Tampilkan postingan dengan label Catatan Warga Negara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Warga Negara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 12, 2025

PERANG UHUD DAN PERANG BUBAT


Jabal Uhud. Di tempat ini pernah terjadi pertempuran antara kaum Muslimin di Madinah dengan kaum Quraisy Mekkah. Terjadi di tahun ke-3 hijriah, tepatnya 7 Syawal 3 H/23 Maret 625 M. Pada pertempuran ini umat Islam yang dipimpin oleh Nabi SAW mengalami kekalahan.

Di tempat ini juga ada pemakaman 70 orang sahabat yang syahid pada pertempuran ini. 

Kisah Perang Uhud ini terdokumentasi dengan terperinci sampai sekarang setelah 1400 tahun lebih lamanya. Kekuatan ingatan orang Arab membuat kisah ini tetap terverifikasi kebenarannya hingga sekarang. Tidak hanya lisan tetapi sudah terdokumentasi dalam berbagai naskah tulisan.

Kita bandingkan dengan Perang Bubat antara Majapahit dan Kerajaan Sunda di tahun 1357 M atau 668 tahun lalu. Perang Bubat ini disebutkan terbatas hanya di beberapa naskah kuno. Salahsatunya naskah Carita Parahiangan yang diperkirakan ditulis di akhir abad ke-16.

Perang Bubat ini sampai sekarang menuai pro dan kontra. Sebagian menganggapnya benar terjadi, sebagian menganggapnya dusta. Banyak juga yang skeptis, dan tidak ambil pusing dengan alasan demi keutuhan NKRI.

Menariknya, di tengah pro kontra kisah sejarah ini, ada sekelompok masyarakat fasis yang menganggap dia dan leluhurnya adalah orang-orang hebat.  Saking hebatnya, sekelompok fasis yang sering disebut kaum rahayu ini semakin terang-terangan menghina Kaum Muslimin di Indonesia, juga menghina orang Arab.

Pemakaman 70 syuhada Uhud

Heran saja mengaku lebih hebat dari orang Arab, mengakui ajaran agama leluhurnya lebih benar daripada Islam, tetapi buta akan sejarahnya sendiri yang berjarak hanya 668 tahun. Sedangkan tradisi Islam, mengingat setiap detail peristiwa sejarah agamanya lengkap dengan nama, tahun, tempat dan perincian-perincian lainnya yang sulit dibandingkan dengan sejarah Nusantara dalam kurun waktu yang sama.

Ah jangankan Perang Bubat yang terjadi hampir 7 abad silam, sejarah Persib Bandung yang terjadi di dunia yang sudah tertulis, pun ternyata 'gelap'.

Paling lama sejarah Persib itu dimulai 106 tahun lalu (1919, versi PT. PBB) atau 1933 (versi tradisi historikal-lisan), atau 1934 (versi naskah akademis sumber tertulis satu-satunya).

Bagaimana bisa kaum rahayu ini mengaku diri bangsa Nusantara adalah bangsa yang hebat bila ternyata kita hanyalah bangsa amnesia yang mudah lupa dan abai peristiwa sejarah?

Bandung, 12 April 2025/13 Syawal 1446H

Ricky N. Sastramihardja

Jumat, Februari 07, 2025

PEUYEUM YANG ISTIMEWA


Peuyeum adalah penganan yang istimewa. Hasil fermentasi singkong itu selain bisa dikonsumsi secara 'stand alone' juga bisa dikonsumsi sebagai olahan, atau bagian dari 'mix and match'.

Salah satu olahan yang menjadi favorit saya adalah kolek peuyeum singkong. Apalagi dikonsumsi saat berbuka puasa, duh enaknya tidak terkira. 

Sampai suatu ketika, pernah saya mengkonsumsi kolek peuyeum ini selama 3 hari berturut-turut untuk berbuka puasa dan saat sahur. Walhasil di hari ke -4 lambung dan pencernaan mengalami gangguan akibat terpapar peuyeum yang tingkat keasaman tinggi akibat fermentasi.

Peuyeum juga menjadi bagian dari 'mix and match' minuman segar seperti es doger, atau es krim, atau es teler. Rasanya yang asam manis membuat penganan yang kita makan menjadi lebih kaya rasa.

Salah satu penganan olahan dari peuyeum yang paling terkenal adalah Colenak. Colenak yang merupakan akronim dari 'dicocol enak' adalah peuyeum yang dibakar, kemudian dipotong-potong, lalu dicocolkan pada saus gula kelapa atau kinca.

Di dalam bahasa Sunda, peuyeum selain menjadi kata benda untuk hasil fermentasi pada singkong atau ketan, juga menjadi kata kerja. Memeram atau melakukan fermentasi pada buah-buahan yang belum masak, disebut sebagai 'meuyeum'.

Misalnya pada pisang, alpukat, atau buah lain yang dipetik saat masih hijau dan belum terlalu matang. Pisang biasanya dipeuyeum dengan cara dipendam di tanah dengan mencampukan sejumlah karbit. Alpukat biasanya dipeuyeum di tempayan tempat beras selama baberapa hari sampai matang dan empuk. 

Peuyeum juga menjadi alegori buat pekerjaan yang terlalu sering diotak-atik atau lambat dikerjakan yang akhirnya menjadi sia-sia. Misalnya pada kalimat "Febri mah sok loba meuyeum bal, jadi we karebut ku batur." Kalimat tersebut menunjukan bila seorang Febri dianggap terlalu sering menggocek bola sendirian, kurang memberi umpan pada rekannya pada saat bermain bola.

Lalu apakah peuyeum haram atau halal karena mengandung alkohol hasil fermentasi? Menurut ijma berbagai ulama, peuyeum tidak haram walau mengandung alohol. Karena peuyeum singkong tidaklah memabukan, tidak termasuk khamr. Tetapi sepertinya akan berbeda dengan peuyeum ketan yang bila diperam secara berlebihan bisa mengandung alkohol yang memabukkan.

Coba saja kita konsumsi peuyeum singkong sebanyak-banyaknya. Sepertinya tidak akan mabuk tetapi yang ada malah gangguan lambung. Begitu juga dengan peuyeum ketan yang diprodusi dalam waktu normalnya. Lain soal bila peuyeum ketan itu kita peram lebih lama dari biasanya hingga mengandung alkohol.

Ada panduan agar peuyeum yang dikonsumsi tidak menjadi haram karena mengandung alkohol. Seperti dikutip Republika dari Halalcorner, tape ketan yang harus diwaspadai, sementara tape singkong atau peuyeum usahakan cari yang digantung (minim alkohol). Hindari juga peuyeum yang berair karena pasti kadar alkoholnya tinggi.

Peuyeum termasuk makanan olahan bioteknologi sederhana. Fermentasi mengubah glukosa menjadi alkohol, mengubah tekstur singkong menjadi lunak dan manis.

Disebutkan oleh Ilham Choirul Anwar di Tirto.id 8 Maret 2023, bila makanan yang dihasilkan melalui proses fermentasi, umumnya mempunyai nilai gizi lebih tinggi dibanding bentuk asalnya ketika dikonsumsi.

Mikroba yang terlibat dalam fermentasi memecah berbagai komponen kompleks menjadi zat-zat lebih sederhana sehingga lebih gampang dicerna. Mikroba ini juga bisa melakukan sintesis beberapa vitamin kompleks seperti riboflavin, vitamin b12, dan provitamin A.

Itulah yang membuat peuyeum istimewa. Memiliki nilai gizi yang baik dibanding masih berupa singkong. Dalam bahasa, peuyeum bisa berupa kata benda, bisa juga menjadi kata kerja.

Ricky N. Sastramihardja

Bacaan Pengaya:

1. Tape Mengandung Alkohol, Apakah Haram Dikonsumsi Muslim? Rahma Sulistya/Qommaria Rostanti, Republika.co.id; Ahad 26 November 2023. Diakses 7 Februari 2025. https://ameera.republika.co.id/berita/s4pvex425/tape-mengandung-alkohol-apakah-halal-dikonsumsi-muslim

2. Reaksi Kimia pada Fermentasi Tape Singkong & Ketan Jadi Etanol. Ilham Choirul Anwar, Tirto.id; 8 Maret 2023. Diakses 7 Februari 2023. https://tirto.id/reaksi-kimia-pada-fermentasi-tape-singkong-ketan-jadi-etanol-gDiy

3. Tape, Halalkah dikonsumsi? Chairunnisa Nadha, halalmui.org; 1 Maret 2022. Diakses 7 Februari 2025.https://halalmui.org/tape-halalkah-dikonsumsi/ 


Rabu, Februari 05, 2025

MELACAK JEJAK NAMA-NAMA TEMPAT DI BANDOENG TEMPO DOELOE


Entah darimana dan kapan saya mendapati beberapa peta kuno Bandung Kota peninggalan jaman baheula. Satu bertanda tahun 1910 terbitan Topographische Inrichting, Batavia dengan judul "Bandoeng En Omstreken" (Bandung dan Sekitarnya) dengan skala 1:10.000. Satu lagi tak bertanda waktu mungkin terpotong saat pindai dan unggah, berjudul "Kaart van De Gemeente Bandoeng" dengan skala 1:10.000. 

Bila diperhatikan lebih teliti, peta ke-2 lebih muda bebeberapa tahun dibanding peta pertama. Indikasinya sudah ada pemetaan wilayah Kiara Condong dan pabrik gas. Sedangkan di peta pertama yang bertanda 1910 wilayah Kiara Condong belum terpetakan, masih berupa sawah. 

Peta tersebut berformat *.tiff, sudah berwarna, dan berukuran hampir 300 mb per lembarnya. Sayangnya teledor tidak menyimpan tautan atau situs web mana yang menyediakan peta ini. Seingat saya, informasinya semula dari akun Fanspage di Facebook yang mengunggah peta Jakarta jaman kolonial dulu. 


Menarik sekali bila memperhatikan peta pertama. Sudah berwarna, ukuran dan formatnya yang besar memudahkan untuk membaca teks-teks kecil di laptop. Apalagi bila laptopnya sudah menggunakan layar sentuh, membuat penjelajahan peta semakin menyenangkan seperti saat menggunkan tablet atau ponsel.

Masih ada wilayah yang bernama Doengoesmaoeng atau Dungus Maung di wilayah yang kita kenal sekarang berada di kawasan Ciateul, Moh. Toha, Pasirluyu, Kembar Buah Batu. Dungus adalah basa Sunda untuk semak belukar dengan tanaman merambat rimbun, setara dengan ruyuk, rungkun. Bisa diimajinasikan bila dulu kawasan ini menjadi tempat harimau atau maung bersenang-senang mencari mangsa.

Di peta juga disebut ada Hospitaal voor Inlandeer atau rumah sakit untuk warga pribumi. Posisinya di atas Tjilentah yang bila dikonversi sekarang mungkin di sekitar jalan Karapitan atau Buah Batu.

Kebon Kalapa pun tidak hanya di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Kebon Kalapa yang terminal angkutan umum dalam kota. Tetapi ada di beberapa tempat. Selain di kawasan antara Astana Anyar dan Jalan Otista dekat Tegallega, juga sekitar Babakan Ciamis sekarang. 

Uniknya di kawasan Otista -Astana Anyar ada kampung atau wilayah yang bernama Kandang Sapi. Sepertinya sudah tidak disebutkan demikian di jaman ini. Berbeda dengan nama Boedjoengsoeoerapan yang hingga sekarang masih ada di sekitar kawasan itu, walau hanya menjadi nama gang Bojong Surupan.


Kita mengenal SD Banjarsari di Jalan Merdeka, pertanyaannya adalah mengapa dinamakan SD Banjarsari? Sedangkan satu SD lain di jalan yang sama, dinamakan SD Merdeka? Ternyata, kawasan di mana SD Banjarsari berdiri, dulunya bernama Kampung Bandjarsari Wetan. Sedangkan di seberang rel yang sekarang ada hotel Panghegar dan sekitarnya, disebut kawasan Bandjarsari Kidoel.

Mengulik peta lama adalah kegiatan menyenangkan. Ada banyak pengetahuan dan sejarah yang bisa diteruskan pada kawan, keluarga, sahabat, dan anak-anak kita soal sejarah kota tinggal kita. 

Tentunya tinggal di Bandung sangat menyenangkan karena sebagai kota warisan kolonial yang dibangun penjajah, mereka meninggalkan banyak dokumen menarik walau tidak semuanya tersedia di internet dan bisa kita akses.

Ricky N. Sastramihardja

Jumat, Januari 31, 2025

MEMBUKTIKAN PERANG BUBAT TIDAK PERNAH ADA



Sore tadi selepas ashar, Jumat 31 Januari 2025,  saya berbincang hangat dengan salah seorang senior Lises Unpad. Beliau angkatan 1982, wartawan, orang Jawa, angkatan pendiri di mana di tahun itu NKK/BKK baru diberlakukan dan kegiatan mahasiswa tersentralisasi di pusat universitas. Kami baru bertemu sekali itu setelah Lises Unpad berdiri 43 tahun lamanya.

Perbincangan ngaler ngidul yang kemudian merambat ke bagaimana cara membumikan Sunda di Tatar Sunda. Saya bercerita bila dalam beberapa waktu belakangan ini, walau tidak rutin, mengasuh acara diskusi di platform X (dulu Twitter) dengan menggunakan fasilitas audio broadcast Space

"Temanya beragam, tetapi lebih ke kisah-kisah populer dalam khazanah masyarakat Sunda karena segmen pendengar dan peserta diskusinya juga sangat awam. Misalnya, membagi segmen sejarah masa silam menjadi sub topik yang ringan. Misalnya bagaimana orang Sunda berperang? Senjata apa yang digunakan dalam perang Bubat? Apakah orang Sunda berperang telanjang dada atau sudah menggunakan baju zirah atau body armor," terang saya.

Karena perbincangan santai itu dilakukan di ruang publik, di halaman perpustakaan Ajip Rosidi, menjadikan perbincangan itu seolah menjadi perbincangan publik. Hingga ada seseorang yang duduknya bersebelahan dengan senior saya, ikut berbincang.

"Sebentar Kang," selanya.

"Perang Bubat itu bohong, hanya buatan penjajah untuk membuat bangsa kita terpecah dengan mengadudombakan bangsa Jawa dengan bangsa Sunda," sergahnya lagi.

Saya tersenyum dan berusaha memberikan argumen bahwa Perang Bubat dimuat dalam naskah Kidung Sundayana, Kidung Sunda, dan Carita Parahiangan. Juga Pararaton. Untuk diketahui, perang Bubat terjadi pada tahun 1357 M antara pasukan Kerajaan Sunda yang dipimpin Prabu Linggabuana dengan pasukan Majapahit beserta koalisinya di Trowulan, Mojokerto Jawa Timur sekarang.

Tetapi beliau tetap saja menyampaikan pendapatnya bahwa Perang Bubat itu tidak dikisahkan dalam kurun waktu sejaman. "Bisa jadi ada tekanan politis penjajah pada saat itu pada para penulis lontar untuk mengisahkan peperangan bohong itu untuk memecah belah bangsa Jawa dan Sunda."

"Logika lainnya, bagaimana mungkin Pasukan Sultan Agung yang tidak kembali lagi ke Mataram, bisa diterima dan kemudian bermukim di Tatar Sunda?, sergahnya lagi. 

Memang kegagalan pasukan Mataram menyerbu Batavia di 1628 dan 1629 M membuat Sultan Agung murka. Ia menghukum mati pasukan dan panglima-panglimanya yang gagal menyelesaikan tugas. Alih-alih pulang ke Mataram, disinyalir beberapa pasukan Sultan Agung merembes di Tatar Sunda. Berdomisili dan menjadi masyarakat lokal seperti misalnya dalam kisah yang ditemukan di Babakan Jawa, Kabupaten Majalengka.

***

Salah satunya yang menjadi kisah sejarah adalah pemberontakan Dipati Ukur yang gagal memenuhi keinginan Sultan Agung Mataram.

Bagi Mataram, Dipati Ukur adalah pemberontak. Tetapi bagi urang Sunda, Dipati Ukur adalah pahlawan yang namanya wangi hingga sekarang. Walau ada pendapat yang menyebut Dipati Ukur bukan orang Sunda melainkan orang Jawa. Kepahlawanan Dipati Ukur bagi urang Sunda, melepaskan nasab kesukuan Dipati Ukur. Selama membela tatar Sunda, apapun etnisnya, akan dihargai oleh urang Sunda.

Sampai kemudian di bagian akhirnya, Si Penyergah, sebut saja begitu, mengakhiri statemen dan tuduhannya. "Bagaimana mungkin Perang Bubat terjadi bila kemudian mahkota Hayam Wuruk ditemukan di Majalaya?"

Statemen mahkota Hayam Wuruk ditemukan di Majalaya, membuat saya memilih mengalihkan diskusi dan membahas topik lain. Karena saya yakin informasi tersebut tidak valid, tidak ada bukti dan pengakuan para ahli, bahkan tidak pernah ada di media manapun. 

Sampai kemudian di saat saya menuliskan catatan ini, saya menemukan postingan dengan tema mahkota Majapahit ada di Majalaya di platform berbagi video, Youtube. Tidak ada gambar, tidak ada pendapat ahli, bahkan siapa penyampai informasi pun tidak jelas. Di dalam dunia akademis, fakta haruslah teruji, terbukti. Bukan klaim.

Begitu juga dengan tuduhan perang Bubat tidak pernah terjadi. Tuduhan terhadap penjajah Belanda yang memalsukan (atau mungkin Portugis) tidak pernah berhasil dielaborasi oleh penuduhnya. Bila menuduh pihak penjajah berkepentingan terhadap pemalsuan sejarah bangsa, tuduhan itu harus disertai bukti dan fakta yang kuat, yang terverifikasi, valid dan teruji secara akademis.

Bila tuduhan itu tanpa bukti dan tidak pernah teruji, ya hanya asumsi. Asumsi itu baru data mentah, bukan fakta. Bagaimana cara penjajah memalsukan sejarah? Apa buktinya penjajah menekan penulis lontar menulis sejarah palsu? 

Pun terjadinya Perang Bubat yang ditulis di naskah kuno di rentang 2-3 abad setelah kejadian masih lebih shahih dibanding dengan asumsi yang dibuat di abad ke-21. Selain rentang waktunya sangat jauh, juga tidak pernah sekalipun para penuduh itu menyertakan bukti.

Asisi Suhariyanto di Asisi Channel misalnya, menjelaskan keraguannya akan perang Bubat akibat naskah yang memuatnya berjarak 2 atau 3 abad setelah kejadian. 

"Terkait sumber-sumber yang menceritakan peristiwa Perang Bubat, Asisi mengatakan bahwa semua sumber itu bukanlah sumber primer melainkan sekunder. Karena peristiwa itu terjadi pada abad ke-13, sementara Kitab Pararaton diperkirakan ditulis pada abad ke-15, sedangkan Carita Parahyangan pada abad ke-16.

"Tapi sumber yang paling kuat adalah Pararaton, lalu Carita Parahyangan. Lainnya itu sudah sangat sekunder dan sangat pengembangan sekali,” kata Asisi dikutip Merdeka.com, 29 September 2024 dari kanal YouTube Asisi Channel. 

***

Sejarah tragedi tentu akan berwajah ganda bagi para pendukung dan penentangnya. Tetapi wajah ganda itu akan menjadi valid bagi ke dua belah pihak bila keduanya mempunyai fakta dan bukti yang bisa terverifikasi. Sumber primer memang lebih valid, tetapi sumber sekunder menjadi layak diperhatikan bila tak ada satupun sumber primer/sejaman.

Sumber tersier yang menjadi cerita lisan di masyarakat, sejauh mana memiliki banyak varian, perbedaan gubahan, hingga kontradiksi antara logika dengan realita pun masih memiliki nilai faktual yang bisa diterapkan walaupun biasanya berupa norma dan etika. 

Misalnya, konflik antara dua bersaudara dalam carita legenda Ciung Wanara, yang dipercaya menyimbolkan awal terjadinya bangsa Sunda dan Jawa.  Ciung Wanara merupakan sastra lisan yang lebih tua dari naskah-naskah tulis berbahasa Sunda mulai dari abad ke-14.

Tetapi soal Perang Bubat masih harus dianggap terjadi, sampai ada bukti dan fakta lain yang disampaikan para ahli. Bukan asumsi keraguan berdasar logika yang dipaksakan di masa kini dengan alasan demi persatuan dan kesatuan.

Para penolak Perang Bubat, baik bangsa Sunda maupun bangsa Jawa, harus menyajikan data, fakta yang komprehensif yang memperkuat tuduhan mereka. Tidak boleh anonim, harus jelas sebagai pertanggungjawaban pada publik.

Bukan dari kanal Youtube yang entah siapa pemiliknya dan darimana mereka mendapatkan sumber referensi sejarahnya. Mahkota Majapahit ada di Majalaya, kalimat yang membuat saya tersenyum simpul saat ini.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Copilot AI

Bacaan pengaya:

1.Disebut Hanya Mitos Ciptaan Belanda, Ini Fakta di Balik Perang Bubat yang Memisahkan Jawa dengan Sunda. Shani Rasyid (reporter) dan Nisa Mutia Sari (editor), Merdeka.com 29 September 2024.  https://www.merdeka.com/jateng/disebut-hanya-mitos-ciptaan-belanda-ini-fakta-di-balik-perang-bubat-yang-memisahkan-jawa-dengan-sunda-205662-mvk.html

2. Perang Bubat: Latar Belakang, Lokasi, dan Dampaknya. Widya Lestari Ningsih, Nibras Nada Nailufar, Kompas.com, 5 Mei 2021 diakses 31 Januari 2025.   https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/05/141749079/perang-bubat-latar-belakang-lokasi-dan-dampaknya.

3. Menggugat Sejarah Perang Bubat, Upaya Menghapus Luka Budaya. As'ad Syamsul Abidin, Aktual.com 14 Juni 2022, diakses 31 Januari 2025. https://aktual.com/menggugat-sejarah-perang-bubat-upaya-menghapus-luka-budaya/

4. CETBANG PAJAJARAN DI PERANG BUBAT. https://6ix2o9ine.blogspot.com/2025/01/cetbang-pajajaran-di-perang-bubat.html


Kamis, Januari 30, 2025

WAJAH INDONESIA DALAM SENYUM DAN PERILAKU BUDAYA


Perjalanan melanjutkan aktivitas bertualang bersama GeoUrban setelah melihat pohon kopi tua berusia ratusan tahun di Curug Cipanoli  nampaknya harus berhenti sementara. Siang itu hujan lebat melanda kawasan Cisalak Subang padahal baru sekitar 15 menit rombongan bermotor GeoUrban 30 mengunjungi curug tersebut pada Sabtu 27 Januari 2025.

Rombongan yang dipimpin el presidente PGW Indonesia, 'Al Habib' Deni Sugandi itu lalu menunggu hujan reda di warung yang juga merangkap pengelola curug. Ditemani menu khas Indonesia -mie instan, kopi, gorengan, dan pastinya kerupuk- perbincangan hangat pun terjadi. Andi Lala, salah seorang peserta yang juga adik kelas saya sewaktu di SMA, mengatakan bila mie instan sudah ia pesan sewaktu saya melaksanakan ibadah sholat dzuhur tadi.

Saya juga menyempatkan berbincang dengan Monsieur Christope Deyer, Direktur Institut Français IndonĂŠsie IFI Bandung yang untuk ke-2 kalinya menjadi peserta. 

"Saya sudah mengunjungi banyak negara di Asia, terutama Jepang dan Cina. Mereka semua baik, semua ramah. tetapi tidak sehangat seperti di Indonesia," kisahnya saat mengisahkan kesannya mengikuti GeoUrban untuk kedua kalinya. 

"Di sini terlihat santai, banyak senyum, dan juga bercanda," tambah pria bule yang sering disebut Kang Asep oleh para koleganya di IFI, juga oleh kami

"iya, wajar," timpal saya. 

"Hampir di seluruh Indonesia ya seperti ini, bahkan di luar Jawa, di komunitas masyarakat yang terlihat 'galak' dan 'kasar', suasananya selalu hangat seperti ini."

Saya menimpali perbincangan itu dengan selintas ingatan saat mengunjungi beberapa pulau di luar Jawa di masa lalu. Misalnya saat beberapa minggu di Pandan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara di 2007 silam.

Ada pandangan stereotip di masyarakat Sunda bila orang Batak (demikian urang Sunda menyebut warga Sumatera Utara yang sebetuknya multi etnis) itu galak-galak yang tampak dari intonasi dan nada bicaranya. Tetapi dua minggu di Pandan, mengkoreksi pandangan itu.

Pengendara sepeda motor melintasi jalan padati yang dirintis pengusaha Belanda P.W. Hofland dan Bupati Rd. Rangga Martanegara pada tahun 1847. 

Mereka, orang-orang Batak itu, ramah-ramah, full senyum, dan bicaranya pun santai. Tidak ada intonasi yang berat, tegas, dan keras seperti yang terdengar dari orang Batak totok yang belum lama tinggal di Bandung.

"Itu kan teknik survival aja Bang, namanya juga orang merantau. Mereka lebih defensif," jelas Con sambil terkekeh saat berbincang soal pandangan saya terhadap kebisaan perantauan Batak di tanah Sunda. Con atau Robinson, adalah pengemudi yayasan yang memperkerjakan saya saat itu. Con  lahir besar di Pulau Nias, pulau di laut Selatan pantai Sibolga yang indah dan mempesona.

Perbincangan dengan Christope yang ngaler ngidul, terhenti saat hujan reda. Kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan GeoUrban yang masih panjang. 

Sepanjang perjalanan, perbincangan  itu masih  terngiang. Soal keramahan orang Indonesia dalam kesan Christope yang sudah melanglang buana ke banyak tempat di benua Asia. Saya tiba-tiba teringat dengan perbincangan entah kapan bersama Mang Ayod alias Aom Prima, sahabat saya di ITJ Bandung.

Mata air Cipabeasan di kaki gunung Bukit Tunggul yang mengalir menjadi anak sungai di DAS Cipunegara

"Nya heueuh atuh Mang, urang Sunda mah teu kudu ngumbara. Teu kudu perang jeung batur parebut sumber daya. Nanaonan atuh, sagala geus aya, geus nyampak," ujar menak Sumedang jebolan ISIP Unpad itu.

Tiga perbincangan di tiga waktu berbeda, dengan orang berbeda, tempat berbeda, dan tema yang berbeda itu mengantarkan saya pada suatu perspektif yang lebih menjelaskan apa yang disampaikan Christope soal orang keramahan orang Indonesia yang tercipta karena dukungan geologi dan alamnya.

Sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang banyak, cuaca dan iklim yang hangat, minimnya konflik membuat bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya di Asia. seringkali kita dianggap malas dan terbelakang oleh bangsa lain yang tampaknya lebih tangguh, lebih sering berperang, lebih sering konflik perebutan wilayah dan sumber daya alam.

Padahal kita sebetulnya tidak malas seperti yang diklaim Mochtar Lubis dalam pidato kebudayannya di TIM Jakarta tahun 1977.  Kita dikaruniai banyak kemudahan oleh Alloh SWT melalui alam ciptaan-Nya di alam tropis ini yang membutuhkan sedikit usaha saja untuk menggunakannya.

Berbagai jenis varietas tanaman tumbuh subur di tanah Indonesia berbagai fauna hidup dan berkembang biak di Indonesia.Suatu hal yang harus kita syukuri, walau gejolak politik selalu ada, bangsa Indonesia terbilang minim konflik.

Bentuk syukur atas karunia Alloh SWT itu tercermin dalam wajah dan perilaku orang Indonesia seperti yang digambarkan Christope dalam perbincangan di warung Curug Cipanoli. Keramahan dan kebaikan orang Indonesia, senyum yang selalu menghiasi wajah adalah karunia itu tersendiri.

Kita mungkin tidak superior bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita mensyukuri semua nikmat yang diberkahi di bumi ini. Di bumi yang diberkahi ini kita diajarkan untuk tidak agresif dan rakus karena semua tersedia, semua terpenuhi.

📷 Panorama Subang dari ketinggian 1260 M DPL Bukanagara

Ricky N. Sastramihardja

Minggu, Januari 26, 2025

MENYADAP RUPIAH DARI GETAH

"Nya biasana mah 15 dinten sakali panénna mah," sebut saja Ma Ésih, saat dijumpai di kawasan hutan pinus Gunung Putri, Lembang, Jawa Barat (Jumat, 24 Januari 2025).

Ma Ésih menuturkan, sebelumnya ia menyadap pinus terlebih dahulu mereka menanami lahan yang dikuasai Perhutani itu dengan sayur-mayur. Namun karena kemudian menanami lereng dengan sayuran menyebabkan banjir di kawasan bawah (Lembang, Bandung Kota), maka mereka beralih menjadi penyadap getah pinus.

"Sadaya dipasihan ti Perhutani. Ti mimiti binih, gemuk, dugi ka alat-alat kanggo nyadap geutah ti ngawitan batok, ĂŠmbĂŠr tepi ka alat kanggo ngabacok."

 "Pokona mah asal kersa wĂŠ midamelna. Teu kedah setoran, teu aya sewa lahan," paparnya.

Ma Ésih juga menceritakan bila di musim penghujan seperti sekarang, produksi getah yang bisa disadap lebih sedikit dibanding di saat musim kemarau. Batok penampung sadapan -yang sudah diganti dengan mangkok plastik- selain berisi getah Pinus merkusii, juga berisi air.

"Nya margi obat-obatan kanggo ngaluarkeun geutahna kahujanan ongkoh, teu nerap," imbuhnya. 

Memang terlihat dalam satu mangkok tidak terisi penuh getah pinus. Tetapi bercampur juga dengan air hujan.

Getah tersebut kemudian ditampung dalam ember untuk kemudian dialihkan ke jerigen atau sejenisnya sebelum dikiri ke pengepul. Kelak getah tersebut akan diolah menjadi gondorukem, arpus, atau produk olahan lainya seperti terpentin dan pernis.

Siklus menyadap getah pinus per 15 hari itu tentu saja memiliki nilai ekonomi. Bagi Ma Ésih, selama pohon pinus masih di rentang usia produktif antara 10-15 tahun masih bisa disadap. "Nya dugi ka garingna wé daunna, dugi ka coklat. Hartosna tos teu tiasa ngageutah deui tangkalna."

Ricky N. Sastramihardja


Selasa, Januari 07, 2025

CETBANG PAJAJARAN DI PERANG BUBAT


DURMA

Di kapal amat banyak orang Sunda

bersiap berjaga-jaga

Dan para awak kapal

memasang meriam

Peluru 'nyembur bagai penabur

lepas secepat kilat

menghambur ke mana-mana

(Kidung Sunda II. Terjemahan Haksan Wirasutisna, Balai Pustaka 1980)

Dari naskah Kidung Sunda yang diperkirakan ditulis di akhir abad ke-15, dikisahkan bila pada Perang Bubat antara Majapahit dan Kerajaan Sunda, pasukan Sunda menggunakan meriam yang dipasang di kapal-kapal mereka.

Kidung sunda menyebutkan bila pasukan Sunda memiliki juru-modya ning bedil besar ing Bahitra alias operator meriam besar.

 Meriam Kalantaka koleksi Kerajaan Sumedang Larang yang merupakan hadiah dari VOC di abad ke-16.

Begitu juga pasukan Majapahit dan sekutunya, kedua belah pihak sama-sama telah menggunakan senjata api (meriam/kanon) dalam pertempuran tidak seimbang yang menyebabkan Prabu Linggabuana gugur di tahun 1357 M. 

Lalu sejak kapan mesiu mulai digunakan oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara? Diperkirakan mesiu dan meriam mulai digunakan pada saat Raden Wijaya dan Pasukan Mongol bekerja sama untuk menggulingkan Kartanegara dari puncak Kerajaan Singasari pada tahun 1293 M.

Bangsa Cina sendiri diperkirakan sudah menggunkaan mesiu dan amunisi sejak abad ke-10. Pada masa awal perkembangannya, kanon Cina dibuat dari potongan bambu,

Interaksi dengan pasukan Mongol tersebut membuat senjata api yang kemudian dikenal sebagai meriam cetbang (dari asal kata chongtong), menjadi hal yang biasa. Apalagi banyak ahli-ahli logam di Nusantara yang bisa membuat cetbang dari coran perunggu. Bahkan bahan bubuk mesiu pun tersedia antara lain di Lamongan.


Pada perkembangan selanjutnya, cetbang terdiri dari juga jenis, yakni yang pelurunya dimasukkan dari belakang sebagai pengaruh Cina, serta peluru meriam yang dimasukkan dari depan sebagai pengaruh Kekhalifahan Turki Utsmani.

Cetbang pada masa itu bervariasi, mulai berukuran 1 meter yang bisa dijadikan hand cannon, hingga meriam besar sepanjang 3 meter. Pada perkembangan selanjutnya, diperkirakan juga kerajaan-kerajaan mulai menggunakan senapan atau bedil dorlok (semacam flintlock).

Urang Sunda sendiri menyebut meriam sebagai bedil sundut atau lodong. Mungkin berasal dari kata chongtong yang bila diserap ke bahasa Jawa menjadi cetbang.

Ricky N. Sastramihardja

7 Juni 2023, disempurnakan dan diperbaiki 7 Januari 2025

Gambar/foto:

1. Kapal Galai Banten, dengan 4 meriam di satu sisinya. Johann Theodor de Bry  and Johann Israel de Bry 1599.

2. Meriam Kalantaka koleksi Kerajaan Sumedang Larang yang merupakan hadiah dari VOC di abad ke-16.

3. Cetbang yang ditemukan di Sungai Brantas, Jawa Timur. 

4. Cetbang koleksi Kerajaan Sumedang Larang yang terdapat di Museum Geusan Ulun

Referensi:

1. Kidung Sunda II. Penterjemah: Haksan Wirasutisna. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROYEK PENERBITAN BUKU BACAAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta. 1980. Berkas digital dari https://repositori.kemdikbud.go.id/23884/1/KIDUNG%20SUNDA%20II.pdf Diunduh 6 Januari 2025

2. Cetbang. Wikipedia. Diakses 6 Januari 2025 https://id.wikipedia.org/wiki/Cetbang

3. Kapal-Kapal Kesultanan Banten yang Canggih dari Kesaksian VOC. Galih Pranata, National Geographic.grid.id, Jumat 1 Juli 2022. Diakses 6 Januari 2023 https://nationalgeographic.grid.id/read/133354258/kapal-kapal-kesultanan-banten-yang-canggih-dari-kesaksian-voc?page=all

4. Ghali (kapal). Wikipedia. Diakses 6 Januari 2025 https://id.wikipedia.org/wiki/Ghali_%28kapal%29 

5. Koleksi Benda Museum. Koleksi Benda Museum Keraton Sumedang Larang. https://virtualtour.sumedangkab.go.id/benda-pusaka/

Senin, Januari 06, 2025

SKANDAL SEKS RAJA-RAJA SUNDA

Seks menjadi hal yang tabu dibicarakan di masa lalu. Selain karena berhubungan dengan kehormatan, juga bila dilakukan tidak dengan pasangan resmi akan menjadi kisah perzinahan alias skandal. 

Hal tersebut disadari penting oleh penulis naskah kuno Carita Parahiangan. Naskah yang menggunakan huruf Sunda Kuno dan bahasa Sunda Kuno itu dengan gamblang mengungkap perzinahan yang dilakukan raja, juga 'prameswari' permaisuri.  Bahkan anak hasil zina pun turut mewarnai sejarah perebutan kekuasaan di antara urang Sunda di masa ratusan tahun silam.

VI. Ngareungeu tatabeuhan humung gumuruh tanpa parungon, tatabeuhan di Galuh. Pulang ka Galuh teter nu ngigel.

Sadatang ka buruan ageung, carék Rahiyangtang Mandiminyak, "Sang Apatih, na saha éta?" "Béjana nu ngigel di buruan ageung." "Éta bawa sinjang saparagi, iweu kéh pamalaan aing. Téhér bawa ku kita keudeukeudeu!"

Leumpang sang apatih ka buruan ageung, dibaan ka kadatwan na Pwah Rababu. Dipirabi ku Rahiyangtang Mandiminyak, dirabi kasiahan na Pwah rababu. Diseuweu patemuan, dingaranan Sang Salah.

CarĂŠk Rahiyang Sempakwaja, "Rababu leumpang! Ku siya bwatkeun budak ĂŠta ka Rahiyangtang Mandiminyak. Anteurkeun patemuan siya Sang Salahtwah."

Barang ngadĂŠngĂŠ tatabeuhan ngaguruh teu puguh rungukeuneunana, tatabeuhan di Galuh, Pwah Rababu terus mulang ka Galuh di dinya tĂŠh taya kendatna nu ngigel.

Sadatangna kaburuan ageung, cek Rahiangtang Mandiminyak: "Patih, na naon ĂŠta tĂŠh?"

"BĂŠjana nu ngigel di buruan ageung!"

"Éta bawa pakéan awéwé sapangadeg, sina marek ka dieu. Keun tanggungan aing. Geuwat bawa sacara paksa!"

Patih indit ka buruan ageung. Pwah Rababu dibawa ka kadaton. Dipirabi ku Rahiangtang Mandiminyak. Kacida bogohna ka Pwah Rababu. Tina sapatemonna, nya lahir anak lalaki dingaranan Sang Salah.

CarĂŠk Rahiang Sempakwaja: "Rababu jig indit. Ku sia bikeun ĂŠta budak ka Rahiangtang Mandiminyak, hasil jinah sia, Sang Salahlampah.

Dalam tafsir yang dibuat Oleh Abdurrachman dkk dalam "Carita Parahiangan: Ringkasan, Konteks Sejarah Isi Naskah dan Peta" (1990) disebut bila Mandiminyak menggauli kakak iparnya, Pwah Rababu atau disebut di naskah Wangsakerta sebagai Dewi Wulansari. Adapun suami sah Dewi Wulansari adalah Sempakwaja, kakak kandung Mandiminyak.

Hasil perzinahan itu menyebabkan Dewi Wulansari hamil dan lalu melahirkan seorang anak yang diberi nama Sang Salah atau Sang Sena. 

Perhatikan: Dalam transkripsi naskah disebut Sang Salah atau Salahlampah sedang dalam transliterasi oleh Atja disebut sebagai Sang Sena. 

Begitu juga dalam tafsir Abdurrachman dkk, bila di transkripsi dan transliterasi naskah disebut Pwah Rababu Dalam tafsir disebut Pwah Rababu itu Dewi Wulansari. Kisah ini diperkirakan terjadi di masa kekuasaan Wretikandayun antara 670-702 M.

Kelak Sang Salahlampah atau Sena atau Bratasena ini akan menjadi Raja Galuh dengan gelar Sang Senna Rajaputra Linggabhuwana menggantikan ayahnya, Mandiminyak. 

Sang Sena ini pula yang kelak memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang kelak menjadi pendiri kerajaan Medang Mataram Kuno pada tahun 732 M. Candi Prambanan adalah salah satu peninggalan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. 

Peta Bogor lama buatan VOC tahun 1701 yang masih memuat lokasi kerajan Pajajaran.

Skandal seks lainnya dalam kronik sejarah Sunda masih berlanjut di keturunan Sanjaya. Disebut bila setelah Sanjaya menjadi Raja Galuh dan Raja sunda, memilih ia berdomisili ibukota karajaan Sunda, di wilayah yang kita kenal sekarang sebagai Bogor. 

Sedangkan Galuh, tepatnya di wilayah yang kita kenal sebagai Kawali Ciamis, dikuasakan pada Prabu Permanadikusumah sebagai raja taklukan. Untuk mengawasi kinerja sang prabu, ditempatkanlah Raden Anom Barmawijaya atau Rahyang Tamperan yang berstatus sebagai duta patih atau wakil raja. 

Ternyata Barmawijaya ini tergoda pada Dewi Pangrenyep, istri kedua Prabu Permanadikusumah. Di suatu hari di saat Prabu Permanadikusumah sedang bertapa, Bramawijaya menggoda Dewi Pangrenyep hingga terjadi perzinahan.

Dari perzinahan itu lahirlah seorang bayi laki-laki yang bernama Raden Kamarasa atau Dang Arya Banga. Atau di dalam naskah Carita Parahiangan disebut sebagai Rahiyang Banga. 

Dalam tradisi lisan masyarakat Sunda Rahiyang Banga ini disebut sebagai Hariang Banga, Ia adalah tokoh antagonis yang bersebrangan dengan Sang Manarah atau dikenal sebagai Ciung Wanara atau Sang Surotama. Sang Manarah ini adalah kakaknya beda ibu, dari istri pertama Prabu Permanadikusumah yakni Dewi Naganingrum.

Tradisi lisan Ciung Wanara ini diperkirakan benar terjadi di abad ke-7 . Yakni perebutan kekuasaan antara kakak beradik, Hariang Banga melawan Ciung Wanara yang kemudian dimenangkan oleh Ciung Wanara.

Hariang Banga kemudian menjadi raja di Kerajaan Sunda, sedangkan Sang Manarah menjadi raja di Kerajaan Galuh. Kisah ini diperkirakan terjadi tahun 723 - 740 M.

XV. Tembey Sang Resi Guru ngayuga taraju Jawadipa, taraju ma inya Gulunggung, Jawa ma ti wĂŠtan.

Di pamana Sunda hana pandita sakti, ngaraniya Bagawat Sajalajala, pinejahan tanpa dosa. Mangjanma inya Sang Manarah, anak Rahiyang Tamperan, dwa sapilanceukan denung Rahiyang Banga.

Sang Manarah males hutang; Rahiyang Tamperan sinikep deneng anaknira. Ku Sang Manarah dipanjara wesi na Rahiyang Tamperan. Datang Rahiyang Banga, ceurik, teher mawakeun sekul kana panjara wesi, kanyahoan ku Sang Manarah. Tuluy diprangrang deung Rahiyang Banga. Keuna mukana Rahiyang Banga ku Sang Manarah.

Ti inya Sang Manarah adeg ratu di Jawa pawwatan.

CarĂŠk Jawana, Rahiyang Tamperan lawasniya adeg ratu tujuh tahun, kena twah siya bogoh ngarusak nu ditapa, mana siya hanteu heubeul adeg ratu.

Sang Manarah, lawasniya adeg ratu dalapanpuluh tahun, kena rampĂŠs na agama. Sang Manisri lawas adeg ratu geneppuluh tahun, kena isis di Sanghiyang Siksa. Sang Tariwulan lawasniya ratu tujuh tahun. Sang Welengan lawasniya ratu tujuh tahun.

Mimiti Sang Resi Guru ngawangun kuta pulo Jawa, kutana tĂŠh nya ĂŠta Galunggung, ti wĂŠtana Jawa.

Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipatĂŠni tanpa dosa, ngaranna Bagawat Sajalajala. Atma pandita tĂŠh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga.

Sang Manarah males pati. Rahiang Tamperan ditangkep ku anakna, ku Sang Manarah. Dipanjara beusi Rahiang Tamperan tĂŠh.

Rahiang Banga datang bari ceurik, sarta mawa sangu kana panjara beusi tĂŠa. Kanyahoan ku Sang Manarah, tuluy gelut jeung Rahiang Banga. Keuna beungeutna Rahiang Banga ku Sang Manarah.

Ti dinya Sang Manarah ngadeg ratu di Jawa, mangrupa persembahan.

Nurutkeun carita Jawa, Rahiang Tamperan lilana ngadeg raja tujuh taun, lantaran polahna resep ngarusak nu tapa, mana teu lana nyekel kakawasaanana ogĂŠ.

Sang Manarah, lilana jadi ratu dalapanpuluh taun, lantaran tabĂŠatna hadĂŠ. Sang Manisri lilana jadi ratu genep puluh taun, lantaran pengkuh ngagem Sanghiang Siksa. Sang Tariwulan lawasna jadi ratu tujuh taun.Sang Welengan lawasna jadi ratu tujuh taun.

Tidak hanya itu, skandal juga membuat Raja Galuh jatuh dari kekuasaannya. Raja Galuh yang disebut dalam bagian ke-18 naskah Carita Parahiangan hanya berkuasa 7 tahun saja karena mencintai istri larangan.

XVIII. Tohaan di Galuh, inya nu surup di Gunungtiga. Lawasniya ratu tujuh tahun, kena salah twah bogoh ka ĂŠstri larangan ti kaluaran.

Diganti ku Tohaan Galuh, enya ĂŠta nu hilang di Gunungtiga. Lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran salah tindak bogoh ka awĂŠwĂŠ larangan ti kaluaran.

Kalau disesuaikan dengan tafsir Abduracman dkk yang berdasar Wangsakerta, bila Tohaan di Galuh yang dimaksud sepertinya adalah Prabu Dewa Niskala. "Pada tahun 1404 Saka (1482/1483 Masehi) Kerajaan Galuh berkabung. Raja Galuh Prabhu Dewa Niskala meninggal dunia, setelah berkuasa selama 7 tahun," tulisnya. 

***

Selain itu, masih ada lagi skandal cinta yang terjadi. Kali ini adalah antara Prabu Geusan Ulun, yang memerintah Sumedang selama 23 tahun dari 1578-1601 M, dengan Ratu Harisbaya. Prabu Geusan Ulun pada saat itu sudah memiliki prameswari yakni Nyi Mas Cukang Gedeng Waru. Sedangkan Harisbaya adalah istri ke dua Sultan Cirebon, Panembahan Ratu 1.

Sebelumnya di masa mudanya,  Geusan Ulun atau Pangeran Angkawijaya pernah menjalin hubungan dengan Harisbaya. Yakni saat mereka masih belajar di Kerajaan Pajang menjadi Murid Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Harisbaya adalah putri Madura yang mengabdikan diri dan magang di Kerajaan Pajang.

Usai sebuah pertemuan di Cirebon, Geusan Ulun melarikan Harisbaya yang saat itu sedang hamil muda. Akibatnya terjadi peperangan antara Kerajaan Sumedang Larang dan Kasultanan Cirebon. Perang tersebut berlangsung selama tiga tahun dan baru berhenti setelah adanya ikrar perdamaian. Sumedang Larang akhirnya menyerahkan sebagian wilayahnya, yakni Sindangkasih Majalengka, untuk 'membeli' talak dari Panembahan Ratu 1 untuk Ratu Harisbaya. 

Ricky N. Sastramihardja

📷 Ilustrasi Bing AI Generated, Peta  Cornelis Coops & Michiel Rams/VOC. 1701. Natioonal-Archief

Referensi: 

1. Naskah Carita Parahyangan. Dedi Kusmayadi Soerialaga. Academia.edu, diakses 3 Januari 2025. https://www.academia.edu/45578452/NASKAH_CARITA_PARAHYANGAN

2. CARITA PARAHIANGAN Ringkasan, Konteks Sejarah Isi Naskah dan Peta. Abdurrachman, Eti RS, Edi S. Ekadjati. Yayasan Pembangunan Jawa Barat Tim Pengembangan Naskah Wangsakerta. 1990. Versi digital, diakses 4 Januari 2025. https://sundadigi.com/bacaan/detail/125

3. Perbedaan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Verelladevanka Adrymartanino, Tri Indriawati. Kompas.com, 22 Februari 2023. Diakses 6 Januari 2025. https://www.kompas.com/stori/read/2023/02/22/180000979/perbedaan-wangsa-sanjaya-dan-wangsa-syailendra

4. Kisah Prabu Geusan Ulun, Pesonanya Membuat Ratu Harisbaya Rela Mati dan Tinggalkan Takhta. Anicolha. SINDONews, 24 Juni 2022. Diakses 6 Januari 2025. https://daerah.sindonews.com/read/806981/29/kisah-prabu-geusan-ulun-pesonanya-membuat-ratu-harisbaya-rela-mati-dan-tinggalkan-takhta-1655993198

5. Sejarah Singkat Raja Sumedang Larang Prabu Geusan Ulun. Sabtu, 7 Mei 2011. TarungNews, diakses 6 Januari 2025. https://www.tarungnews.com/profile/2497/sejarah-singkat-raja-sumedang-larang-prabu-geusan-ulun.html

6. KISAH CINTA SEGITIGA, Ratu Maha Cantik Harisbaya, Panembahan Ratu dan Geusan Ulun. Rahman Prayitno Sodikin/Portal Majalengka, 26 Mei 2024. Diakses 6 Januari 2025. https://portalmajalengka.pikiran-rakyat.com/khazanah/pr-838133689/kisah-cinta-segitiga-ratu-maha-cantik-harisbaya-panembahan-ratu-dan-geusan-ulun?page=all

Jumat, Januari 03, 2025

BUKIT TUNGGUL ATAU BEUTI TUNGGUL?


Urang Sunda menggunakan kata 'pasir' untuk merujuk ke bukit atau gunung kecil. Tetapi ada perkecualian pada Gunung Bukit Tunggul, Bandung Utara, Gunung Bukit Jarian, Jatinangor Sumedang, serta Gunung Bukit Cula Ciparay. Ke tiga gunung itu menggunakan kata bukit, bukan pasir yang notabene merupakan kata asli dalam basa Sunda. Di seluruh Tatar Sunda, diperkirakan hanya ada tiga gunung  yang menyandang nama bukit.

Urang Sunda menggunakan kata 'pasir' untuk membedakan bukit dengan gunung. Dalam kamus Sunda LBSS, pasir didefinikan sebagai 1. gunung leutik j. handap. 

Sedangkan Rigg mendefinikan Pasir sebagai: a hill, a ridge, something less than a mountain. This word seems to be derived from Pa, the usual prefix, and Sir, the noise made by wind passing over a hill, or past any obstacle. Pare pasir, upland paddy, such as is grown on Pasirs.

Dalam Peta Rupabumi Digital Indonesia  Lembar 1209-314 Lembang, Gunung Bukit Tunggul memiliki ketinggian 2.206 m dpl. Merupakan kawasan hutan montana dan sub montana yang juga memiliki kekayaan budaya berupa situs Babalongan. 

Punden berundak-undak di Situs Babalongan menjadi saksi bisu zaman megalitik. Selain itu Gunung Bukit Tunggul erat kaitannya dengan 'sasakala' Legenda Sangkuriang. Di mana Bukit Tunggul dalam cerita masyarakat Sunda dianggap sebagai tumpukan tunggul kayu yang dibuang Sangkuriang saat membangun danau raksasa untuk 'mahugi' merayu Dayang Sumbi.

Sedangkan Gunung Bukit Jarian berada di 'halaman' Universitas Padjadjaran Jatinangor. Dalam Peta Rupabumi Digital Indonesia 1:25.000 Lembar 1209-321 Cicalengka. Edisi I-2001 Bakorsutanal, tinggi Gunung Bukit Jarian adalah 1173 m dpl, sedikit lebih rendah dibanding Gunung Geulis yang tingginya mencapai 1281 m dpl. 

Adapun Gunung Bukit Cula Ciparay Kabupaten Bandung berada di 1.073 m dpl. Gunung Bukit Cula ini berhubungan erat dengan perjuangan dan pelarian Dipati Ukur dari kejaran pasukan Sultan Agung Mataram pada tahun 1628.

Gunung Bukit Jarian (1173 m dpl)  dari puncak Gunung Geulis (1281 m dpl).
September 2014.

Gunung Bukit Jarian sepertinya sama dengan Gunung Geulis. Mengutip dari denisugandi.com, gunung Geulis merupakan intrusi batuan beku, berwarna abu-abu gelap menandakan komposisi mineralnya andesitik. Dicirikan dengan tekstur porfiritik, struktur amigdaloidal dan mendaung mineral piroksen serta ampibhole. 

Dalam keterangan peta geologi Lembar Bandung (Silitonga, 2003), merupakan intrusi Andesit Gunung Geulis. Umurnya Oligosen (Suhada dkk., 2007), menerobos Anggota Batulempung Formasi Subang yang menjemari dengan Anggota Batupasir Formasi Subang. Di atasnya diendapkan secara tidak selaras Formasi Kaliwangu berumur Miosen Atas.

***

Kembali ke penggunaan kata bukit alih-alih kata pasir, membuat Jonathan Rigg  heran. Penyusun kamus Sunda- Inggris pada tahun 1862 itu menganggap bila kata bukit merupakan serapan dari bahasa Melayu dan itu mengherankannya karena lokasi dua bukit itu berada jauh di pedalaman bukan di pesisir.

Bukit, This word is properly Malay, and means a hill, not a mountain. It occurs in only two solitary instances in the Sunda districts, as applied to mountains, and these are the Bukit Tunggul and Bukit Jarian , two mountains in Bandong. Bukit Tunggul means „Stump Hill"; it is on the boundary line between the Pamanukan Estate and Sumedang. The tradition of the country says that here was felled the tree which was to form the Prahu which is supposed to still exist in the adjoining Tangkuban Prahu, which see. The Bukit Tunggul is a rather conical hill and bears a rude resemblance to the stump of a fallen tree. It is strange that these solitary instances of Bukit should occur in the interior of the Sunda districts, surrounded by otherwise purely Sunda names. Had it been on the coast , we might have imagined some ancient Malay colony settled near it. As it now is, it looks as if the Sunda people had hunted a name out of a foreign language to designate a mountain which it appeared to them anomalous to call a Gunung, with the word Tunggul = stump of a tree, affixed to it. Tulis Rigg dalam "A Dictionary of The Sunda Language of Java".

Anggota Batavian Society of Arts and Sciende itu menuliskan kebingungannya dalam kamus yang lebih mirip dengan ensiklopedi itu. Karena tidak hanya menjelaskan arti kata tetapi memberi sedikit penjelasan pada kata-kata tersebut.

Kebingungan itu juga menjalar pada khalayak di abad setelahnya. Sebut saja misalnya Almarhum Budi Brahmantyo yang di Kompasiana menulis bila nama Bukit Tunggul itu terasa aneh. Ia menemukan fakta bila pada peta-peta lama buatan Belanda sebelum tahun 1960 ditulis sebagai Gunung Bukittunggul (tanpa spasi).

"Jadi mana yang benar? Apakah Bukittunggul itu gunung atau bukit? Dilihat dari ketinggiannya yang mencapai 2209 m di atas permukaan laut rata-rata, jelaslah Bukittunggul merupakan sebuah gunung. Bandingkan dengan Tangkubanparahu 2084 m dpl. atau bahkan Manglayang 1717 m dpl. Keduanya mendapatkan awalan G di depannya, menunjukkan nama gunung," tulis Budi yang merupakan geologis, aktivis, juga Koordinator Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Budi akhirnya mendapat pencerahan bila ada kemungkinan Belanda salah menuliskan Bukit Tunggul. Bukan bukit tetapi seharusnya 'beuti' atau umbi. Beuti Tunggul. Dari salah seorang sahabatnya Budi mendapat keterangan melalui tulisan lama M. Purbohadidjojo berjudul “Disekitar Nama Gunung Tangkubanperahu,” halaman 23 – 26 dalam  Majalah Bahasa dan Budaja, tahun III No. 5 Djuni 1955.

"Menurut lit. 5 nama itu tadinja Beuti Tunggul (beuti=umbi), tetapi karena kesalahan pemetaan berubah mendjadi Bukit Tunggul. Lit. 5 pada daftar pustaka merujuk pada: PIJL, L.v.d. Wandelgids voor den Tangkoeban Prahoe, Bandoeng Vooruit, Serie no. 5.," tulis Purbohadidjojo dalam catatan kaki tulisannya yang dikutip Budi.

Pertanyaan kemudian adalah benarkah basa Sunda tidak mengenal kata bukit? Benarkah bukit itu serapan dari bahasa Melayu seperti yang diasumsikan Rigg?

***

Ternyata, Ameng layaran alias Bujangga Manik juga menggunakan kata /bukit/ alih-alih /pasir/. Dalam naskah kuno Bujangga Manik yang diperkirakan ditulis di akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15. Kata /bukit/ disebut sebanyak 34 kali misalnya di baris 63 (bukit Ageung), 77 (bukit C(e)remay) 696 (bukit Caru), 675 (bukit Timbun), dan seterusnya.

Menariknya lagi, Bujangga Manik atau Pangeran Jaya Pakuan menyebut bukit itu pada beberapa gunung yang sekarang disebut gunung: Bukit Ceremai, Bukit  Merapi, Bukit Cikuray, Bukit Patuha, Bukit Burangrang.

Sedangkan kata 'pasir' yang sekarang dikenal sebagai bukit, hanya disebutkan dua kali. Yakni di baris 1134 dan 1190 saat menyebut Pasir Batang. Nama Pasir Batang ini juga merupakan nama yang cukup umum di Jawa Barat. Bahkan dalam cerita rakyat Lutung Kasarung, Pasir Batang Anu Girang adalah nama kerajaan yang diperintah oleh Prabu Tapa Agung.

G. Boekit Toenggoel dan G. Bukit Djarian. Oldsmaponline.org

Soal penyebutan bukit alih-alih pasir oleh Bujangga Manik bisa saja karena Bujangga Manik terpengaruh oleh bahasa Melayu. Bujangga Manik tinggal di Pakancilan, di Pakuan yang sekarang dikenal berada di kawasan Bogor,  yang tentunya lebih dekat ke kawasan pesisir (Sunda Kelapa). Di mana memungkinkan Bujangga Manik untuk berinteraksi dengan etnis lain. 

Bujangga Manik sangat mungkin juga bisa berbahasa Melayu, seperti halnya urang Sunda sekarang yang menjadi poliglot. Bahkan bukan tidak mungkin ia juga bisa berbahasa Jawa dan Bali,  mengingat perjalanannya dari Pakuan hingga Bali.

Tetapi bila saat itu ia sudah berinteraksi dengan orang Melayu, menjadi menarik karena dalam naskahnya itu disebut Noorduyn tidak mengandung kata-kata dari bahasa Arab. Padahal di masa itu etnis Melayu dipercaya sudah menganut Islam dan mungkin sudah menyerap banyak kata dari bahasa Arab. Bisa jadi pada saat itu Islam belum masuk ke Tatar Sunda seperti asumsi Noorduyn. 

Walau untuk asumsi Noorduyn ini saya sedikit meragukan mengingat menurut Rokhmin Dahuri seperti dikutip dari historia.id, ada tokoh bernama Haji Purwa yang sudah berislam sejak tahun 1300an di Galuh. Namun pengaruh Hindu yang masih kuat pada masa itu membuat Haji Purwa belum bisa mengislamkan Galuh. Haji Purwa atau Bratalegawa atau Haji Baharuddin Al Jawi kemudian pindah dari Galuh ke Cirebon pada tahun 1337.

Sedangkan naskah Carita Parahiangan yang kemungkinan ditulis setelah Bujangga Manik, menyebut bila keruntuhan Kerajaan Pakuan Pajajaran salah satunya disebabkan karena banyaknya penduduk yang sudah memeluk Islam. Namun menurut Hendra M. Astari, tidak pernah ditemukan jejak peninggalan Islam di kawasan Pakuan Pajajaran walau disebut dalam Carita Parahiangan. 

Bisa jadi bukan Islam yang belum masuk ke Tatar Sunda, tetapi belum masuk ke istana Galuh Pakuan. Mengingat pada masa itu agama Hindu yang dianut Bujangga Manik adalah agama resmi kerajaan. Sedangkan di luar istana, masyarakat dibebaskan memeluk agama apa saja, termasuk Islam.

Tapi tentu saja asumsi-asumsi itu perlu diteliti lebih lanjut, baik oleh para sejarawan, maupun filolog. Sejatinya tulisan ini hanya ingin mengungkap bila sebetulnya urang Sunda juga mengenal kata bukit seperti yang terdapat dalam naskah Bujangga Manik.

 Jadi bisa saja memang nama Bukit Tunggul itu ya Bukit Tunggul, bukan Beuti Tunggul seperti yang dijelaskan oleh Budi Brahmantyo berdasar catatan kaki M. Purbohadidjojo.

Tapi bisa jadi Purbohadidjojo yang betul, yang benar adalah Beuti Tunggul mengingat kecurigaan Rigg juga beralasan dan senada dengan temuan Purbohadidjojo. 

Jadi mau Bukit Tunggul atau Beuti Tunggul? Bukit Jarian atau Pasir Jarian? Bukit Cula atau Pasir Cula?

Ricky N. Sastramihardja

📷 PeakFinder App for Android. 25 Desember 2024.

Referensi:

1. A Dictionary of Sunda Language of Java. Jonathan Rigg, Lange & Co, Batavia, 1862, PDF.

2. Kamus Umum Basa Sunda. LBSS. Geger Sunten Bandung, Citakan ka sapuluh, Oktober 2007.

3. Peta Rupabumi Digital Indonesia 1:25.000 Lembar 1209-321 Cicalengka. Edisi I-2001 Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional/Bakorsutanal.

4. Peta Rupabumi Digital Indonesia 1:25.000 Lembar 1209-314 Lembang. Edisi I-2001 Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional/Bakorsutanal.

5. Muslim Pertama Tatar Sunda. M. Fazil Pamungkas. Historia.id, 27 Juli 2019. Diakses 3 Januari 2025. https://historia.id/agama/articles/muslim-pertama-di-tatar-sunda-DLBBQ/page/1

6. Sejarah Penyebaran Islam di Tatar Sunda: dari Cirebon ke Bogor, hingga Kiprah Pangeran Sake. mui-bogor.org, 1 Oktober 2024. Diakses 3 Januari 2025. https://mui-bogor.org/index.php/berita/sejarah-penyebaran-islam-di-tatar-sunda-dari-cirebon-ke-bogor-hingga-kiprah-pangeran-sake/

7. Bujangga Manik dan Studi Sunda, Hawe Setiawan. Makalah Pdf dari http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/HAWE_SETIAWAN/makalah/Bujangga_Manik.pdf. Diakses 3 Januari 2025.

8. Aspek Kebudayaan Dalam Toponimi pada Naskah Bujangga Manik: Kajian Linguistik Antropologi. Salehudin Salehudin, Gugun Gunardi. Metahumaniora April 2022. Diakses 3 Januari 2025. https://www.researchgate.net/publication/367599580_Aspek_Kebudayaan_Dalam_Toponimi_pada_Naskah_Bujangga_Manik_Kajian_Linguistik_Antropologi

9. Beutitunggul: Teka-Teki Toponim Bukittunggul. Budi Brahmantyo, Kompasiana.com 9 Juni 2015. Diakses 3 Januari 2025.

https://www.kompasiana.com/bbrahmantyo/559e27e4d17e61f7060ef000/beutitunggul-teka-teki-toponim-bukittunggul

10. Bujangga Manik (naskah). Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Bujangga_Manik_(naskah)

11. Gunung Bukit Tunggul Mengungkap Pesona dan Sejarahnya. Shelterjelajah.com, 4 Juni 2024. Diakses  3 Januari 2025.

https://shelterjelajah.com/gunung-bukit-tunggul-mengungkap-pesona-dan-sejarahnya/

12. Tabir Lawang Kori dan Curug Buhud Tanjungmedar. Deni Sugandi, www.denisugandi.com. 30 Desember 2024. Diakses 3 Januari 2025. 

https://blog.denisugandi.com/tabir-lawang-kori-dan-curug-buhud-tanjungmedar/

13. Bukit Jarian. SumedangTandang.com. Diakses 3 Januari 2025. https://sumedangtandang.com/direktori/detail/bukit-jarian.htm#:~:text=Bukit%20Jarian%20merupakan%20sebuah%20bukit%20yang%20berada%20di,rangkaian%20perbukitan%20yang%20berada%20di%20deretan%20Gunung%20Geulis.

14. West Java, uit: Atlas van Nederlandsch Oost-IndiĂŤ / samengest. door Topographisch Bureau te Batavia van 1897-1904.Topographisch Bureau, Batavia.1898. Diakses 3 Januari 2025. https://www.oldmapsonline.org/en/maps/867a8945-d4f6-48fc-841b-52090111e946?gid=0cfae186-ff91-4160-bd74-946d487e2df5#position=9.4764/-6.7838/107.7208&year=1898

PERSIB (HARUS) HANCURKAN MITOS PARUH MUSIM!


Menyisakan satu pertandingan tunda melawan Bali United, Persib Bandung mengunci juara paruh musim Liga 1 musim 2024-2025 ini. Tambahan tiga angka dari Solo setelah menumbangkan tuan rumah Persis Solo pada 29 Desember 2024, membuat Persib menyalip posisi Persebaya Surabaya yang berpekan-pekan sebelumnya berada di puncak klasemen. Persib mengantungi 38 angka dari 16 pertandingan dan menyisakan 1 pertandingan tunda pada tanggal 7 Januari 2025 mendatang.

Menariknya, tidak semua Bobotoh riang dengan raihan juara paruh musim ini. Mereka umumnya Bobotoh senior yang mengalami pedasnya kenyataan di paruh ke dua kompetisi, Persib justru melempem. Padahal sebelumnya menjuarai putaran satu. Sebut saja musim 2006-2007 saat dibesut oleh Arcan Iurie. Begitu juga saat dilatih oleh Mario Gomez di musim 2017-2018.

Mitos yang beredar adalah karena berdasar data siapapun yang menjuarai paruh musim, biasanya melempem di putaran ke-2.Sebut saja yang terdekat, Borneo FC yang menjuarai paruh musim 2023/2024 namun di babak Championship malah melempem dan berakhir di peringkat 3. Begitu juga Bhayangkara FC yang menjuarai paruh musim 2020/2021. Selain melempem di paruh ke-2, tim 'siluman' tersebut kemudian terlempar ke Liga 2 di musim 2023/2024.

* * *

Ada catatan menarik soal juara paruh musim yang kemudian menjadi juara Liga 1. Sebut saja Bali United di musim 2019/2020, juga PSM Makassar di musim 2022/2023. Artinya siapapun yang menjadi juara paruh musim tetap berpeluang menjadi juara liga. Mitos juara paruh musim tidak akan menjadi juara liga, sudah batal dengan torehan Bali United dan PSM Makassar.

Tinggal bagaimana Persib mengelola tim saja di paruh ke-2 kompetisi. Pelajaran dari musim 2006/2007 adalah hati-hati melakukan transfer pemain masuk dan ke luar. Di masa itu Persib malah mendatangkan pemain yang pada putaran ke-2 justru tidak berkontribusi apapun. Sedangkan pemain yang berpengaruh, malah dipinjamkan ke klub lain.

"Mengawali persiapan putaran dua musim 2006, Arcan Iurie sedikit merombak kekuatan Persib Bandung dengan mendatangkan pemain asing berposisi gelandang serang asal Rumania, Leo Chitescu.

Kehadiran Chitescu membuat Persib harus melepas satu pemain asing karena melebihi kuota. Iurie pun meminjamkan pemain bertahan asal Kamerun, Nyeck Nyobe ke Persela Lamongan.

Dengan hadirnya Chitescu, harapannya bisa mendongkrak ketajaman Persib yang sedang memimpin klasemen sementara Liga Indonesia 2007.

Sayang kehadiran Chitescu bukan membuat Persib semakin kukuh. Sebaliknya, Zaenal Arif dkk. justru malah terseok-seok. Harapan untuk menjadi juarapun semakin buyar. Terlebih para bobotoh makin menunjukkan kekecewaanya.

Hilangnya Nyeck, yang diplot sebagai bek tengah bersama Patricio Jimenez, justru membuat lini pertahanan tidak setangguh seperti putaran pertama." demikian tulis Erwin Snaz di Bola.com, 16 Mei 2020. (https://www.bola.com/indonesia/read/4255250/kisah-arcan-iurie-bersama-persib-sempat-melesat-dan-terpuruk-kemudian)

Di musim 2017/2018, Persib gagal meraih juara walau menjadi juara paruh musim. Hal ini ditengarai oleh merosotnya permainan Persib di putaran ke-2 yang dilakukan di luar kandang sebagai imbas kejadian tewasnya seorang suporter Persija di GBLA. Sampai akhir musim Persib harus menjadi musafir jauh dari publiknya yang sepertinya membuat mental pemain jatuh. Belum lagi dicurigai kemungkinan Mario Gomez pada saat itu tidak memaksimalkan pasukannya akibat ada permintaannya tidak dipenuhi manajemen. Terbukti, Gomez tidak diperpanjang kontraknya dan musim berikutnya diganti Robert Rene Alberts.

Tentu saja besar harapan Bobotoh bila Persib bisa mematahkan, bahkan menghancurkan mitos sesat itu. Apalagi Persib di 2024/2025 ini belum terkalahkan atau unbeaten selama 16 pertandingan putaran 1. Bobotoh berharap Persib back to back kembali menjuarai kompetisi liga musim 2024/2025 ini. Karena bila Persib juara lagi, maka ada mitos lain yang ikut hancur: Persib hanya bisa juara bila menggunakan format turnamen di akhir liga seperti musim 2013/2014, atau 2023/2024.

Hayu Sib, bisa. Hancurkan mitos dan kembali juara back to back!

Ricky N. Sastramihardja

📷 IG Persib


Kamis, Desember 26, 2024

CATATAN DARI PASIR GUHA WALET CIHEA


Panas! Hal itu sangat terasa saat menyusuri jalan mencari Guha Walet yang menjadi destinasi ke dua dalam Geo Urban ke-25, Ahad 22 Desember 2024 kemarin.

Berjalan di tengah hari di perbukitan karst Rajamandala yang terletak di Cihea, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat membuat mood merosot drastis. Saat dicek di altimeter, ketinggiannya sekitar 400 m dpl.

Lebih rendah dari Bandung yang berada di ketinggian 700 m dpl. 

Selain cuaca panas, hawa sekitar juga panas. Mungkin karena berada di kawasan kapur yang pada jaman dahulu kala merupakan lautan. Sepaket dengan Karst Citatah di Kabupaten Bandung Barat  yang menjadi tetangganya.



Apalagi Habib Deni mendadak mengubah destinasi, dari tujuan caving ke gua Walet, diubah menjadi mencari puncak bukit yang ternyata tidak ada jalurnya alias harus mencari jalur sendiri. Padahal saya mendadak sudah membeli helm yang menjadi syarat untuk melakukan kegiatan di dalam gua (speologi/caving).

Sempat salah jalan ke sisi lain tebing yang sama sekali tidak ada jalan setapak menuju gua apalagi puncak. Kecuali mau membuat jalur pemanjatan melewati tebing yang berdiri 90°, yang tentu saja memerlukan skill dan peralatan khusus. 



Beruntung bertemu Bah Ahim, warga setempat yang hendak ke kampung sebelah. 'Dibajak' oleh Habib Deni untuk mengantarkan ke puncak.

Lelaki yang berusia lebih dari 65 tahun itu dengan sigap membawa sebagian kecil rombongan. Termasuk di dalamnya ibu Vin, salah seorang peserta GeoUrban yang juga pelari Bandung Explorer. 

Wanita yang usianya sebaya Abah Ahim itu memang batere alkaline. Ngabret terus, enggak ada habis-habisnya. Saat di Gunung Sangar sepekan sebelumnya, beliau sendiri yang mencapai puncak Mega dari Puncak Sangar dan lalu bertemu di pos 3 saat pulang.



Hanya beberapa orang yang mencapai puncak Guha Walet di ketinggian sekitar 737 m dpl (Peta RBI 1999). Saya, Zarin dan Mang Odik memilih dikerubungi nyamuk di rumpun kebun pisang di lereng di ketinggian sekitar 500 m dpl. Sebagian lainnya balik ke kanan kembali ke titik awal pemberangkatan.

Puncak Guha Walet memang tidak tinggi, lebih cocok disebut pasir atau bukit. Tetapi ia bisa mematahkan semangat, nyali dan motivasi untuk mencapai puncaknya. Selain hawa panas, juga pada siang itu tidak ada angin bertiup sama sekali.


Bahkan hingga di puncak, menurut Mang Andi Layau,  "Euweuh angin-angin acan di luhur gĂŠ," katanya. Mang Andi, Bu Vin, Mang Deni, Adira, Baros, Mang Deden, Mang Askur dan Abah Ahim lah yang bisa mencapai puncak tinggi di Cihea itu. Mereka berhasil mengalahkan rasa malas dan udara panas yang membuat keringat deras mengucur tak berhenti.

GeoUrban ke-25 Ahad 22 Desember 2024 kemarin sebelum ke Cihea, adalah mengupas seulas soal Karst Citatah. Bertempat di Tebing 125 bersamaaan dengan kegiatan bersama antara APGI (Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia) juga PGWI (Pemandu geo Wisata Indonesia).

Ricky N. Sastramihardja

📷 Deni Sugandi, Ibu Vin
🎥 Andi Lala

Minggu, Desember 15, 2024

BENDA YANG HARUS DIBAWA SAAT TEKTOKAN


Mendaki gunung atau menjelajah kawasan hutan pergi pulang dalam satu hari kini dikenal sebagai tektokan. Entah dari mana istilah itu, tapi kata tektok cukup berima: tek dan tok.

Tapi  kita abaikan saja asal kata tektok. Tapi jelas bukan dari kata Tiktok. Lebih ingin bercerita apa yang harus dibawa saat tektokan. Lengkap dengan alasannya.

Disclaimer: tentu saja ini preferensi pribadi berdasar pengalaman dan kebutuhan. Setiap orang tentu memiliki kebutuhan berbeda.

1. Senter/headlamp. Benda ini sering diabaikan dengan alasan "ah sebentar aja kok, bakal udah nyampe lagi kok sebelum gelap". Padahal yang namanya aktivitas luar ruang, selalu ada resiko terlambat keluar hutan atau turun gunung sebelum gelap. 

2. Pisau lipat multifungsi.

3. Gunting kuku. Seringkali enggak sadar kalau kuku kaki sudah terlampau panjang hingga baru terasa mengganggu saat dipakai jalan kaki.

4. Peluit. Lebih menghemat tenaga daripada berteriak saat ada kejadian atau peristiwa yang berbahaya dan membutuhkan perhatian. Lebih nyaring juga lebih jauh frekuensi jangkauannya.

5. Pisau belati/bowie. 

6. Tali pita/webbing atau tali berjaket/kernmantel atau tali statik. 5 atau 10 meter, selalu berguna dalam banyak kesempatan. Rapia juga boleh. Bawa secukupnya.

7. Jas hujan sekali pakai atau disposable atau goresek. Bawa dua sekaligus. Lebih ringan daripada membawa raincoat, dan menghemat ruang di daypack.

8. Termos kecil untuk kopi/air panas (bila tidak membawa kompor lapangan).

9. Botol air 600 ml.

10. Water bladder 2 l.

11. Sunglasses

12. P3K dengan obat luka, plester/band aid, panadol, polysilene, juga  perban gulung elastis/elastic bandage.

13. Survival water filter straw.

14. Survival blanket.

15. Garam himalaya. Berguna untuk meredakan kram karena tubuh mengeluarkan natrium lebih banyak melalui keringat saat berkegiatan luar ruang berjam-jam.

16. Korek api gas. Di kondisi survival, api lebih dibutuhkan daripada kuota internet.

17. Power bank dan kabel.

18. Makanan ringan, permen, dan makanan berat.

19. Trekking pole.

20. Notes dan Alat tulis.

21. Topi dan bandana.

22. Keresek untuk membawa sampah kembali pulang ke peradaban.

23. Semuanya dikemas di running vest 10 lt. Bila tidak muat, bisa membawa tambahan daypack kecil 10 l atau tas pinggang 10 liter. Bisa juga dikemas di daypack 30 liter biar lebih ringkas. Bila masih muat bisa ditambahkan flysheet, tripod kecil, gimbal untuk ponsel.

24. Jangan lupa untuk mengunduh peta google offline sesuai kawasan yang dituju di ponsel kita. Tambahkan juga aplikasi Peakfinder (berbayar) dan Mapy.cz (ad ware). Aplikasi-aplikasi itu bisa digunakan tanpa sambungan internet.

Ricky N. Sastramihardja

📷 Mang Umar




GUNUNG SANGAR: SESANGAR NAMANYA DI MUSIM HUJAN


Jangan menilai buku dari sampulnya. Demikian sebuah pepatah lama yang sepertinya disadur utuh dari pepatah dalam bahasa Inggris: don't judge the book by it's cover.

Begitu juga saat mendaki gunung. Jangan pernah menilai tingkat kesulitan dari tinggi rendahnya sebuah gunung. Atau bukit (basa Sunda: Pasir). Akan cukup 'menyesatkan' menilai dan mengkategorikan 'gunung untuk pemula' bagi gunung yang tingginya kurang dari 2000 m dpl.

Seperti halnya menilai Gunung Sangar yang terletak di Bandung Selatan. Gunung yang saat ini populer didaki berbagai kalangan terutama remaja dan muda usia karena aksesnya mudah dan tingginya 'hanya' 1690 mdpl (1655 m dpl di altimeter berbasis GPS, 1660 m dpl di peta aplikasi Mapy CZ yang berbasis pada peta Rupa Bumi Indonesia/RBI).



Pada pendakian kemarin, Sabtu 14 Desember 2024, cuaca buruk di kawasan Arjasari Kabupaten Bandung, tidak menyurutkan ratusan pendaki pemula maupun bangkotan untuk mendaki gunung Sangar yang sering dianggap 'ramah pemula'. 

Diperhatikan, sedikit sekali mereka menggunakan sepatu hiking, umumnya sepatu running atau sneaker casual. Padahal jalur mulai pos 1 hingga puncak licin parah. Bahkan tidak sedikit yang memakai sendal tali atau sendal jepit.

Jalur pendakian Gunung Sangar memang tidak terlalu terjal, cenderung landai. Bagi yang pernah mendaki Gunung Manglayang di timur Bandung (1818 m dpl), tentu akan tahu bedanya.

Tetapi guyuran hujan membuat jalur landai itu menjadi berbahaya. Tepat di depan mata, seorang ibu terlontar nyaris masuk jurang saat terpeleset. Beruntung sebagian tubuhnya tertahan semak di pinggiran jurang, dan kakinya dipegangi seorang pendaki lain yang masih satu rombongan.

Saat diperhatikan: memakai sneaker running/kasual dengan outsole datar tak bergerigi.



Menjelang puncak, seorang gadis remaja terpaksa harus melepas sepatunya yang jebol. Ngeri rasanya berjalan mendaki dan turun gunung tanpa alas kaki. Selain lebih licin, bebatuan yang tajam, akar serta batang pohon bisa melukai kaki.

Di saat turun, di pos 3 dua orang pendaki senior/master bercerita bila ia terhambat ke puncak karena harus mengevakuasi dulu seorang remaja usia SMP yang patah tangan akibat jatuh terpeleset saat turun dari puncak di antara pos 3 dan pos 2 /tanjakan Ebel.

Itulah beberapa kisah yang seharusnya membuat kita berfikir untuk tidak meremehkan gunung yang tidak terlalu tinggi. Apalagi di waktu musim hujan dengan cuaca buruk yang membuat jalur menjadi sangat licin.

Dari pos pendakian, jalur menuju ke puncak hanya sekitar 2,5 km dengan elevation gain/penambahan ketinggian ±500 m tapi membutuhkan waktu sekitar 2 jam 30 menit. Hal ini disebabkan antrian di beberapa ruas yang licin akibat banyak pendaki yang kesulitan melangkah. 

Bisa dibayangkan jalan setapak yang baru diguyur air hujan kemudian diinjak ratusan pasang kaki. Licin dan berbahaya saat menanjak atau menurun. Bahkan untuk mereka yang menggunakan sepatu hiking atau trail running dengan outsole bergerigi.

Jadi, memang jangan mengganggap enteng sebuah gunung hanya karena ketinggiannya. Cuaca bisa mengubah segalanya. Terlebih  tidak menggunakan sepatu khusus yang lebih layak, tidak berdoa dan melakukan pemanasan/stretching sebelum pendakian.

Ricky N. Sastramihardja

Tim: Mang Deni, Mang Yana Martin May, Mang Umar, Kang Nanang APGI