 2024/2025


Pertandingan melawan Persija Jakarta selalu menyimpan banyak cerita. Pertandingan antara Persib Bandung menghadapi Persija Jakarta memang usai dalam 2x45 menit. Tetapi ceritanya akan bertahan setidaknya hingga pertandingan berikutnya.

Seperti halnya pertandingan putaran ke-2 Liga 1 2024-2025 yang digelar di Stadion Patriot Chandrabaga, Kota Bekasi, 16 Februari 2025 kemarin. Pertandingan tersebut berakhir dengan skor imbang 2-2 (2-0) untuk kedua kesebelasan. Tambahan poin satu angka dari laga tandang membuat Persib semakin nyaman berada di puncak klasemen sementara hingga pekan ke-23. 

Sedangkan Persija Jakarta tertahan di posisi ke-4 setelah di pertandingan lain, Persebaya Surabaya menang tipis 1-0 (0-0) dari PSBS Biak. Sedangkan Dewa United yang di lima pekan sebelumnya meraih kemenangan, tumbang oleh Madura United yang berada di zona degradasi dengan 3-1 (2-0).

Sisa 11 pertandingan membuat Persib Bandung harus semakin bekerja keras dan berfikir cerdas bila ingin mempertahankan gelar juara liga. Badai cedera dipastikan harus dikelola dengan baik oleh coach Bojan Hodak. Dipastikan ia dan staf harus memutar otak untuk memilah dan memilih pemain-pemainnya yang akan akan tampil di 11 pertandingan berikutnya.

***

Lalu apa cerita di balik pertandingan panas Persija vs Persib? Tidak lain adalah adanya tindak kekerasan yang dilakukan 'Begalmania' Jakmania terhadap Bobotoh yang dikabarkan tertangkap menyusup ke dalam stadion. Penyusupan yang dilakukan Bobotoh ini sebetulnya tidak mengherankan karena Stadion Patriot yang digunakan Persija untuk menjamu Persib adalah salah satu kantong Bobotoh Persib di luar Bandung.

Bekasi adalah salah satu kota di Bodetabek yang memiliki jumlah Bobotoh yang banyak.Sehingga bila dikatakan sebagai penyusup rasanya kurang tepat. Sebab Bekasi adalah kota mereka, Stadion Patriot adalah stadion mereka. Menyusup di rumah sendiri akibat regulasi larangan suporter mendukung klub di pertandingan tandang. Apalagi pertandingan dengan tingat rivalitas suporter yang panas, di luar nurul dan di luar prediksi BMKG.

Selain tindak kekerasan di dalam stadion, tindak kekerasan juga terjadi di luar stadion. Sebut saja Asep Abdul Rohman (28 tahun) yang dikeroyok oleh pendukung Persija. Padahal saat itu lelaki asal Sukabumi itu sedang mencari nafkah dengan berjualan tahu Sumedang di sekitaran stadion. Selain menderita luka-luka, Asep juga kehilangan harta bendanya yang dirampok oleh pelaku pengeroyokan.

Hal ini menunjukan sikap rasis yang dilakuan para suporter Persija karena menyangkutpautkan dagangan kuliner khas etnis Sunda dengan dukungan terhadap klub sepak bola. Sudah menjadi rahasia umum bila pendukung Persija umumnya rasis terhadap urang Sunda yang memang hampir 100 % menjadi pendukung Persib Bandung.

Di Stasion Jatinegara, Iwan seorang lelaki paruh baya dikeroyok sejumlah supporter Persija karena ia mengenakan jersey Persib di hari pertandingan itu. Dalam video yang tersebar di media sosial, Iwan berlari menghindari kejaran Begalmania namun tak uruang tertangkap dan dikeroyok. Untung saja petugas keamanan di Stasion Jatinegara sigap melindungi pria berkebutuhan khusus tuna rungu dan tuna wicara itu hingga nyawanya terselamatkan.

Sungguh suatu perilaku yang tidak bisa ditolerir melakukan tindak kekerasan pada kaum disabilitas.

Cerita lainnya: Stadion Patriot Chandrabaga mengalami kerusakan di beberapa tempat. Sebagian pagar pembatas tribun yang rubuh, beberapa kursi stadion yang hilang dan rusak, juga sebagian pagar stadion yang roboh akibat berusaha diterobos oleh Begalmania yang tidak memiliki tiket masuk.

***

Kembali ke pertandingan, keberhasilan Persib Bandung menahan imbang Persija Jakarta dengan skor 2-2 menjadi pertandingan dengan tingkat ketegangan tersendiri bagi para Bobotoh. Betapa tidak, tertinggal 2-0 di babak pertama membuat perasaan menjadi tidak karuan. Apalagi dua gol yang tercipta oleh pemain Persija sepertinya terlalu mudah akibat para pemain Persib yang sepertinya kurang konsentrasi alias malaweung.

Namun gol Nick Kuipers di babak ke-2 membuat asa kembali mekar. Ditambah kemudian, David da Silva berhasil menyeimbangkan kedudukan menjadi 2-2. Skor imbang ini bertahan hingga wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. Hasil ini menyesakkan Persija dan pendukungnya karena jelas mereka gagal menang setelah sempat unggul. Sedangkan bagi Persib dan para bobotoh, tidak jadi kalah dan malah menambah 1 angka membuat perasaan 'bungah' luar biasa.

Hasil imbang inilah yang membuat kerusuahan terjadi di stadion setelah pertandingan berakhir. Selain menyalakan flare, petasan, dan melempar botol, para Begalmania melukai pemain Persib, Tyronne del Pino . Tyronne terkena lemparan botol di pelipisnya saat hendak menuju ke lorong usai pertandingan.

Dari banyaknya kasus yang terjadi di dalam dan di luar stadion,  sudah seyogyanya Komdis PSSI memberikan sanksi setimpal bagi Persija. Baik itu sanksi denda, maupun sanksi lainnya. Sedangkan peristiwa di luar stadion berupa kerusuhan, pengeroyokan, pemalakan, hingga pencurian harus mendapat sanksi pidana dari aparat penegak hukum.

Jangan biarkan para pelaku kejahatan itu melenggang tanpa tersentuh hukum, karena dampaknya akan berlipat ganda di masa depan. Tanpa adanya efek jera, akan sulit mengontrol perilaku suporter. Apalagi bila sudah mengarah ke tindak kriminal.

Pertanyaanya adalah, apakah  Komsis PSSI berani untuk menjatuhkan sanksi bagi Persija? Juga apakah bisa aparat kepolisian menangkap pelaku pengeroyokan  dan kejahatan atas nama sepak bola yang sebetulnya adalah tindak pidana?

YTTA. Biasanya sih Persija selalu bisa berkelit dari hal-hal seperti ini. Seolah dilindungi, seolah kebal hukum. Pelanggaran-pelanggaran seperti ini yang akhirnya menambah durasi cerita setelah pertandingan sepak bola.

Ditambah masifnya propaganda yang dilakukan di medsos dan media massa oleh para suporternya untuk mengalihkan isu tindak kriminal yang sudah mereka lakukan. Belum lagi pembenaran-pembenaran atas tindak rasisme dan kekerasan, yang memang sudah terbiasa mereka lakukan.

Ricky N. Sastramihardja.

📷Simamaung

Jumat, Januari 03, 2025

PERSIB (HARUS) HANCURKAN MITOS PARUH MUSIM!


Menyisakan satu pertandingan tunda melawan Bali United, Persib Bandung mengunci juara paruh musim Liga 1 musim 2024-2025 ini. Tambahan tiga angka dari Solo setelah menumbangkan tuan rumah Persis Solo pada 29 Desember 2024, membuat Persib menyalip posisi Persebaya Surabaya yang berpekan-pekan sebelumnya berada di puncak klasemen. Persib mengantungi 38 angka dari 16 pertandingan dan menyisakan 1 pertandingan tunda pada tanggal 7 Januari 2025 mendatang.

Menariknya, tidak semua Bobotoh riang dengan raihan juara paruh musim ini. Mereka umumnya Bobotoh senior yang mengalami pedasnya kenyataan di paruh ke dua kompetisi, Persib justru melempem. Padahal sebelumnya menjuarai putaran satu. Sebut saja musim 2006-2007 saat dibesut oleh Arcan Iurie. Begitu juga saat dilatih oleh Mario Gomez di musim 2017-2018.

Mitos yang beredar adalah karena berdasar data siapapun yang menjuarai paruh musim, biasanya melempem di putaran ke-2.Sebut saja yang terdekat, Borneo FC yang menjuarai paruh musim 2023/2024 namun di babak Championship malah melempem dan berakhir di peringkat 3. Begitu juga Bhayangkara FC yang menjuarai paruh musim 2020/2021. Selain melempem di paruh ke-2, tim 'siluman' tersebut kemudian terlempar ke Liga 2 di musim 2023/2024.

* * *

Ada catatan menarik soal juara paruh musim yang kemudian menjadi juara Liga 1. Sebut saja Bali United di musim 2019/2020, juga PSM Makassar di musim 2022/2023. Artinya siapapun yang menjadi juara paruh musim tetap berpeluang menjadi juara liga. Mitos juara paruh musim tidak akan menjadi juara liga, sudah batal dengan torehan Bali United dan PSM Makassar.

Tinggal bagaimana Persib mengelola tim saja di paruh ke-2 kompetisi. Pelajaran dari musim 2006/2007 adalah hati-hati melakukan transfer pemain masuk dan ke luar. Di masa itu Persib malah mendatangkan pemain yang pada putaran ke-2 justru tidak berkontribusi apapun. Sedangkan pemain yang berpengaruh, malah dipinjamkan ke klub lain.

"Mengawali persiapan putaran dua musim 2006, Arcan Iurie sedikit merombak kekuatan Persib Bandung dengan mendatangkan pemain asing berposisi gelandang serang asal Rumania, Leo Chitescu.

Kehadiran Chitescu membuat Persib harus melepas satu pemain asing karena melebihi kuota. Iurie pun meminjamkan pemain bertahan asal Kamerun, Nyeck Nyobe ke Persela Lamongan.

Dengan hadirnya Chitescu, harapannya bisa mendongkrak ketajaman Persib yang sedang memimpin klasemen sementara Liga Indonesia 2007.

Sayang kehadiran Chitescu bukan membuat Persib semakin kukuh. Sebaliknya, Zaenal Arif dkk. justru malah terseok-seok. Harapan untuk menjadi juarapun semakin buyar. Terlebih para bobotoh makin menunjukkan kekecewaanya.

Hilangnya Nyeck, yang diplot sebagai bek tengah bersama Patricio Jimenez, justru membuat lini pertahanan tidak setangguh seperti putaran pertama." demikian tulis Erwin Snaz di Bola.com, 16 Mei 2020. (https://www.bola.com/indonesia/read/4255250/kisah-arcan-iurie-bersama-persib-sempat-melesat-dan-terpuruk-kemudian)

Di musim 2017/2018, Persib gagal meraih juara walau menjadi juara paruh musim. Hal ini ditengarai oleh merosotnya permainan Persib di putaran ke-2 yang dilakukan di luar kandang sebagai imbas kejadian tewasnya seorang suporter Persija di GBLA. Sampai akhir musim Persib harus menjadi musafir jauh dari publiknya yang sepertinya membuat mental pemain jatuh. Belum lagi dicurigai kemungkinan Mario Gomez pada saat itu tidak memaksimalkan pasukannya akibat ada permintaannya tidak dipenuhi manajemen. Terbukti, Gomez tidak diperpanjang kontraknya dan musim berikutnya diganti Robert Rene Alberts.

Tentu saja besar harapan Bobotoh bila Persib bisa mematahkan, bahkan menghancurkan mitos sesat itu. Apalagi Persib di 2024/2025 ini belum terkalahkan atau unbeaten selama 16 pertandingan putaran 1. Bobotoh berharap Persib back to back kembali menjuarai kompetisi liga musim 2024/2025 ini. Karena bila Persib juara lagi, maka ada mitos lain yang ikut hancur: Persib hanya bisa juara bila menggunakan format turnamen di akhir liga seperti musim 2013/2014, atau 2023/2024.

Hayu Sib, bisa. Hancurkan mitos dan kembali juara back to back!

Ricky N. Sastramihardja

📷 IG Persib


Senin, Juni 03, 2024

BELAJARLAH DARI 2014 & 2015 WAHAI STAKEHOLDERS!


Pawai kemenangan Real Madrid C.F. yang tertata rapi menyambut gelar juara La Liga dan UCL. 

Seharusnya Pawai Kemenangan PERSIB Bandung bisa seperti ini BILA para stakeholders dan organizer mau bekerja lebih keras, lebih cerdas. Jalur disterilisasi, meminimalisir kemacetan. kantung-kantong parkir disiapkan jauh dari episentrum kegiatan, dan petugas berseragam dikerahkan lebih optimal.

Pengalaman 2014 (Juara Liga) dan 2015 (Juara Turnamen Piala Presiden) sama sekali tidak dipakai. Ujungnya sebagian masyarakat ada yang merasa terganggu dengan keceriaan seperti ini. Padahal seharusnya menjadi pesta bersama warga kota.

Bila kemudian cuma  menyalahkan Bobotoh atau warga yang hadir, harusnya berkaca lah. Masyarakat itu bisa diatur kok, mereka juga ingin kenyamanan dan keamanan.

Ricky N. Sastramihardja

(37-61-) 86-90-94-95-14-24

🏆🏆🏆🏆🏆🏆🏆🏆

⭐️⭐️⭐️

Rabu, Desember 27, 2023

PERSIB DAN TAHUN LAHIR


Bagi saya, para peneliti sejarah Persib pimpinan Prof. Kunto dari FIB Unpad tidak salah. Justru membuka benang merah bagaimana sejarah sepak bola di Bandung berdasarkan catatan sejarah sejaman di masa itu (rekaman media massa/koran).

Permasalahan kemudian adalah bagaimana kemudian user penelitian itu, dalam hal ini, PT. PBB mengambil hasil rekomendasi yang disampaikan para peneliti.

Dalam executive summary yang saya dapatkan, para peneliti memberi 5 rekomendasi waktu, yakni:

1. 11 Juli 1914

2. 5 Januari 1919

3. 19 Mei 1923

4. 22 Oktober 1928

5. 18 Maret 1934

Tidak ada satu pun catatan sejarah yang merujuk pada tanggal 14 Maret 1933.

PT. PBB pun sebagai user nampaknya mengambil rekomendasi kedua, yakni 5 Januari 1919. Asumsi PT PBB memilih rekomendasi itu adalah Persib dianggap sebagai pendiri PSSI pada 11 April 1930.

"Logikanya, kata Kunto, sebagai salah satu pendiri PSSI, Persib seharusnya lahir terlebih dulu dari yang dilahirkannya.

Kunto juga menjelaskan, di antara lima titimangsa (asal usul) yang ditemukan oleh tim peneliti, tanggal 5 Januari 1919 merupakan hasil interpretasi yang paling logis karena didukung oleh fakta sejarah yang kuat (primer). " (Bola. com 18 Desember 2023).

Namun executive summary juga memberi catatan bila pada 5 Januari 1919 itu adalah pembentukan BIVB atau Bandung Inlandsch Voetbal Bond, bukan Persib.

Justru pada rekomendasi ke-5, 18 Maret 1934 lebih masuk akal, karena disebutkan pada pemberitaan di Sipatahoenan dengan judul "BIVB+NIVB = PERSIB."

Hal ini juga pernah disampaikan Atep Kurnia, penulis buku "Maenbal: Sejarah Sepak Bola Bandung (2022)" sebagai berikut:

"Saya pikir, dengan adanya fakta-fakta dari kedua tulisan dalam Sipatahoenan edisi 19 Maret 1934 di atas, tanggal 14 Maret 1933 sebagai titimangsa hari ulang tahun (HUT) Persib yang selama ini diperingati mesti digugurkan dan diganti dengan 18 Maret 1934. Karena jelas, untuk 14 Maret 1933 tidak ada bukti yang memperkuatnya, sementara untuk tanggal 18 Maret 1934 takkan terbantahkan lagi faktanya. 

Hal lainnya, di balik fusi tersebut ada jasa besar Hoesijn Kartasasmita dari NVB yang sebelumnya punya inisiatif untuk menyatukan dua bond sepak bola di Bandung yang hubungannya “putus-sambung” antara 1932 hingga 1933. Meskipun yang akhirnya terpilih sebagai ketua Persib pertama adalah Anwar (St. Pamoentjak) dari PSIB dan Hoesijn sebagai wakil ketua," tulis Atep seperti dimuat di AyoBandung.com 29 Agustus 2022.

Sedangkan Anggalarang, admin @historyofpersib di X, dalam buku elektroniknya "BOEKOE POETIH, PELURUSAN SEJARAH PERSIB BANDUNG" (2023) menulis bila nama Persib akhirnya memang benar-benar mulai digunakan, seperti yang ditulis dalam pemberitaan Sipatahoenan di tanggal 16 April 1934. 

"Karena ketidakpastian ini, maka saya hanya menulis angka tahun 1934 sebagai lahirnya Persib. Jika ada yang mengatakan 18 Maret, boleh-boleh saja. Begitu juga dengan tanggal 25 Maret atau awal April, walaupun belum ditemukan buktinya. Yang pasti bukan tanggal 14 Maret 1933," tulis Anggalarang.

Jadi, jelas 5 Januari 1919 seperti yang diambil PT PBB dari rekomendasi penelitian itu, menurut saya, terlalu jauh. Terlalu memaksakan diri agar cocok dengan logika 'pendiri PSSI'. Walau demikian, tentu saja, seperti halnya sifat sejarah yang cair, yang selalu mengundang diskusi dan interpretasi, apapun hasil riset ini patut diapresiasi. 

Karena memang seharusnya seperti itu di mana manajemen klub juga berperan aktif menyusuri jejak sejarah klubnya. Karena baru kali ini PT. PBB meminta 'fatwa' dari tim peneliti Sejarah dengan reputasi yang tidak diragukan dan teruji.

Bila kemudian menjadi isu liar seperti dualisme Persib atau apapun, tentu saja tetap menarik untuk diikuti. Karena jangan sampai hasil penelitian ini malah menimbulkan semangat dualisme kepemilikan Persib. 

Dan mari kita tunggu hasil diskusi selanjutnya. Apakah akan ada perubahan lagi, mengingat Teddy Tjahjono terlalu gegabah mengambil hasil rekomendasi. Tetapi yang jelas, bukan 14 Maret 1933

Karena menurut Anggalarang, 14 Maret 1933 tidak memiliki landasan resmi. "Satu-satunya keterangan yang menyebutkan bahwa Persib lahir di 14 Maret 1933 adalah berdasarkan keterangan R. Ibrahim Iskandar di “Pasang Surut 40 Tahun Persib” yang dirilis tahun 1973 atau 2 tahun sebelum beliau meninggal dunia."

"Sebenarnya catatan yang lebih tua mengenai “teori 1933” tertulis di koran Preangerbode tanggal 24 Juli 1953, masih dari informasi Ibrahim Iskandar, hanya saja dalam artikel tersebut hanya menyebutkan tahunnya saja tanpa tanggal dan bulan."

Ricky N. Sastramihardja 

27122023

Selasa, Juli 25, 2023

SHIFTING CUSTOMER SEGMENTATION SIB?


Apa yang sedang dilakukan Persib Bandung per hari ini di akhir Juli 2023 adalah shifting customer segmentation alias mengganti pelanggan.

Itu bentuk kecurigaan saya dari semenjak sebelum Liga 1 2023 bergulir yang semakin hari semakin menemui kebenarannya.

Asumsi saya, bila Persib mempunyai pelanggan (baca: bobotoh) yang santun dan tidak fanatik sebanyak 9 juta orang, buat apa 800.000 bobotoh fanatik yang malah 'katanya' merugikan tim?

Data 9,8 juta bobotoh itu saya ambil dari jumlah followers Persib di Facebook per hari ini yang mencapai 9,8 juta orang followers. Daripada ngurus 800 ribu Bobotoh yang 'riweuh', bikin Persib didenda Komdis, berantem, nyundut flare, ngechant uwa-e##, dan unjang-anjing di stadion, mending 9 juta yang nurut, balageur, walau enggak pernah ke stadion.

Ke depannya, Persib seperti akan menyingkirkan komunitas-komunitas Bobotoh yang loyal dan fanatik, 'konsumen' yang jatuh cinta banget sama Persib tapi lebih sering dikecewakan (dan mengecewakan).

Percaya atau tidak, terbukti atau tidak, tapi gejalanya terlihat jelas. Apalagi ketidakhadiran komunitas di stadion juga seolah tidak dipedulikan oleh Persib. Walau anggota komunitas ini berani membayar mahal tiket yang dulu seringkali jatuh ke calo, Persib lebih memilih segmen bobotoh baru (sebut saja Fansib), yang bisa diatur, dengan memberikan banyak diskon dan kemudahan seperti di screen capture tertera.



Buat saya, diskon dan tiket gratis ini lebih seperti ke penghinaan terhadap bobotoh yang fanatik daripada solusi mencari bobotoh segmen baru. Buktinya? di pertandingan kandang kemarin, jumlah penonton hanya 6489 orang saja padahal tiket sudah digratiskan, didiskon, dibagikan pada ibu-ibu pengajian, RW hingga partai....

Kitu meureun nya Koh @teddy.tjahjono ? #Persib #Bobotoh #LoveHateRelationShip #Fansib

Ricky N. Sastramihardja

Rabu, Juli 12, 2023

30 TAHUN VPC DI ANTARA LOVE HATE RELATIONSHIP


Bagi banyak urang Sunda yang merantau hingga ke luar pulau, bahkan ke luar negeri, Viking Persib Club tidak sekedar komunitas bobotoh pecinta Persib Bandung. Lebih dari itu, VPC adalah pemersatu, penghimpun, tempat berbagi, silaturahmi.

Bahkan tidak hanya bagi urang Sunda saja. Tapi siapapun pecinta Persib Bandung yang mengembara ke luar Tatar Sunda.

Bila kemudian ada friksi antara VPC dengan manajemen PT. PBB sebagai pengelola Persib, itu adalah bagian dari relasi cinta dan benci. Suatu hal yang alamiah bila semakin dekat maka semakin sering terjadi friksi.

Namun framing jahat yang kemudian 'naplok' di antara kritik keras VPC kepada PT. PBB adalah stadion menjadi tidak aman bagi keluarga karena ada komunitas Bobotoh (VPC, Bomber, The Bombs, Ultras, dll). Juga framing jahat yang menyebut komunitas itu tidak pernah membeli tiket.

Framing-framing itu disebar melalui komentar di instagram atau facebook atau reply-an di Twitter. Yang lebih menyakitkan, beberapa diantaranya malah berharap VPC bubar. "Biar diganti oleh komunitas yang lebih baik," demikian kira-kira komentar yang saya baca di sebuah postingan di IG.

====

Padahal, sepengetahuan saya, tidak ada organisasi yang bisa menyatukan urang Sunda di perantauan sehebat VPC. Memang ada paguyuban-paguyuban warga Sunda yang lebih general, tetapi Viking lebih terdengar suaranya.

Saya melihat keseruan Viking Batam yang dikomandani Pak Nopianto Ok dan Pak Yanhard Rjp  dkk yang begitu solid. Saya yakin tidak semuanya urang Sunda, tetapi saya yakin banyak urang Sunda, setidaknya mereka yang lahir besar di Tatar Sunda dan kemudian mengembara ke Batam bergabung di Viking Batam.

Di Bontang saya disambut hangat kang Fajar Kharisma dkk, urang Ciamis yang sudah menjadi orang Bontang. Di Balikpapan ada kang Deden Arif Kurniawan dkk, walau selama saya di Balikpapan belum pernah jumpa (baheula can aya medsos tea). 

Belum lagi di luar negeri: Jepang, UAE, Saudi Arabia, dll, urang-urang Sunda yang mengembara menghalau stigma urang Sunda itu 'malas' dan enggan mengembara.

Di Palembang, urang Sunda yang jegud menampung ribuan anggota Viking, Bomber saat final ISL 2014. Juga berkat bantuan Viking Palembang dan Sumbagsel serta sekitarnya.

Saat mengelola dua media pepersiban (suarabobotoh.com/maenbal.com, dan Bobotoh.id di 2013-2020), saya bertemu dan mendapat banyak cerita urang Sunda di perantauan yang sangat terwakili dengan kehadiran Viking di wilayah tinggalnya.

====

VPC menjadi representasi organisasi masyarakat Sunda yang ada di perantauan. Bahkan di Jakarta, Viking Jakarta bahkan menjadi yayasan yang aktif menjalim silaturahmi warga Sunda di wilayah yang dulunya menjadi bagian dari kerajaan Sunda - Galuh/Pajajaran.

Memang anggota VPC itu hanya sekitar 200.000 orang atau hanya sepersekian persen dari kurleb 11 juta Bobotoh (data dari followers Persib di FB) atau 6,7 juta Bobotoh di IG. Tapi jangan ditanya soal militansi. Kang Aip Bornkill  mungkin bisa cerita banyak soal berhari-hari di perjalanan darat dan laut menuju Medan untuk mendukung Persib saat dijamu PSMS.

Jadi, stop framing jahat yang menunggangi love hate relation ship VPC dengan manajemen PT. PBB. Bukan kali ini saja kok VPC mengkritik Persib. Maneh we nu belegug jeung kurang loba ulin.

Selamat milangkala ka-30 VPC 17 Juli 1993-17 Juli 2023.

Keep roaring hard in the terraces!

Ricky N. Sastramihardja

Jumat, Maret 17, 2023

PERSIB TIDAK LAHIR DI TAHUN 1933, TAPI TAHUN...

 




Persib Bandung ternyata tidaklah dilahirkan tahun 1933! Itu adalah hasil diskusi publik yang dilakukan via Spaces Twitter pada 11 Maret 2023 kemarin.

Atep Kurnia, penulis buku "Maen Bal: Sejarah Sepak Bola di Bandung 1900-1950," (Panti Baca Ceria, 2022) bahkan menyebut angka pasti: 18 Maret 1934. Hal tersebut didapatnya dari kliping koran Sunda Sipatahoenan yang terbit setelah tanggal 18 Maret 1934.



Atep menyebut, kelahiran Persib tersebut adalah sebagai fusi penggabungan dua klub sepak bola di Bandung masa itu, PSIB dan NVB (National Voetbal Bond).

Dalam Spaces yang juga dihadiri oleh Endan Suhendra (Wartawan Galamedia, penulis buku "Persib Juara"; 2014), Fery Widyatama (penulis buku "SIVB: Pasang Surut Sepak Bola Surabaya 1926-1942), dan juga Eko Maung, malah terungkap fakta yang menarik.

Bagaimana bisa Persib lahir tahun 1933 atau 1934, sementara ia tercatat sebagai salah satu dari 7 klub pendiri PSSI? Di mana PSSI itu dilahirkan 11 April 1930. 3 tahun sebelum Persib lahir di 14 Maret 1933 atau 18 Maret 1934.



Menurut Eko Maung lagi, seharusnya Persib itu lahir sebelum tahun 1930, di tahun 1920-an. Apakah itu tahun 1923 sesuai akta BIVB (Bandung Indonesisch Voetbal Bond) atau setelahnya.

Untuk jelasnya diskusi itu bisa disimak di dalam recording yang saya simpan di Youtube. Kenapa Youtube? Karena Spaces Twitter hanya bertahan 30 hari saja. Jadi pasti setelah 11 April 2024, recording Spaces di Twitter akan dihapus dari server secara permanen.

Berikut link youtube-nya. perhatikan: durasi video sekitar 2 jam. Audio only.

Ricky N. Sastramihardja

Jumat, Agustus 26, 2022

DI BANDUNG ITU RESPECT IS EARNED NOT GIVEN....


Musim 2012. Persib dikalahkan Persiba di Stadion Siliwangi. Bobotoh memberikan standing ovation untuk kedua tim yang memang bermain bagus.

Pemain Persiba dan Persib keluar stadion dengan kepala tegak. Peter Butler, pelatih Persiba merasakan apresiasi dan atmosfir luar biasa.

Musim 2013, Persita Tangerang menjamu Persib di Stadion Siliwangi. Persita bermain buruk, persis seperti Bali Utd di GW 6 Liga 1 kemarin: Loba gogoleran.

Hasil imbang, Persita masih beruntung bisa keluar dengan utuh dari Stadion Siliwangi yang dipenuhi Bobotoh. 

Kim Jeffrey Kurniawan, bermain buruk saat Persib dilatih Dejan Antonic. Dibully di medsos, bahkan saat latihan.

Tapi saat Kim Jeffrey gagal membobol gawang Borneo FC di babak knock out Piala Presiden 2017, Bobotoh di stadion mendukung Kim. Membesarkan hatinya dan tetap mendukungnya. Tak ada bully-an atau cacian. 

Bila sepakbola itu ekspresi hati, maka mendukung tim kesayangan langsung di stadion adalah ekspresi paling jujur dari hati yang paling dalam.

Tanpa harus menjadi pembenaran atas kesalahan, marilah saling memahami dan tidak menghakimi. Percayalah, mendukung tim kesayangan di tribun stadion akan sangat berbeda dengan di depan TV. 

Babaledogan emang salah, nyundut flare juga salah berdasar regulasi. Tapi menghakimi mereka dengan jari di medsos malah mengundang pipaseaeun.

Kalau mau nyaram, cobalah langsung caram di stadion... langsung di depan pelakunya.

RESPECT IS EARNED NOT GIVEN....

📷 Persita vs Persib, Stadion Siliwangi ISL 2013.

Rabu, Juni 22, 2022

EVALUASI ATAU ADA YANG MATI LAGI!


Pertandingan Persib vs Persija di ISL 2013 (3 Maret 2013) adalah pertandingan dengan service terbaik dari Panpel Persib. Pertandingan yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat itu sungguh nyaman dan aman padahal partai big match.

Screening dilakukan dalam beberapa lapis hingga hanya penonton yang mempunyai tiket bisa duduk di kursi sesuai nomor kursi. Ya, saat itu SJH baru saja dipasangi kursi dengan nomor duduk.

Stadion pun tidak sepenuh biasanya dalam arti tidak semua kursi terisi. Masih ada beberapa kursi kosong di setiap tribun, termasuk di tribun timur. Ini akibat screening berlapis yang dilakukan aparat hingga tiba di ring 1 hanya bobotoh bertiket saja yang bisa masuk area SJH.

Tetapi kenyamanan itu hanya itu saja, hanya sekali itu saja. Lanjut ke pertandingan berikutnya, saat tiba di tribun saya mendapati kursi saya sudah diduduki orang lain.

Ketika saya meminta orang itu untuk pindah, ringan saja dia menjawab. "Da saur bapa anu berseragam oge bebas calik mah di mana wae," tuturnya.

Saat ditanya soal tiket, ia tidak bisa menunjukkannya. Padahal ia datang bersama 4 atau 5 orang keluarganya.

Hingga terakhir saya ke stadion untuk menyaksikan Persib vs Sriwijaya FC di Liga 1 2017 di stadion GBLA, tidak pernah ada lagi tiket dengan nomor kursi. Pemilik tiket harus adu cepat masuk ke tribun berebut dengan bobotoh tak bertiket yang masuk dengan cara menyuap petugas penjaga tiket.

Bila dihubungkan dengan kejadian kemarin dengan membludaknya Bobotoh di GBLA yang menelan korban jiwa, saya yakin kawan-kawan Bobotoh bisa menarik asumsi siapa yang salah, lalai, dan harus bertanggung jawab atas kejadian ini.

Tidak ada asap tanpa api. Tak ada supply bila tidak demand. Tidak akan ada yang menyuap bila tak ada yang bisa disuap. Penyuapan itu akan berhenti bila petugas menolak suap. Juga bila Bobotoh yang suka 'moncor' sadar diri.

Tetapi kesadaran itu tidak akan terwujud bila sistemnya tidak mendukung. Bobotoh yang menyuap akan sulit terjerat hukum berbeda dengan petugas yang mau disuap. Karena jumlahnya banyak dan tidak teridentifikasi. Akan berbeda dengan petugas pelaksana karena penempatan mereka di setiap gerbang pasti ada perintah dari atas dan ada catatan/log booknya. Siapa koordinator regunya, siapa saja yang bertugas, berapa orang aparat sipil, berapa orang aparat kepolisian/TNI.

Dengan kata lain, pelaksanaan sistem berdasar hukum itu adalah top down, dari atas ke bawah. Dari pucuk ke akar rumput, bukan sebaliknya.Akar rumput yang menongak ke atas akan lebih mudah dikondisikan bila pucuk memberi contoh dan teladan. Menerapkan punish and reward dengan adil dan fair. Petugas gerbang bukanlah penjual tiket tapi pemeriksa dan penyobek tiket.

Saya jadi teringat dengan cerita seorang kawan baru yang berasal dari luar kota Bandung di awal bulan Juni ini "Abdi mah Mang, ka Bandung ngahajakeun lalajo Persib najan teu boga tiket. Soalna nyaho cara ngakalanana, 100.000 teh bisa ku 10 urang asup."

Dengan kejadian meninggalnya dua bobotoh bertiket akibat berdesakan di stadion yang over capacity maka seyogyanya Panpel Persib segera melakukan evaluasi menyeluruh. Tidak hanya Panpel dari PT. PBB saja tetapi juga dari aparat-aparat negara yang diperbantukan dan memang berwenang untuk mengatur masalah keamanan dan kenyamanan.

Bila tidak dilakukan perbaikan sistem terutama mentalitas riswah, permasalahan ini akan kembali terulang. Bukan tidak mungkin akan lebih buruk lagi. Sedangkan berdasar UU Keolahragaan tahun 2022 pasal 54 ayat 4-5, Panpel berkewajiban menjaga keamanan dan kenyamanan para penonton olahraga (baca: suporter) yang memiliki tiket.

Masalah utama bukan pada Bobotoh tak bertiket, karena sejak jaman di Siliwangi pun Bobotoh yang tak bertiket sudah ada. Tidak semua berniat menjebol pintu, sebagian besar malah ingin bertemu rekan-rekannya, bersilaturahmi di luar stadion di saat pertandingan berlangsung.

Ricky N. Sastramihardja II

📷 Ricky, Twitter @oydnnx

Senin, Februari 14, 2022

DERBY MATCH, MAKNA KATA YANG MELUAS AKIBAT RIVALITAS


Semula pertandingan derbi pada sepak bola hanya berlaku untuk pertandingan tim sekota atau satu wilayah yang sama. Namun kadang mengalami perluasan makna, menjadi pertandingan antara dua tim dengan rivaltas yang kental. 

Perluasan makna ini sepertinya akibat 'salah kaprah' media massa dalam memberi judul dalam berita/isi. Walhasil, tak dapat ditolak, istilah derbi kemudian meluas kemana-mana, bahkan pada klub yang tak memiliki akar sejarah rivalitas yang panjang.

Di Indonesia yang memungut istilah derbi dari bahasa Inggris, derby, ketidaktepatan penggunaan istilah ini sering digunakan. Entah karena kata derbi ini memiliki makna konotasi yang lebih luas, yang lebih menguras emosi para pendukung tim sepak bola. Atau mungkin karena ingin terlihat keren karena keinggris-inggrisan.

Misalnya saja ada yang menyebut derby Jatim untuk Persebaya vs Arema, atau Derby Indonesia untuk Persib vs Persija. Padahal bila dikembalikan ke arti kata sesuai kamus/leksikal, tentu saja istilah tersebut tidak tepat.

Bagaimana tidak, klub-klub itu tidak berada di kota yang sama. Juga tidak berada di satu wilayah yang sama, ada kota lain di antara kota-kota yang 'berselisih'. Sepanjang Surabaya - Malang, ada Sidoarjo dan Purwodadi. Dari Jakarta ke Bandung, ada Bogor dan Cianjur atau Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.

Lebih unik lagi menyebut derby Indonesia untuk pertandingan Persib vs Persija. Ini sudah sangat jauh dari kata semula, karena bila memakai istilah derbi Indonesia, maka semua pertandngan di Indonesia adalah derbi.

Satu-satunya alasan yang (dipaksa) masuk akal adalah karena adanya rivalitas panjang antara ke dua klub. Hingga akhirnya kata derbi mengalami perluasan makna, terutama dipakai oleh media-media.

Uniknya, misalnya, istilah derbi Indonesia ini tidak berlaku pada pertandingan Persib vs PSMS Medan. Padahal rivalitas kedua klub ini di masa perserikatan sangat kuat dibanding Persib vs Persija. Juga tidak berlaku pada pertandigan Persebaya vs PSIS. Derbi di Indonesia seolah hanya menjadi milik Persebaya vs Arema dengan istilah derby Jatim, serta Persib vs Persija dengan istilah derby Indonesia.

Bahkan pertandingan Persib vs PSKC Cimahi atau Persib vs Persikab Kabupaten Bandung juga jarang disebut derbi. Selain karena di keduanya jarang bertemu akibat berbeda kasta, juga karena memang tidak ada rivalitas antara kedua klub. Bobotoh pendukung Persib biasanya ya suporter PSKC juga atau suporter Persikab (Lulugu).

Mungkin, bila dikembalikan ke arti kata derbi secara leksikal, maka pertandingan antara Persija vs Persikabo 1973 seharusnya lebih layak disebut derbi, arena kedua klub tersebut ada di wilayah aglomerasi yang sama/bertetangga. Atau misalnya PSIM Yogyakarta vs Persis Solo, karena keduanya berada di wilayah yang sama/bertetangga, juga karena rivalitasnya yang kuat.

Bila merujuk ke makna leksikal, maka derbi di Liga 1 mendatang dipastikan akan terjadi antara Persita Tangerang vs Rans Cilegon FC yang sama-sama berada di wilayah Banten. Atau bila Rans FC jadi bermarkas di Jakarta Utara, maka Persija vs Rans FC yang layak disebut derbi, seperti halnya Persija vs Persitara Jakarta Utara. Itulah derbi yang sebenar-benarnya derbi.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Derby PSKC Cimahi vs Persib Bandung di babak 128 besar Piala Indonesia 2019 di Stadion Wiradadaha, Tasikmalaya.  Persib menang tipis 1-2.




Sabtu, Februari 12, 2022

JEJAK TERSEMBUNYI PASSOS DI PENAMPILAN CEMERLANG TEJA


Teja Paku Alam namanya. Semula kehadirannya disangsikan, maklum pemain kelahiran Painan, Sumatera Barat 28 tahun silam ini direkrut di awal 2020 dari tim yang terdegradasi ke Liga 2, Semen Padang.

Namun Teja sepertinya bisa membalikkan anggapan miring itu.  Dari 19x penampilannya bersama Persib di Liga 1 2021, Teja membuktikan bila ia menjadi rekrutan pemain terbaik Persib Bandung di era rezim Robert Alberts. 

Gawang Persib kebobolan 15x dalam 23 pertandingan dan memasukan 30 gol ke gawang lawan. Minimnya kebobolan Persib ini, selain kontribusi pemain belakang, dipastikan karena penampilan cemerlang Teja.

Berulang kali ia melakukan penyelamatan-penyelamatan penting, bahkan untuk bola-bola yang sulit. Akibatnya Ciro Alves, juru gedor Persikabo 1973, menangis di ujung pertandingan pekan ke-21. Semua tendangan mautnya yang indah, gagal bersarang ke gawang Teja.

Bahkan dari pertandingan pekan ke-24 tadi malam melawan PSS Sleman, Teja layak mendapatkan gelar Man of The Match (MoTM) setelah berulangkali melakukan penyelamatan dari serangan-serangan pemain Sleman. Walau kebobolan satu gol oleh eks rekan satu tim-nya, Wander Luiz, Teja berhasil menjaga kemenangan Persib hingga ujung pertandingan.

Ia juga berhasil menepis tendangan jarak jauh Ramdhani Lestaluhu, yang bila membuahkan hasil, akan mengubah hasil akhir karena terjadi di menit-menit akhir.

Teja menjadi kiper pertama yang meraih gelar pemain bulan Januari 2022 versi TSG/Technical Study Group. Biasanya TSG menganugerahkan gelar individual award pada penyerang atau gelandang. Namun kali ini berbeda, individual award diberikan kepada Teja yang bisa menahan sedikitnya 8 tendangan berbahaya pemain-pemain Persikabo 1973 di pekan ke-21.

Salah satu orang sukses dibalik penampilan cemerlang Teja adalah Gatot Prasetyo. Gatot ini adalah eks kiper Persib yang membawa Persib juara di Liga Indonesia I tahun 1994-1995 silam. Selain itu ada nama tersebunyi di balik jabatan ofisial Video Technical Analyst: Luizinho Passos 

Luizinho Passos ini pelatih kiper Borneo FC yang kemudian direkrut Persib Bandung di bulan September 2021 karena Gatot mengundurkan diri karena alasan pekerjaan (Gatot adalah seorang ASN).

Tangan dingin Passos bisa dilihat jejaknya di penampilan M. Ridho (Kiper Borneo FC/Madura United/Timnas Indonesia) dan Nadeo Argawinata (Kiper Bali United/Timnas Indonesia). Di laman Liga Indonesia Baru, disebutkan Passos adalah ofisial tim dengan tugas Video technical Analysis. Bukan pelatih kiper yang masih dipegang oleh Gatot.

Sedangkan di laman resmi Persib Bandung, Passos adalah pelatih kiper. Sedangkan nama Gatot tidak tercantum.

Berkat asuhan Passos, Teja menemukan potensi tersembunyinya. Tentu bukan tanpa kebobolan. Tercatat dari 19 penampilan ia baru kebobolan 9 gol.

Hingga pekan ke-20 berdasar catatan Skor.id 23 Januari 2022, Teja menjadi kiper dengan jumlah rata-rata penyelamatan tertinggi, yakni mencapai 3,69 per laga.

Bukan tidak mungkin, bila Teja konsisten hingga akhir musim ini, ia akan mendapat gelar penjaga gawang terbaik. Tentu hal ini bisa terwujud bila pemain-pemain Persib lainnya juga bermain sepenuh hati dan mengutamakan koletivitas tim. Karena sejatinya penampilan cemerlang Teja adalah berkat kerja sama seluruh pemain, terutama pemain-pemain belakang yang bertugas menjaga pertahanan.

Ricky N. Sastramihardja 

📷 PERSIB Bandung

Minggu, Januari 30, 2022

MUTIARA TERPENDAM DI KOTAK HARTA KARUN ABAH OBET

 

Pertandingan pekan ke-21 melawan (PS Tira) Persikabo 1973 menjadi pertandingan yang jangan sampai dilupakan. Bukan karena kemenangan, tetapi karena malam itu anak-anak Maung memperlihatkan determinasi yang luar biasa.

Daftar Susunan Pemain (DSP) yang janggal karena ada 4 kiper yang terdaftar akibat kekurangan pemain. Ada nama-nama pemain lapis dua dan pemain belia yang sebelumnya 'terlupakan' bila mereka ada, serta menghilangnya nama-nama pemain bintang yang tidak bisa bermain akibat terpapar virus korona.

Di DSP juga tidak tercantum nama-nama pemain depan. Dengan formasi 4-3-3, pelatih Robert Alberts nampaknya menerapkan strategi false nine.

Malam itu rasanya akan menjadi malam kekalahan dan malam paling memalukan untuk si pujaan hati, PERSIB Bandung. Semenjak diumumkan 9 pemain terpapar covid hingga DSP dirilis jelang pertandingan, Bobotoh merespon dengan muram dibalut pesimis.

Betapa tidak, dalam 20 pertandingan sebelumnya, dengan pemain-pemain inti Persib seolah kehilangan ruh-nya. Bermain pragmatis, menang, tapi tidak nyaman. Nyaris tanpa chemistry, para pemain seolah bermain hanya untuk dirinya sendiri.

Tetapi setelah pertandingan berjalan, 15 menit pertama memberikan perspektif lain. Para pemain terlihat ngotot, tidak mau didikte lawan. Walau bukan tanpa kesalahan, tetapi mereka tampak gigih dan penuh determinasi. Permainan lebih hidup, variatif dan menjanjikan.

Hingga akhirnya di menit ke-22 Kakang Rudianto, pemain debutan jebolan Akademi Persib yang membuat perbedaan. Sontekan di depan gawang membuat bola muntah yang terlepas dari pelukan kiper Persikabo 1973 membuat skor berubah menjadi 1-0.

Gol perdana untuk Kakang yang baru bergabung di putaran ke-2 menggantikan Indra Mustaffa. Juga gol yang menarik mengingat posisinya adalah pemain belakang/CB.

Gol tunggal ini bertahan hingga pertandingan babak pertama selesai. Kedua tim di babak pertama tidak bisa mengkonversi berbagai peluang menjadi gol.

Di babak ke-2, Persikabo 1973 tampak lebih menekan dan menguasai lapanagan. Tetapi anak-anak Maung tetap lugas dan menjaga keunggulan. Bahkan ada beberapa peluang sempat diciptakan walau tidak berhasil dikonversi menjadi gol.

Teja Paku Alam dan Henhen Herdiana dan para pemain belakang rasanya layak mendapat kredit tersendiri. Mereka bisa  mementahkan serangan-serangan berbahaya pemain Persikabo 1973. 

Khusus untuk Teja, seperti biasa ia bermain gemilang untuk menjaga keperawanan gawangnya. Ciro Alves dibuat bertekuk lutut tak berdaya padahal tendangan-tendangannya ke arah gawang sangat berbahaya dan sangat berpeluang menjadi gol.

Anak-anak Maung yang diisi pemain lapis ke-2 ini tampil dengan penuh semangat, sesuatu yang tak dominan terlihat di 20 pertandingan sebelumnya. 

Memang seharusnya begitu, karena rasanya bila Persib kalah malam itu, Bobotoh tetap akan mengapresiasi pertandingan yang menarik dan penuh determinasi. Seperti yang pernah terjadi saat Persib kalah 2-3 oleh Persiba Balikpapan di Liga Indonesia 2011 silam. 

Pertandingan pekan ke-21 ini seharusnya menjadi tolok ukur, menjadi standar benchmark untuk 13 pertandingan tersisa di Liga 1 2021/2022 bila Persib ingin bertahan di papan atas dan mengejar gelar juara. 

Bukan hal yang tidak mungkin. Tinggal bagaimana Abah Obet bisa membuat tim selalu dalam keadaan kondusif dan chemistry antar pemain terikat satu sama lain.

Tinggal bagaimana Abah Obet mengendalikan ego para pemain berlabel bintang agar bisa tunduk pada skemanya dan fokus pada tujuan utama olahraga: meraih kemenangan.

Sebagai pelatih kawakan seharusnya Abah Obet melakukan itu sejak pertandingan pekan pertama Liga 1. Bukan karena terpaksa oleh keadaan.

Saat tim dihajar pandemi dengan terpaparnya 9 pemain utama, ternyata memperlihatkan mutiara-mutiara terpendam yang selama ini luput dari perhatian. Dipaksa oleh keadaan dan kekurangan pemain, ternyata memaksa Abah Obet membuka ’peti harta karun’ yang sepertinya ia lupakan.

Sejatinya para local boys ini memang harus diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka pada publik. Karena mereka memang ternyata sangat mampu bersaing dengan pemain asing atau naturalisasi yang berlabel pemain bintang.

Proud of you Boys.

Ricky N. Sastramihardja

📷  Persib Bandung


Sabtu, Desember 18, 2021

PERSIB, PERMAINAN CANTIK DAN SEMANGAT KOMPETISI


Di akhir putaran 1 Liga 1 2021, Persib berada di posisi ke-2 klasemen sementara. Dari 17 kali bertanding, Persib mengumpulkan 34 angka hasil 10x menang, 4x imbang dan 3x kalah.

Posisi di klasemen ini masih belum aman mengingat ada Arema FC di posisi ke-3 yang masih menyisakan 1 pertandingan. Dari 16 pertandingan, Arema FC mengemas 33 angka. Hanya terpaut 1 angka dengan Persib.

Sedangkan dengan Bhayangkara FC yang memuncaki klasemen, hanya berselisih 3 angka saja. Bhayangkara FC mengemas 37 angka dari 17 pertandingan dan dipastikan menjadi juara paruh musim.

Berada di posisi ke-2 klasemen sementara, Persib masih memiliki kesempatan meraih puncak klasemen dan menjuarai liga. Apalagi masih ada 17 pertandingan lagi di putaran ke-2.

Namun apa yang membuat bobotoh seolah tidak puas dengan pencapaian Persib di putaran ke-2? Salah satunya adalah permainan Persib yang buruk. Sehingga 10 kali kemenangan yang diraihnya dirasakan hanya sebagai keberuntungan saja. 

"Persib si gede milik," demikian satir Bobotoh.

***

Bila harus berkaca, Bobotoh sepertinya masih terpesona dengan skuad Persib hasil racikan Mario Gomez di Liga 1 2018. Menjadi  juara di paruh musim dengan permainan yang penuh determinasi. Yang kemudian berakhir di peringkat ke-4 klasemen akhir sebagai buntut  'konspirasi' untuk memuluskan tim ibu kota jadi juara liga.

Gomez berhasil menyulap pemain-pemain Persib bertanding dengan penuh determinasi dengan tiki-taka yang memikat. Bahkan pemain yang tidak dikenal sebelumnya, bermain bak pemain bintang. 

Siap sih yang dulu mengenal Ardi Idrus atau Ghozali Siregar? Ardi berasal dari klub Liga 2 yang baru promosi, PSS Sleman dan Ghozali 'hanya' penghangat bangku cadangan di PSM Makassar.

Di 3 pertandingan perdana Liga 1 2020 bersama Robert Alberts, Persib meraih 3 kemenangan beruntun sebelum liga akhirnya dinyatakan berhenti karena pandemi. Fait accompli.

Tetapi di musim 2021, tiki-taka ala Robert seolah hilang. Seolah menjadi 'teka-teki', bahkan bagi pemainnya sendiri. Salah satunya adalah bagaimana kejadian konyol saat Febri Bow dan Marc Klok membuat tendangan bebas menjadi adegan konyol dan memalukan.

Robert seolah kehilangan magis dalam mengolah pasukan Maung Bandung di 2021. Luiz dan Castillion yang dielu-elukan malah terdepak paling awal karena pelatih tidak bisa memaksimalkan peran keduanya di garda depan.

Kehilangan Omid Nazari juga membuat Persib kehilangan playmaker yang visioner. Beban  itu kini seolah ditanggung Beckham yang masih belia. Duet Klok-Rashid atau Klok-Dado pun seolah tidak berarti. Vizcarra yang diharapkan menjadi game changer, sepertinya seringkali bermain tidak sesuai role-nya.

Kemenangan Persib pun seolah berkat keberuntungan semata. Di pertandingan melawan Persik Kediri yang jauh berada di klasemen bawah,  Persib hanya bisa menang 0-1 itu pun dengan berpayah-payah.

Bobotoh tetap tidak puas dengan posisi ke-2, juga terutama karena permainan buruk Persib. Apalagi di tahun 2001, Persib alami 3 kekalahan beruntun dari Persija Jakarta (Final 2 leg Piala Menpora dan pertandingan putaran 1 liga. Hal tersebut membuat Bobotoh 'terluka' dan merasa sangat tidak puas.

***

Selain kemenangan, Bobotoh juga menuntut PERSIB Bandung untuk bermain cantik. Bahkan bermain cantik walau kalah, bisa diapresiasi dengan layak oleh Bobotoh.

Pada pertandingan kandang melawan Persiba di stadion Siliwangi di ISL 2012, Persib kalah 2-3 oleh tim asuhan Peter Butler tersebut. Alih-alih mendapat ejekan atau protes keras Bobotoh, ke dua tim mendapat standing applause di akhir pertandingan.

Kedua tim bermain dengan determinasi tinggi, menghibur, atraktif, menarik, dan sportif. Bahkan Peter Butler menyebut bila ia merasakan atmosfir Stadion Siliwangi seperti di Liga Inggris.

Lalu bisakah Persib kembali bermain memuaskan di putaran ke-2? Apalagi ada pergantian amunisi dengan masuknya David da Silva dan Bruno Cantanhede sebagai bomber menggantikan Wander Luiz dan Geoffrey Castillion.

Seharusnya begitu. Bila ingin meraih gelar juara liga 2021, Persib harus menjawab kritik keras Bobotoh dengan permainan penuh determinasi yang diikuti dengan kemenangan.

Tentu saja namanya kompetisi harus ada semangat untuk memenangkan pertandingan dan mengalahkan lawannya. Bila tidak ingin menang, sebaiknya jangan ikut kompetisi. Ikut saja karnaval atau sirkus.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Beckham dan Rashid, foto dari laman Persib Bandung.

Senin, Oktober 18, 2021

OBITUARI: MENGENANG HENDRA, PLAYMAKER PERSIB BERGELAR DOKTER



"Jadi pemain sepakbola itu harus pintar, dari kepintaran dan pemahamannyalah dampak besar bagi tim akan terasa. Mengatur permainan dari lapangan tengah adalah titik terluas dalam permainan.” - A. Himendra Wargahadibrata dari twit Viking Unpad.

Beberapa saat sebelum Persib Bandung berulangtahun yang ke-87 di tahun 2020, tersiar berita wafatnya salah seorang eks pemainnya: A. Himendra Wargahadibrata. Eks pemain yang akrab dengan sapaan Hendra ini wafat Kamis, 13 Februari 2020 dalam usia 77 tahun.

Wafatnya Hendra menukil penggalan kisah hidupnya yang jarang diketahui publik. Hendra yang bermain untuk Persib Bandung pada tahun 1967-1972 adalah seorang dokter, juga rektor.

Di masa mudanya, lelaki kelahiran Purwakarta 11 Februari 1943 ini lebih memilih melanjutkan studi dokternya di Unpad daripada bergabung dengan Timnas Junior. Bergabung di klub UNI Bandung tahun 1961, posturnya yang tinggi disertai dengan kecepatan drible yang bagus, 'licik' -pandai diving- dan licin membuatnya langsung mengisi pos inti penyerang tengah UNI.

Bermain kompak bersama Pietje Timisela (kiri dalam) dan Hengky Timisela (kanan dalam). Setahun kemudian, pelatih Persib, Tomasowa memintanya untuk jajaran skuad Persib Bandung.

Lelaki yang biasa disapa Hendra ini juga sempat bergabung di Timnas Junior di bawah asuhan Tony Pogacknick dan Djamiat. Ia dipersiapkan untuk pertandingan internasional Asean Games (1962), Merdeka Games dan Ganefo (1964).

Setelah bergabung Timnas Junior ia memilih melanjutkan studi kedokterannya yang tertunda. Namun ia bergabung dengan Persib Bandung di tahun 1967 hingga 1973..

Hendra 'pensiun' di Persib di usia 30 tahun dan memilih menjadi dokter. Persib menjadi satu-satunya klub yang ia perkuat hingga kelak kemudian sempat menjadi dokter tim dan Dewan Pembina Persib Bandung.

Tidak banyak atlet yang kemudian menjadi dokter. Dunia mengenal Socrates, pesepakbola Brazil yang setelah gantung sepatu bergelar medical doctor. Atau pelatih Timnas Islandia, Hallgrimson yang berprofesi juga sebagai dokter gigi.

Tentunya hal ini bisa menjadi penyemangat bagi para orangtua yang anaknya berprestasi sebagai atlet. Karena atlet juga bisa berprofesi dan berprestasi di bidang akademis.

Gelar Prof.dr. SpAn KIC KNA (spesialis anestesi), menjabat Pembantu Rektor III dan kemudian Rektor Universitas Padjadjaran (1998-2007) menunjukkan bila atlet juga punya daya saing dan prestasi di akademik. 

Mungkin Hendra satu-satunya eks pesepakbola semi profesional di dunia yang memiliki gelar itu (di kurun 1967-1973, Persib adalah klub amatir semi profesional karena Liga Sepakbola Profesional baru ada tahun 1990an/Galatama).

Selamat jalan Profesor. Pileuleuyan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allohumagfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.

Ricky N. Sastramihardja

-diracik dari berbagai sumber

- Dimuat di akun facebook pribadi https://www.facebook.com/ricky.nsas.3/posts/792830271223768
juga di "Kompilasi 97 Tahun Persib Bandung", e-book format digital yang diterbitkan oleh akun twitter @historyofpersib menjelang ulang tahun Persib ke-97 Maret 2020.

e-book dapat diunduh di sini: Kompilasi Tulisan 87 Tahun Persib Bandung.pdf - Google Drive

🙍‍♂️ Himendra A. Wargahadibrata 📷 Kang Opee


BAGAIMANA STATISTIK MEMBERIKAN GAMBARAN PERTANDINGAN YANG 'TAK TERLIHAT' DI LAYAR KACA


Statistik sepak bola, sebetulnya tidak terlalu penting juga bagi para penggemar sepak bola. Selain hanya berisi angka-angka, statistik juga cukup 'mengganggu' kegembiraan, ketegangan, dan emosi menikmati suatu pertandingan.

Betulkah begitu? Bisa ya bisa tidak, bahkan bagi para entusias hingga fanatik. Statistik memang berguna, tapi jelas akan sangat teknikal, di mana tidak semua penggemar sepak bola memperhatikan statistik. Terlebih bagi mereka yang tidak bermain sepak bola (kompetisi atau rekreasi), atau bahkan bermain video game sepak bola.

Mungkin, mungkin mereka yang suka bemain sepak bola, terutama yang kompetitif atau bermain video game sepak bola menaruh perhatian pada statistik. Tetapi yang tidak salah satu atau dua-duanya, bisa jadi kurang memperhatikan statistik.

Tetapi tim jelas membutuhkan statistik untuk raport dan evaluasi. Menilai seberapa efektif strategi, menilai seberapa tinggi daya juang tim dan pemain, juga lainnya.

Misalnya saja menilai Henhen Herdiana, pemain belakang Persib Bandung dalam pertandingan melawan Bhayangkara FC di akhir pekan lalu (Sabtu, 16/10/2021).  Dalam statistik yang dirilis lapangbola.com, Henhen mencatatkan 2 kali tekel, 5x intersep, memenangkan semua duel udara melawan pemain lawan (100%) dan menggiring bola tanpa kesalahan sepanjang pertandingan (100%). 

Data singkat itu menunjukkan kerja keras Henhen untuk membalas kepercayaan yang diberikan pelatih kepadanya.Tidak hanya kerja keras, tetapi juga kerja cerdas dan efektif. 

Statistik juga memberi gambaran apakah permainan berjalan seimbang, atau ada salah satu yang lebih dominan dan agresif sementara lawannya defensif dan efektif. Fakta lain, dominasi dan agresifitas bukan menjadi penentu kemenangan. 

Masih kita lihat statistik pertandingan yang sama dari pencatat statistik yang sama. Bhayangkara FC yang bernafsu mempertahankan posisi puncak klasemen dan menjauh dari pesaingnya, tercatat lebih banyak menguasai bola. Pada babak pertama penguasaan bola Bhayangkara FC adalah 63% berbanding 27% dibanding Persib Bandung. Wow!

Persib yang memiliki masalah dengan ketajaman strikernya memilih bermain efektif dan defensif. Namun walau 'hanya' menguasai bola 27% tetapi bisa memenangkan pertandingan dengan skor 0-2. Hanya ada dua kesempatan shot on targets dan keduanya menjadi angka dibanding Bhayangkara dengan 3 shot on targets tetapi bisa dimentahkan oleh pemain-pemain Persib.

Minimnya shot on targets atau shot off targets kedua tim juga seharusnya bisa memberikan kita suasana lain pertandingan: alotnya pertandingan di lini tengah. Bahkan bisa dikatakan duel lini tengah lah yang menjadi penentu pertandingan dan mempengaruhi kesigapan para pemain belakang. 

Sedangkan dari 7 pertandingan yang sudah dijalani, statistik dari ligaindonesiabaru.com mencatat Persib sudah melakukan tembakan ke arah gawang sebanyak 71 kali dengan 26 kali shot on targets. Artinya ada 45 tendangan yang meleset alias off targets. Sedangkan dari 26 kali tendangan on targets, 8 bisa dikonversi menjadi gol.

Lagi-lagi memberi gambaran bila Persib Bandung memang bermasalah dengan pemain depan. Dan itu sepertinya membuat Abah Obet harus 'ngetrukkeun pangabisa' menguras pikirannya untuk membuat strategi yang sesuai untuk Persib.

Ricky N. Sastramihardja

🙍‍♂️Selebrasi Henhen & Febri Bow 📷 PERSIB Bandung

#Persib #PersibBandung #Bobotoh #BobotohPersib #Liga12021 #MaungBandung #PersibDay

https://www.facebook.com/photo?fbid=1213526702487454&set=a.2515499

Jumat, Oktober 15, 2021

JELANG SERIES 2, BISAKAH ABAH OBET MANFAATKAN FAKTOR NONTEKNIS?


Dalam sepak bola ada dikenal istilah faktor teknis dan faktor nonteknis. Sederhananya, faktor teknis adalah hal-hal yang berhubungan dengan permainan. Misalnya skill individu, skill tim, kondisi lapangan, aturan permainan, dan lainnya. 

Faktor nonteknis bisa dikatakan kebalikannya, misalnya faktor mental pemain, komunikasi dalam tim, suasana di dressing room, dan hal-hal lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan permainan.

Menyimak 4 pertandingan Persib Bandung di Series 1 Liga 1 2021 yang berakhir imbang (vs PSM Makasar 1-1, Persikabo vs 0-0, vs Borneo 0-0, dan Bali United vs 2-2), dari kacamata awam para penggemar, secara teknis tidak ada masalah dengan kemampuan teknis. Baik tim maupun individu.

Walau hasil imbang 4 kali berturut-turut tetapi dari pertandingan yang satu ke pertandingan lain, terlihat ada peningkatan. Lebih menarik walau tentu saja kata 'menarik' di sini subjektif karena tidak menyertakan statistik pertandingan.

Bila menarik dan meningkat, lalu kenapa susah menang? Kenapa susah membobol gawang lawan? Bahkan 5 dari 5 gol yang disarangkan ke gawang lawan dari 6 pertandingan berasal dari pemain tengah? Klok, Rashid, dan Beckhan Putra adalah pemain tengah, bukan striker.

Diduga ada faktor nonteknis yang berkecamuk di tengah tubuh tim Maung Bandung. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi penampilan dan hasil pertandingan, apalagi bila menimpa pemain yang bertugas untuk mencetak gol/striker.

Menurut Si Konon Katanya, disinyalir ada salah seorang striker yang sedang terganggu kondisi mental akibat masalah dan kehidupan pribadinya. Tentunya sangat berat bila berhubungan dengan keluarga, istri, anak, orang tua atau kekasih. 

Tentu saja faktor nonteknis ini (seharusnya) menjadi perhatian tim pelatih, terutama pelatih kepala, Robert 'Abah Obet' Alberts. Ia harus bisa mencari solusi dengan segala cara agar timnya kembali produktif dan memetik kemenangan demi kemenangan.

Series 2 yang dipusatkan di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta serta akan digelar mulai sore ini, 15 Oktober sampai 6 November 2021 akan menjadi ajang pembuktian bagi Abah Obet. Apakah ia bisa melebur dan memadupadankan alasan-alasan nonteknis atau tidak?

Seharusnya sih iya bisa, karena Series 2 akan 'memaksa' para pemain tinggal dalam satu atap yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan sesamanya lebih baik. Lebih intensif, lebih hangat, lebih akrab  daripada saat bermain di Series 1

Karena dalam banyak contoh  dari terbangunnya chemistry antar pemain yang saling akrab tidak saja saat berlatih dan bertanding, tetapi juga di luar lapangan akan sangat mempengaruhi hasil di pertandingan.

Bisakah Abah Obet memanfaatkan faktor nonteknis ini untuk mendongkrak performa Si Maung? Pertandingan pekan ke-7 melawan pemuncak klasemen Bhayangkara FC esok hari, Sabtu 16 Oktober 2021, akan menjadi standar Bobotoh menilai kemajuan Persib Bandung.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Persib Bandung

#Persib #PersibBandung #PersibDay #Bobotoh #BobotohPersib #MaungBandung #RickyNSas

https://www.facebook.com/photo/?fbid=1211436199363171&set=a.251549972018470

Minggu, Oktober 10, 2021

MENGHITUNG PENGHASILAN PERSIB DARI MEDIA SOSIAL


Berapa pendapatan PERSIB Bandung dari media sosial, dalam hal ini Youtube, melalui konten yang dimonetisasi? Melalui laman Socialblade kita bisa mendapat perkiraan berapa rupiah yang didapat Persib Bandung dalam setahun. 

Dengan 1,19 juta subscribers (pelanggan) dan total views 108.909.593 views dari 1230 video yang mereka upload, setidaknya Persib mendapat penghasilan tahunan antara USD 18.300 hingga USD 292.700 (260 juta - 4,17 miliar). Masih dari Socialblade, adapun per bulan Persib setidaknya mendapat 21,3 juta rupiah hingga 347 juta dengan kurs per hari ini, 10 Oktober 2021 pukul 19:30 WIB yakni 1 USD = 14.256.85 Rupiah.

Tentu saja itu hanyalah estimasi Socialblade yang menghitung berdasar komponen views dan durasi, juga komponen lainnya. Bila ada komponen endorse atau iklan yang disertakan dalam video, seperti grafis atau dalam istilah Youtube, paid content, tentu akan keluar nilai yang berbeda. Bisa lebih besar.

Belum lagi pendapatan via video Facebook, yang ini saya kurang faham cara hitung dan cara mendapatkan prakiraan datanya, di mana setiap video yang ditayangkan akun FP Persib Bandung sudah mengundang iklan. Atau mungkin melalui Instagram atau Twitter.

Okay kita ambil bukan angka optimis, kita ambil pertengahan: 2 miliar per tahun untuk Persib hanya dari Youtube saja. Angka yang lumayan, walau pasti belum menutup keseluruhan biaya tahunan Persib. Tentu jangan dibandingkan dengan penghasilan Youtuber terkenal macam Atta Halilintar atau Deddy Corbuzier, mereka bisa meraup miliaran per bulan hanya dari Youtube.

Tapi dibanding klub lain, katakanlah Persebaya Surabaya atau PSS Sleman, maka angka yang didapat Persib berkali lipat lebih besar dari yang didapat dua klub itu.

Akun official Persebaya di Youtube, misalnya, 'hanya' mendapat USD 6.500-104.200 per tahun atau USD 543 hingga 8700 per bulan. Sedangkan PSS Sleman hanya mendapat USD 0,31 - 5 per bulan atau USD 4-59 per tahun. Persija Jakarta? USD 620 - 9900 per bulan atau USD 7400 - 119.000 per tahun.

Konten media sosial bukanlah satu-satunya penghasilan Persib. Persib juga mendapat pendapatan dari hak siar dari setiap pertandingan yang digelar official broadcaster. Entah berapa nilainya. 

Namun yang jelas, semakin banyak penonton di televisi, maka semakin besar pula pundi-pundi Persib. Untuk satu musim, bisa lebih besar dari pendapatan via Youtube yang 'hanya' maksimal 4 miliar rupiah.

Ricky N. Sastramihardja

🙍‍♂️ Unjuk Rasa Bobotoh Depan Grha Persib, Jalan Sulanjana sore tadi 10/10/2021 📷 Twitter @officialvpc







Selasa, September 28, 2021

CARA BOBOTOH MEMANG BEDA....


Cara Bobotoh menyikapi Persib memang beda. Bandung sebagai ibu kota Persib, adalah kota yang aman damai sejuk dan santai. Sesekali terjadi perkelahian anak muda, tapi tawuran sama sekali bukan gaya hidup warganya.

Tapi ketika sudah menyentuh dengan yang namanya Persib, reaksi bisa berubah 180°. Bobotoh enggak mau klubnya nunggak gaji pemain, makanya saat prestasi klub jeblok, tidak mengirim karangan bunga. Tapi molotov seperti dampak kegagalan di Piala 'Koaci' Menpora.

Di Liga 1 2021, hattrick hasil imbang disikapi dengan sama keras. Di Cikarang bis pemain dicegat dan dianjing-anjingi oleh bobotoh. Sampai Bandung juga sama dianjing-anjingi di Fly Over Paspati.

Sungguh krans bunga memang hanya cocok sebagai simbol duka cita bagi klub yang nunggak gaji. Di Persib, pemain-pelatih-offisial hidup nyaman. Wajar bila bobotoh menuntut kemenangan dan kemenangan. No excuse.

📹 Pencegatan Bis Persib 28/9/2021dinihari di Fly Over Paspati. Twitter anwarsanusi137

Sabtu, September 25, 2021

BOBOTOH, PERSIB, DAN HUKUM GOSSEN


Seperti halnya tidak berlaku bagi pemadat/pecandu narkoba, pemabuk, dan penjudi, hukum Gossen sepertinya tidak berlaku juga pada 'konsumen' klub sepak bola. Karena di titik paling ekstrim, suporter tidak akan pernah merasa puas dengan pencapaian klubnya.

Bila hari ini menang, maka besok-besok harus lebih sering menang lagi. Bila hari ini menang 1-0, besok harus menang 10-0. Suporter klub sepak bola akan selalu meminta lebih, walau pada prakteknya tidak akan pernah terpenuhi.

Sebagai produk jasa, olah raga kompetitif seperti sepak bola hanya memiliki 3 opsi hasil: menang atau imbang atau kalah. Bahkan di kompetisi liga hasil imbang pun dianggap sebagai kekalahan karena hasil yang diraih sangat minimal (1 angka) dibanding menang (3 angka).

Maka ketidakpuasan akibat tidak terpenuhinya hukum Gossen akan membuat klub sebagai produsen harus rela menerima masukan, kritikan, cacian, bahkan hujatan dari para penggemarnya.

Ketidakpuasan itu disampaikan dengan cara yang paling santun hingga paling ekstrim. Kebetulan Bobotoh seringkali memberi pesan ekstrim terkait produk 'butut' bernama Persib yang sering mereka 'konsumsi'.

Sekedar memaki di media sosial, demonstrasi, atau mencegat bus pemain usai pertandingan adalah bentuk ketidakpuasan yang lazim. Yang paling ekstrim adalah melempari kantor manajemen dengan bom molotov pun pernah.

Pesan yang keras ini bertolak belakang dengan stereotip pandangan budaya orang Sunda itu 'someah' santun. Kalau sudah urusan prestasi 'butut' sepak bola bernama Persib, 'someah' pun menjadi kata tabu.

Mengapa? Karena sebagai konsumen, Bobotoh tidak bisa pindah dari produk 'butut' bernama Persib ke klub lain yang mungkin saat ini lebih kinclong.

Suporter fanatik sepak bola itu lahir, hidup, mati hanya dengan satu klub. Poligami dengan klub lain di liga atau di kompetisi yang sama adalah hal tabu, pamali. Bahkan mungkin didekatkan ke pengertian musryik: mempersekutukan.

Kritik ekstrim ini tujuannya hanya satu: mendongkrak prestasi klub secara ekstrem pula (baca: optimal).

Maka bila Persib ingin mempertahankan loyalisnya, prestasi dan kemenangan menjadi kewajiban. Para loyalis ini tidak akan pernah meninggalkan klub walau harus PO BOX alias dipoyok dilebok.

Moyok (mengejek) adalah tanda cinta, tanda loyalitas paling jujur. Maka walau butut, Persib tetap ngangenin bagi para loyalisnya.

Ricky N, Sastramihardja

https://www.facebook.com/photo/?fbid=1198450563995068&set=a.251549972018470